Home AGENDA Gelisah Iwan Koeswanna dari Tasikmalaya yang Mendunia

Gelisah Iwan Koeswanna dari Tasikmalaya yang Mendunia

447
0

SENIINDONESIA –  Seniman Iwan Koeswanna mengumpulkan karyanya lukis dalam bentuk sketsanya yang sudah banyak dibuat sejak masa kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Belanda dan selama dia mengeluti dunia kepelukisannya.

Karyanya itu ia sajikan dalam panera di Studionya di Tasikmalaya. penuh sarat makna yang dalam. Ada pesan yang tersajikan dalam menyampaikan pesan tersirat jika dibacanya. Ia bahkan mengatakan  8 tahun mati, Seperti sampah tergeletak di pojok sepi
“Otakku keluar dan meleleh seperti minyak,” ungkapnya kepada SENI.CO.ID

Iwan pun berseloroh lagi:

Bangsa apa kita ini
Manusia atau Binatang
Rakyatnya mengantri minyak goreng
Raknya tidak dicintai
Dipasok beras bau
Uang dua ratus ribu / bulan.

Demikian ia merespon yang terjadi saat ini. Jika ditilik karya Iwan Koeswanna terlihat sejumlah sketsa tadi.

Bagi Iwan Seketsa adalah awal, Bisa juga akhir dari proses pencarian diri
Dan semua itu bermula dari sketsa, jelasnya lagi.

“Pameran ini untuk introspeksi diri, membuka diri dan komunikasi.
Sampai seberapa jauh kemerdekaan mengisi jiwa? Seperti apa moralmu dan moralku teruji? Selain untuk menghibur diri sambil ngabuburit,”ungkap Iwan pelukis lulusan Jan Van Eyck Akademie Maastricht- Belanda ini

Pelukis kelahiran Tasikmalaya, 14 Oktober 1960 dan memilih tinggal di kotanya itu membuat karyanya sudah ratusan. Jika bicara dengan objek karyanya ia telah mengolah banyak karya lukisan dari zaman renaisance yang sifatnya hanya meniru tak bernuansa namun respon karya tafsir baru sampai karya utuh dalam sejumlah seri.

Sejumlah karya sketsa dalam karya yang hadir seperti studi kaki tahun 1983, Studi Wajah, kaki dan tangan. Sketsa yang nampak pada pameran kali ini jelas ini kumpulan karya saat Iwan belajar di IKJ. Selain karya itu ada Potret, ada model dll.

Kisa Iwan menarik saat kuliah di IKJ ia mengatakan bahwa Dosen pembimbing saya waktu di IKJ adalah Pelukis Nashar, metode pengajaranya pas masuk ruang seni lukis,mahasiswanya ditanya, apakah kalian siap jadi pelukis? Saya tidak akan memberi tugas dan sayapun tidak akan memberi nilai, kata Nashar dikisahkan Iwan.

Demikian metode pengajaran sistem Nashar.  Untuk apa kalian butuh nilai dari saya? Dan mengapa melukis harus ada tugas dari saya ungkap Nashar waktu mengajar saat itu.

Dalam obrolan santai suatu sore di kediamannya bahwa saat ini bahwa lukisan tersebut merupakan respon kegelisahannya atas jati diri manusia yang perlahan lenyap ditelan hiruk pikuk dan banalitas.
“Potret diri itu kan ingin menyatakan siapa diri saya.  Jadi ingin lebih mengenal diri sendiri. Nah sekarang apakah bangsa kita udah mengenal dirinya sendiri, “ungkapnya.

Pesan rahasia itu, kata Iwan, disimbolkan oleh wajah manusia yang bentuknya samar – samar sebagai perpaduan rasa yang tak tentu arah alias galau.

Kemerosotan sikap keberpihakan penguasa terhadap rakyatnya tergambar dalam lukisan itu di samping  moralitas manusia secara personal yang juga turut tergerus. “Saat ini banyak yang lupa Tuhan dan hilangnya rasa malu,”jelas Iwan.

Kemerosotan itu hanya bisa diobati oleh perubahan sikap di internal manusianya sendiri dengan melibatkan akal dan rasa sebagai penyangganya.

Jika ada yang ingin menyaksikan karya Iwan Koeswanna silakan datang saja dalam Pameran Sketsa karya Study selama di IKJ 1981-1984 yang digelar sejak 5-15 Mei 2022 nanti di Sanggar Iwan Koeswanna, Jalan Moitra Batik 35 Belakang Dr Zacky, Belakang Madrasah Al Falah Kota Tasikmalaya atau bisa hubungi: 087835114351.

Sukses untuk Kang Iwan Koeswanna  yang Gelisah dari Tasikmalaya yang akan menunju dunia. (Ame)

Previous articleUjang Hidayat, Sang Fotografer Juara dan Kolektor Ratusan Kamera Analog
Next articleCatatan Untuk Ide

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here