Home COMMERCIAL ART Iklan Headphone JBL: Ruang Karakter Negatif yang Menggelitik

Iklan Headphone JBL: Ruang Karakter Negatif yang Menggelitik

0
Iklan Headphone JBL versi Pemimpin Dunia | IST
Iklan Headphone JBL versi Pemimpin Dunia | IST

SENI.CO.ID – Secara umum iklan ada dua jenis. Iklan vulgar jualan (hard selling) dan iklan yang secara halus mempengaruhi atau mendatangkan simpati (soft selling). Namun sebagai sebuah seni untuk tujuan komersil (commercial art), pada dasarnya sebuah iklan itu dibuat untuk memberikan target keuntungan. Keuntungan yang tentunya akan dituai oleh sang pengiklan dari target audiens yang dibidik. Iklan hard selling jelas-jelas ditujukan untuk audiens yang nyata-nyata ikhlas menjadi targetnya. Sedangkan iklan soft selling biasanya ditujukan untuk audiens yang tak rela begitu saja untuk dijadikan sasaran bidik iklan tersebut. Dus, iklan soft selling selalu diupayakan untuk disajikan sehalus mungkin agar tak begitu terasa sebagai iklan, dikemas sekreatif mungkin sehingga sang target tertarik, tergelitik, terpancing, terpesona, terpukau, dan terpikat olehnya tanpa merasa dipaksa.

Agar menarik dan diterima itulah maka para kreator iklan selalu mencari insight dari target audiens yang disasar sehingga bisa disukai dan mengena di benak mereka. Segala fenomena yang bisa dieksplorasi akan diberdayakan semaksimal mungkin. Baik fenomena positif maupun negatif, semuanya bisa diulik untuk memberikan segala manfaat yang diinginkan.

Iklan Headphone JBL versi Istri dan Mertua | IST
Iklan Headphone JBL versi Istri dan Mertua | IST

Iklan headphone JBL inilah salah satunya. Iklan ini mampu tampil fantastis dengan mengeksplorasi ruang negatif dari dua kutub karakter manusia yang berseteru. Iklan ini memberdayakan berbagai bentuk konflik seru yang umumnya banyak terjadi di masyarakat. Meskipun itu masih bisa dibantah pada beberapa kasus yang spesial. Misalnya perseteruan yang umum terjadi antara seorang istri dan ibu mertua, antara pelatih sebuah tim sepakbola dengan pelatih lawannya, bahkan perseteruan mencolok antara pemimpin negara yang kontroversial.

JBL mengeksplorasi fenomena perseteruan tersebut sebagai sumber keberisikan yang sangat mengganggu, dan headphone JBL dengan berbagai keunggulannya mampu hadir sebagai solusi untuk meminimalisir bahkan menghilangkan keberisikan tersebut dibawah tagline “Noise Canceling Headphone”.

Melalui kreativitas desain grafis yang berkelas, JBL bisa menampilkan konsep “Noise Canceling Headphone” tersebut dengan menarik, unik dan artistik. Tak ada visual vugar tentang headphone di telinga. Melainkan sekedar permainan visual yang menampilkan dua sosok orang yang berseteru, yang berteriak di kiri kanan telingga pengguna headphone JBL tersebut. Melalui kreativitas desain grafis yang cukup natural, ruang sela antara mulut orang-orang yang berseteru tersebut mampu membentuk visual tersamar headphone yang dikenakan. Keren. Iklan ini tidak tampil dengan vulgar tapi akan cukup menggelitik bagi pemirsanya untuk berhenti, melihat lebih lama dan meluangkan waktu untuk mencoba memahami pesan yang ingin disampaikan.

Iklan Headphone JBL versi Pelatih Bola | IST
Iklan Headphone JBL versi Pelatih Bola | IST

Tak bisa dipungkiri, iklan headphone JBL ini mampu menggoda kita untuk berusaha mencernanya. Itu cukuplah? Boleh jadi akan ada pertanyaan lanjutan lainnya. Apakah headphone JBL ini sekedar berfungsi sebagai peredam kebisingan semata? Bagaimana dengan kualitas audionya, stereonya, akustiknya dan pertanyaan pelengkap tentang kualitas sebuah headphone pada umumnya. Ah… sudahlah. Itu bukan lagi tugas iklan ini untuk menjelaskannya. Mungkin jawaban pertanyaan pelengkap tersebut bisa dicari di brosur informasi headphone JBL ini, sales di toko-tokonya, atau website dan sosial media yang melengkapinya.

Bahkan jika diotak-atik, iklan headphone JBL ini sepertinya cukup cocok untuk diadaptasi khusus bagi target audiens di Indonesia saat ini. Khususnya di tengah kebisingan suasana tahun politik yang tengah terjadi sekarang. Misalnya mengeksplorasi sosok-sosok capres yang tengah berkontestasi, mengeksplorasi perseteruan kadrun dan cebong yang tak pernah lelah berdebat, perseteruan antar tokoh-tokoh politik dan lain sebagainya. Nah, semua itu tentunya tergantung pada kreator kreatif iklan headphone JBL itu sendiri. Monggo kalau berani. Tabik.

*) Wahyu Ari Wicaksono, Penonton Iklan

Sponsor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here