Home Bahasa PUISI-PUISI LIMA PENYAIR YANG BERGELORA

PUISI-PUISI LIMA PENYAIR YANG BERGELORA

0
SENI.CO.ID — Pekan ini Redaksi Seni menurunkan 5 penyair dan masing-masing ada  satu puisi terpilih. Puisi yang diangkat dari perjalanan kehidupan yang luar biasa, pesan dan simbolis 5 puisi mensyiratkan karya penyair merespon kehidupan ruang, dan waktunya. Imajinasi yang penuh gelora.  Menyampaikan pesan penuh makna dan semua dengan kerangka yang tidak sederhana namun disikapi dengan pengalaman pengembaraannya. Selamat menyimak….

        — redaksi

1.
IMAN SEMBADA
AKU TULIS PESAN KEPADAMU
Secangkir kopi melewati malam dingin
Kutanggung sendiri kesunyian-kesunyian
Yang terlepas dari jendela apartemen
Pada secangkir kopi aku menghidu
Papua, Sulawesi, Jawa dan Sumatera
Sambil menikmati jaringan wifi
Aku tulis pesan kepadamu malam ini:
Orang-orang berjalan tanpa proposal
Janji-janji politik dan omong kosong
Telah menjadi sampah di trotoar
Apakah kau merasakan kesunyianku
Saat pundi-pundi menggelembungkan
Rekeningmu? Malam tanpa jeda keroncongan
Di perutku. Besok pagi aku harus membalik
Tanah dan bertukar nasib dengan cerita lain
Jalanan, 2023

 

2.
ILHAM WAHYUDI
SURAM
Tak ada yang berani mendekat
Pun teramat ragu memutuskan jauh
Semacam usaha acuh tak acuh
Apalagi meriah membuka tabir
Sehingga terus menerus mengamati
Dari suluh nan kering darah
Bintik cahayanya sepuh menyembur
Sebagaimana mata gadis belia
Terputus tali jalinan kepayang
Ia laksana jalan buntu
Meski tiada peta mengabarkan
Usahanya sebenar tandas
Risiko sifatnya yang mudah layas
Lantas, iktikad apa Tuan terangkan
Bila ia senyata tepikan uras;
Yang jelas sudah buta kirana
Akasia 11CT
3.
FAUSTINA HANNA KUSUMAJAYA
PULAU MISTIK BERSISIK                                                                                        (interpretasi bebas atas lukisan abstrak Yuvenalis Raga Gening)
kau mengizinkan sebuah black hole dengan gravitasi liar bersarang
di lidahmu. maka ia leluasa memoles tinta hitam di sekeliling
kemungkinan bentuk yang masih belum tersusun lentur dari ucapan
dan janjimu.
liurmu fasih berjanji untuk membuat variasi mimpi tentang reinkarnasi
bagi logika, menebus kematian jiwa yang telanjur percaya. dan
mempersiapkan kurban silih bagi aura pelangi dari hati yang telah
terbuai lalu terisap oleh pusaran mautnya.
ada taman firdaus berdampingan dengan dunia baru di kedalaman
kecewa. namun celakanya ada racun ingkar bercampur pembelaan
dari ucapanmu yang masih dapat selamat dan membelah diri menjadi
lima tak beraturan.
bola mata cinta mendidih dari lawan bicaramu yang tak terdeteksi
kini bersaksi tentang kelahiran lima pulau. pulau mistik bersisik aneka
warna yang tiada mungkin dapat dihuni retorika magismu lagi. sebab
tuhan belum mencipta gradasi matahari, ledakan bintang dalam wujud
bunga-bunga api, pun pendar bulan bagi pelayaran kerinduan sepasang
adam dan hawa yang membisu di sana.
Juli 2022
4.
EDDY PRANATA PNP
BRAGA
Malam pecah perlahan. Kota Bandung berderak
Lampu-lampu menyala. Dari alun-alun melintas Jalan
Asia-Afrika nyaris tiada cinta. Hanya ada catatan kecil
Pidi Baiq yang tereja.
:”Dan Bandung bagiku bukan hanya masalah geografis,
lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku
ketika sunyi”
Riuh Braga. Namun sunyi jiwa. Angkringan Teteh. Suis Buchter.
Lukisan yang dipajang. Realis, surealis, ekspresionis, abstrak.
Nyaris tak ada lagi cinta. Hanya kenangan kecil segera terlupakan.
Dosa? Mata itu basah
: “Perpisahan selalu menumbuhkan luka!”
Braga sembunyikan seluruh sajakku. Ngilu.
Tak ada artinya lagi rindu. Juga dendang kecil. Juga peluk. Hanya
bayangan hitam.
; “Apa artinya dosa? Cinta tanpa ikatan. Atau
pengkhianatan pada sebuah kesetiaan?”
Di sepanjang Braga hanya jiwa kosong.
Hanya geriap cahaya. Tanpa keindahan.
: “Kesetiaan dan pengkhianatan ada dalam satu rumah beda kamar!”
Braga, izinkan seorang penyair yang fakir memelukmu walau tanpa cinta.
: “Braga, Braga, Braga. Aku luka!”
Jaspinka 15 Juli 2023
5.
NASTAIN ACHMAD
MELESAT TAJAM
Sudah direncanakan waktu
saat ujung hari adalah rindu
lalu, bersua–bertemu
bertamu orangtuamu
menuang pendaman pesan yang kaujadikan abu
saat di sisiku
Sudah kupesankan kereta kencana milik rahwana
kukayuh pelan, kurasakan bagaimana sampai tujuan
tanpa hujan, tanpa panas membentang
kutetal niat dalam-dalam
sedalam rahasia yang kautanam
Sesapan asap, sekecup kecap kopi pekat
kulantunkan beberapa lagu di kantong busanamu
biar selama perjalanan adalah melodi yang menari
sembari melumuri diri pada lumpur grogi
Sampai kumatikan sendiri
nyala api dan nyalang sirine jalan pulang
Sepertinya sudah kuruntuhkan tembok berbahan bata                                                      Pelan-pelan
sampai kubangun lagi
tetap rubuh!
sebab palumu melesat cepat
berat menggendam kuat
Sesampai mata layaknya udara
melayang tanpa batas arah
kau terus sumpalkan berbagai cara
biar jalan tujuan tentram
tanpa beban
batu hitam kautawan sendirian
Blora, 28 September 23
—————————————————————————————————
BIODATA SINGKAT PENYAIR
IMAN SEMBADA lahir di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan melukis. Puisi-puisinya dipublikasikan di beberapa media massa, cetak dan digital. Puisi-puisinya juga tergabung dalam berbagai antologi puisi bersama. Buku antologi puisi tunggalnya, antara lain Airmata Suku Bangsa (2004), Perempuan Bulan Ranjang (2016), dan Orang Jawa di Suriname (2019). Biografinya termaktub di buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017). Kini ia bermukim di kota Depok, Jawa Barat.
ILHAM WAHYUDI lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia salah seorang Fuqara di
Amirat Sumatera Timur, dan seorang tukang mabuk. Puisi-puisinya sering ditolak
redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” belum ingin terbit.
FAUSTINA HANNA KUSUMAJAYA, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan
online seperti Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Nusa Bali, Pos Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto, borobudurwriters.id (Borobudur Writers & Cultural Festival), lensasastra.id, magrib.id, berandanegeri.com, tirastimes.com, beritabaru.co, balipolitika.com, litera.co.id, ceritanet.com, pustakaekspresi.com. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi komunal Kutukan Negeri Rantau (Forum Sastra Bumi Pertiwi, 2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (UmaHaju Publisher, 2012), Kursi Tanpa Takhta (Writing Revolution, 2012), Berbagi Kasih (Penerbit Sahabat Kata, 2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012), Nostalgia Filantropi Tiada Terbalaskan
(Penerbit Jendela Sastra Indonesia, 2020).
EDDY PRANATA PNPadalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat.. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021). Puisinya juga disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Medan Pos, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Asyik.asyik.com., dll. Puisi-puisinya juga terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama.
NASTAIN ACHMAD, lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Bojonegoro. Alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran Lamongan. Aktif di dunia Content Management Web. Beberapa puisinya dulu pernah dimuat di media cetak dan online. Tergabung Antologi 10 Penyair KPKA “The Last Train and The Note of Rain (Bilingual). ***

CATATAN REDAKSI

Media SENI.CO.ID akan menerbitkan puisi-puisi karya penyair yang kirim ke redaksi melalui email: redaksiseni@gmail.com atau redaksi@seni.co.id. Adapun puisi yang dimuat akan mendapat honorarium yang diterima penulis puisi,  setelah puisi dimuat. Honorarium berupa dana yang akan di transfer sesuai jumlah puisi yang dimuat dan pasti akan dikasih bonus kopi asli pilihan. Terima kasih. 

REDAKSI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here