Home AGENDA Eep S. Fatah, Seniman yang Dibesarkan dalam Tradisi Karikatur

Eep S. Fatah, Seniman yang Dibesarkan dalam Tradisi Karikatur

0
Eep S. Fatah/oct

SENI.CO.ID — Sukses menggarap Pameran Sketsa bertajuk “Testimoni” di Ruang Garasi yang sedang berlangsung hingga 7 April mendatang, Eep S. Fatah menceritakan pengalamannya berkembang sebagai perupa sekaligus penikmat karya karikatur.

“Kalau dilihat dari kecenderungan dari dulu, sebetulnya saya lebih senang menggambar karikatur, yaitu mendekonstruksi atau mendeformasi wajah seseorang dengan menonjolkan karakter-karakternya yang paling unik. Ketika selesai dibuat, bentuknya sudah jauh dari aslinya, tapi orang tetap mengenali siapa dia,” ungkap Eep dalam wawancara dengan pihak seni.co.id.

Eep mengaku bahwa bakat menggambar yang dimilikinya merupakan hasil belajar sendiri alias otodidak. Hal tersebut disadari saat dirinya ditunjuk untuk mengikuti lomba menggambar mewakili sekolahnya saat kelas 1 SD di Cibarusah dan berhasil keluar menjadi juara pertama. Kesenangannya akan karikatur menjadi salah satu hal penting dalam perjalanan hidupnya. Ia juga bercerita bahwa dirinya pernah membuat karikatur wajah dosen-dosen yang mengajar di kelasnya semasa kuliah.

“Saya dibesarkan dalam tradisi karikatur. Banyak sekali yang bikin karikatur, selama kuliah terutama. Hampir semua dosen di kelas yang pernah mengajar saya itu saya gambar karikatur. Kalau saya sudah bosan ngikutin kelasnya, itu biasanya gambar. Gambar karikatur,” cerita Eep mengenang masa lalunya.

Eep berencana akan terus melanjutkan menggarap gambar, salah satunya bangunan yang tetap berfungsi meski tergerus oleh perubahan zaman, misalnya Toko Oen di Malang dan Semarang, Warung Mak Beng di Sanur, tempat servis sepeda, atau tukang cukur legendaris. Selain itu, ia berencana menggarap potret orang-orang kecil yang menginspirasi dan melanjutkan kegemarannya menggambar karikatur.

“Ada tema-tema lain, tapi masih ambisius saya belum mulai. Jadi saya itu sebagai konsultan Jokowi-JK, punya banyak sekali foto eksklusif dari Pilpres 2014,” ucap Eep. “Cuma itu masih ambisius lah. Saya punya sejumlah proyek itu yang juga saya ingin lanjutkan adalah menggambar karikatur. Karena dari sejak lama saya terbiasa melakukannya. Saya ingin menggambar karikatur menjadi salah satu kegiatan saya lagi,” ungkapnya.

Kepiawaian Eep dalam memperhatikan detail membuatnya dapat menyelesaikan hingga empat gambar dalam sehari di sela-sela kesibukannya yang padat. Ia mengatakan, detail sudah menjadi karakternya mengingat setiap pekerjaan yang berkaitan dengan pemasaran politik (political marketing) memerlukan detail. “Itu sudah jadi karakter. Jadi ketika menggambar pun, saya berusaha menggarapnya dengan detail,” pungkas Eep.

Ia mengatakan, sosok inspirasinya adalah guru SMP-nya, Pak Haji Jeje dan guru seninya di SMA, Pak Asep Kurnia. Berbagai karikaturis dan ilustrator juga secara tidak langsung menginspirasinya menjadi seorang karikaturis, seperti Gerardus Mayela Sudarta (karikaturis harian Kompas), Kendra Paramita dan Priyanto Sunarto (ilustrator dan kartunis majalah Tempo), hingga Pramono R. Pramoedjo (kartunis masalah politik).

Di akhir wawancara, Eep juga menyampaikan pesan kepada para guru di instansi pendidikan agar tidak membatasi kebebasan dalam mengekspresikan kreativitas anak-anak usia dini dengan menciptakan pakem atau pola gambar yang harus diikuti.

“Jangan korbankan manusia-manusia luar biasa, anak-anak kita dengan menghanguskan, memberangus kemerdekaan mereka dalam mengekspresikan kreativitas, imajinasi mereka,” pesannya. (oct)

sumber foto-foto: katalog digital

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here