Home AGENDA 50 Tahun Usia Jurnal Prisma, Kerinduan Intelektual dan Pemikiran Arah Bangsa Kedepan

50 Tahun Usia Jurnal Prisma, Kerinduan Intelektual dan Pemikiran Arah Bangsa Kedepan

387
0
Logo Jurnal Prisma/ist
SENI.CO.ID – SANGAT menarik dalam Webinar 50 Tahun Jurnal Prisma sekaligus
Peluncuran Edisi Khusus Prisma di Usia 50 tahun pada 4 Desember 2021.
Menghadirkan pembicara Vedi R Hadiz Redaktur Senior Prisma,
Manuel Kaisiepo, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Indonesia Timur pada Kabinet Gotong Royong, Fachry Ali mantan Kepala Program Penelitian LP3ES, Atnike Sigiro Dosen Universitas Paramadina, Dr Nasir Tamara Cendekiawan Dosen dan Penulis Senior, ada  juga Nono Anwar Makarim  dan Ismid Hadad
Jurnal Prisma jatuh bangun selama 50 tahun dan tetap terbit sampai saat ini. Jurnal ini adalah penjaga intelektualitas pada tahun 1970-an dan 1980-an. Sekarang diharapkan tetap berperan dalam keterbatasannya,” ungkap Prof Didik J. Rachbini Ketua Dewan Pengurus LP3ES yang membuat pengantar diskusi pada ulang tahunnya yang ke-50.
Ada juga sambutan pembuka acara dari tokoh Nono Anwar Makarim dan Ismid Hadad, pendiri Prisma. Nono Anwar Makarim menyebut bahwa ada 3 hal penting yang patut menjadi perhatian kita Bersama.
Pertama, Emil Salim telah mengeluarkan statetmen, kekhawatiran apa yang akan tejadi dengan Indonesia nanti pada 15 tahun mendatang. Dapatkah kita meningkatkan daya saing? Apakah pendidikan akan berkembang begitu pesat atau akan commound lagi. “Pendidikan setiap kali ganti menteri akan ganti pejabat dan kebijakan. Ganti supplier dan sebagainya. Ini kekhawatiran yang patut didalami secara serius dan jangan terlalu takut akan kontroversi karena hal itu akan selalu ada, bisa mendalam bisa juga datar,”jelas Nono.
Kedua, Buruh Indonesia sejak dua tahun ini mengalami merosotnya daya beli yakni 40 persen. Hal itu juga perlu didalami dan dikaji serius. Ketiga, hal yang membut galau, sedih, marah, apa yang sebetulnya dipikirkan umat Islam tentang Indonesia? Ada fenomena 212 dan pawai reuni, apa maunya? Apakah negara Islam? “Hal itu bisa, tetapi harus disetujui oleh semua, karena mayoritas Islam saja saat ini terpecah belah,”beber Nono.

Sementara itu Ismid Hadad juga menyoroti soal organisasi dimana mengatakan ada tiga organisasi masyarakat sipil yang tercatat mampu survive selama 50 tahun menjadi penopang kaum cendekiawan Indonesia dan masih aktif hingga kini.

“Ketiganya berusia 50 tahun pada 2021 yakn Perhimpunan Bineksos yang berdiri awal 1971 yang merupakan kerjasama dengan NGO Jerman pada Agustus 1971. Kemudian lahir lembaga think tank LP3ES,” ungkapnya.
Ditambahkan Ismid bahwa lembaga pelaksana dari kegiatan Bineksos didirikan Nono Anwar Makarim dan Billy Yudono. Mempunyai 3 jenis program yaitu Penelitian, pedidikan dan Penerangan. “Ketika itu istilah Publikasi atau penerbitan tidak terlalu populer. LP3ES selain menerbitkan buku-buku juga menerbitkan majalah Prisma sebuah jurnal pemikiran sosial ekonomi dengan nomor perdana pada 4 Desember 1971,”jelasnya dalam sambutan 50 Tahun Jurnal Prisma.
Dari pengantar dan sambutan tokoh-tokoh itu penting kita garisbawahi bahwa 50 Tahun Jurnal Prisma adalah sebuah sejarah yang luar biasa jadi dalam 50 Tahun Jurnal Prisma ini memang harusnya bisa dijaga dengan kekuatan kebersamaan. Dari perjalanan Jurnal Prisma semua tahu perjalanan emas ini telah banyak melahirkan para pemikir intelektual bangsa ini yang mumpuni.
Redaktur Senior Prisma Vedi R Hadiz mengatakan bahwa selama 50 tahun, meski sempat absen 11 tahun, Jurnal Pisma berhasil memotret sejarah sosial, politik dan ekonomi Indonesia. Dengan membaca Prisma, khalayak dapat memahami perdebatan intelektual yang terjadi di Indonesia terutama terkait masalah pembangunan, dampak pembangunan, siapa yang secara tidak adil menikmati hasil pembangunan dan lain-lain hal.
Ben Anderson mencatat, Prisma adalah upaya dari para generasi muda intelektual Indonesia pada era 1970an yang “Menyusun” semacan blue print bagi masa depan Indonesia, terutama setelah berdirinya orde baru. Prisma terlihat sangat pro pada modernisasi, liberalisasi namun berbungkus pluralisme.
“Tetapi ideologi liberalisme-pluralisme yang mengusung modernisasi pada akhirnya di era ‘73-‘74 tersingkir dengan mulai dibangunnya arsitektur politik orde baru yang dibidani oleh Ali Murtopo dan sekutunya, yang sifatnya malah lebih statis korporatis, otoritarian. Praktis, liberalisme Ketika itu tidak lagi punya tempat,” jelas Vedi.
Vedi juga melihat terjadi perkembangan menarik, di mana akibat dari otoriterisme dan narasi sejarah yang dibangun orde baru memunculkan sikap kritisisme terhadap orde baru. “Diwakili oleh para pegiat NGO termasuk Prisma dan LP3ES,” tegasnya.

Sementara itu Atnike Sigiro Dosen Universitas Paramadina melihat bahwa Prisma berhasil mencatat secara konsisten problema-problema yang tak kunjung selesai dari sejarah perkembangan Indonesia sejak awal orde baru. Tetapi para generasi penerusnya harus menyadari munculnya tantangan-tantangan zaman baru, disrupsi dan revolusi 4.0 yang mengubah bagaimana produksi pengetahun dilakukan.

“Dulu sumber informasi intelektual bisa jadi hanya lewat Prisma namun kini telah semakin instan. Ada info online setiap saat, infografis, data online dan lainnya yang bisa diakses publik secara luas dari berbagai topik,” ungkapnya.
Selain itu, kata Atnike tantangan lain dari kalangan yang ingin membangun sebuah kritisisme yang bukan hanya sebagai budaya pop, adalah tantangan dari : Akreditasi. Insan akademis utamanya, lebih memilih menulis di jurnal yang telah memilih akreditasi nasional ketimbang menulis di jurnal non akreditasi seperti Prisma. “Terjadi kelangkaan pengetahuan kritis akibat para akademisi yang menulis demi hanya mendapatkan cum,” kritiknya.
Fachry Ali  mantan Kepala Program Penelitian LP3ES mengatakan bahwa Jurnal ilmiah Prisma setelah selama 50 tahun meneguhkan tradisi intelektual di Indonesia, kini bisa dianggap kehilangan audiens, bukan karena Prisma tidak lagi menjadi ujung tombak pemikiran intelektual di Indonesia, namun karena salah satu pilar ilmiah yakni kampus semakin kehilangan tradisi ilmiah.
“Otomatis Prisma mengalami situasi lingkungan yang tidak mendukung. Padahal, Herbert Feith dulu menyebutkan Prisma lah satu-satunya jurnal pemikiran yang dibaca oleh lebih dari 10 ribu pembaca setiap bulan. Namun di tengah situasi de-intelektualisasi saat ini Prisma masih bisa survive, tentu sesuatu yang luar biasa,” tegas Fachry.
Dia juga mengatakan bahwa Prisma dulu memang tidak selalu disukai penguasa, tetapi kekuasaan juga harus menaruh hormat kepadanya. Tak lain karena kekuasaan juga butuh referensi dan menjadi pusat intelektual yang menyokong ide modernime pluralis. Karenanya, menyadari pentingnya wadah intelektual yang menjadi basis pemikiran dan dibaca banyak kalangan, para Menteri orde baru setuju dengan sistem gagasan yang disampaikan Prisma, dan ikut menulis di Prisma.
“Uniknya, beberapa Menteri orde baru juga berasal dari lingkungan Prisma sendiri antara lain Billy Yudono, Dorodjatun Kuntjorojakti. Ketika itu ada symbiosis kuat dalam lingkungan sosial politik Prisma dengan para aktor pengambil keputusan di masa itu. Posisi Prisma sebagai agent intelectual semakin dihormati,” ungkapnya.
Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Indonesia Timur pada Kabinet Gotong Royong Manuel Kaisiepo melihat bahwa secara historis, Prisma dan LP3ES sebetulnya berjalan beriringan dengan konsolidasi kekuasan pada awal-awal orde baru.
“Era 70 dan 80 an menjadi masa emas penerbitan dan peneguhan poisis intelektual Prisma dihadapan kekuasaan orde baru. Namun, Prisma menjadi semakin surut pada era 90an bersamaan dengan lengsernya Suharto,” ujarnya.
Prisma dan LP3ES juga para intelektual muda Ketika itu menaruh harapan besar pada pemerintahan orde baru yang menjanjikan kehidupan demokrasi yang lebih baik ketimbang era sebelumnya.
Narasi pembaharuan, modernisasi dan demokratisasi menjadi ikon orba. Tapi ada satu hal, yakni tesis Samuel Huntington yang dirilis pada era akhir 60an dan awal 70an bahwa stabilitas politik sangat diperlukan sebagai prasyarat pembangunan ekonomi. Hal itulah yang kemudian menjadi panutan para ideolog ordebaru yang mencanangkan stabilitas sebagai salah satu dari trilogi arah pembangunan yang ditetapkan kekuasaan kala itu,tambahnya.
Selain itu, idialisasi pemikiran Parsonian dari sosiolog Talcott Parson yang menekankan bahwa pembangunan hanya dilakukan jika ada harmonisasi dalam masyarakat, ikut menjadi panutan dari para perencana pembangunan orde baru. “Teori Huntington dan Parson kala itu juga menjadi amat popular di berbagai fakultas ilmu-ilmu social di Indonesia,”jelas Kaisiepo.
Cendekiawan Dr Nasir Tamara punya cara padang menarik dengan persoalan Sustainability sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu titik lemah dari regenerasi Jurnal Pemikiran Prisma. Dibandingkan dengan satu jurnal ilmiah di Perancis yang juga sama-sama berusia 50 tahun sekarang dan berhasil melakukan regenerasi, persoalan regenerasi di lingkungan Prisma harus menjadi titik tekan untuk kesinambungan ke depan.
“Kekosongan 11 tahun Prisma paska Reformasi meneguhkan adanya masalah kesinambungan regenerasi tersebut. Seorang Daniel Dakhidae (alm) harus turun gunung untuk kembali melanjutkan penerbitan Prisma. Padahal Ia sempat menyatakan bahwa Prisma adalah masa lalu yang menjadi simbol dari kekuatan intelektualisme di Indonesia,” ujar  Penulis Senior ini.
Prisma juga semakin kehilangan kajian soal Sosialisme, sementara salah seorang punggawanya dulu alm Soejatmoko juga berbasiskan pemikiran yang kuat pada ide-ide Sosialisme,tambahnya.
“Begitu pula dengan kajian soal-soal Perempuan, terasa benar Prisma amat kurang mengetengahkan gagasan-gagasan soal Perempuan. Demikian pula kajian tentang ide-ide Mohammad Arkoun yang membawa pikiran-pikiran dekonstruksi Jacques Derrida, tak cukup berkembang di Prisma. Padahal saat ini perbincangan soal agama dan hubungan dengan politik identitas menjadi semakin penting Kembali dibahas,” pungkasnya.
Paling tidak apapun yang terjadi kenyataannya Prisma ini sudah berjalan dalam ruang dan waktu. Pemikiran dan ide-ide baru bagaimana pun Prisma menjadi sebuah harapan kedepan. Dan semoga saja bisa menerobos ruang baru yang kini serba digitalisasi dan cepat. Selamat Prisma 50 Tahun bukan waktu yang sebentar dan kini berharap ada pencerahan yang lahir lebih menjadi kekuatan baru. Tabik..!  (Aendra)
Previous articleSeni Rupa “Ekspresi Merdeka” Reuni Alumni STSI/ISI Surakarta
Next articleBURSA SENI LUKIS AKHIR TAHUN UNTUK BANTU BENCANA GUNUNG SEMERU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here