Home AGENDA “Ekspresi Perempuan Indonesia” dan Gairah Baru Itu

“Ekspresi Perempuan Indonesia” dan Gairah Baru Itu

464
0
Pameran "Ekspresi Perempuan Indonesia" di Balai Budyaa Jakarta/ FOTO SUKMA

SENI.CO.ID – INDONESIA yang kaya kebudayaan dan alam menjadikan kekuatan makna yang akan memberikan kehidupan. Peran seniman menjadi bagian berarti dan masih bisa membaca peluang yang penting, sehingga seniman bersinergi dengan kehidupan yang semakin padu padan.

Adalah 37 pelukis yang memiliki kekuatan cara pandang dalam melihat sebuah ekspresi kekaryaan dan tergabung dalam pameran “Ekspresi Perempuan Indonesia”.
Yang menarik dari pameran yang digelar 8-15 Maret 2022 di Balai Budaya Jakarta ini membuka dibuka lebar ruang. Bukan sekadar pelukis perempuan yang terlibat namun pelukis laki-laki ikut terlibat menampilkan karya dari perspektif dan cara pandang itu soal ekspresi perempuan Indonesia.

Pameran lukisan bersama “Ekspresi Perempuan Indonesia” ini bisa dikatakan membaca realita perempuan Indonesia yang diekspresikan oleh pelukis peserta pameran. Membaca ekspresi perempuan dalam lukisan adalah hal yang menarik dan ada ke-mahfum-an namun terkadang sebenarnya kita menjadi akan sangat kuat membaca dibalik keseharian kehidupan tentang perempuan.

Dalam setiap pameran seni lukis tentu saja keahlian seni yang mumpuni jadi bekal bekal kesenimanannya untuk kehidupan kedepan.

Tajuk Pameran bersama ini jelas pesannya keindahan dari karya lukis diungkapkan tiap pelukis secara objektif dan disesuaikan dengan konteks komunikasi karya menuju seni yang hakiki.

Paling tidak acara yang mengungkapkan kekagumannya terhadap perempuan dalam hal merespon hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2022 dimana peran perempuan punya andil di dunia. Menyampaikan tentang pentingnya peran seniman merespon ini adalah hal yang baik dan sekaligus merupakan momentum ini dimaknai sebagai “spirit perempuan” yang oleh para pelukis direspon dalam kekaryaan dalam bentuk rupa.
“Ajang pameran bersama ini adalah upaya eksistensi para pelukis melihat kaca mata besar perempuan di tengah-tengah dinamika perkembangan masa kini,” ujar Eddy Kamal, sebagai penanggung jawab pameran tersebut.

Karya seni rupa (lukis) merupakan bentuk komunikasi ke publik, dalam karya sendiri terdapat banyak unsur material, teknik, objek. Jadi melalui karya-karya pelukis kali ini diharapkan soal keindahan budaya Indonesia melalui perempuan yang dibedah dalam karya lukis menjadi terbaca secara terbuka dalam konteks estetis.

Ada sejumlah karya yang menarik dari pameran ini, misalnya karya Ambarsari Sulistyawati berjudul “Selamat Datang di IKN” tiga sosok perempuan dayak ditampilkan menyambut ibukota baru. Pelukis kelahiran Jakarta ini memiliki respon Ibukota akan dipindah dan mengambil objek kekhasan tradisi kuat suku dayak. Karya yang dekat tradisi juga ada pada karya Andriadi yang menampilkan perempuan dalam karya berjudul “Rampak kendang”, sedang pada karya pelukis A.R. Tanjung sosok perempuan yang dihadirkan dalam karya lukisnya adalah berjudul “Gadis Nelayan” dan “Jasa online” konteks kekinian bahwa perempuan juga berjuang baik di pesisir pantai maupun di dunia jasa online transportasi peran yang sangat unisex

Karya yang kuat juga soal perempuan dan aktivitasnya mulai penari, pekerja dan tentang kehidupan perempuan diangkat oleh para pelukis dari Baem Ibrahim, Budi Karmanto, Dick Syahrir, Emma Sartika, Mira Chandra, Nanak, Novi Pratiwi, Reni Pandjaitan, Rosalia Ratih Darmawati, Sigit Wicaksono, Munadi, Sudiro Broto, Sari Hendradi, Yustisye Gustika Luitnan, Udin Choiruddin, Wantiyo, Kaharuddin, Yusuf Dwiyono, Maya Melian Falah, I Wayan Sudana, Edi Markas, Vidia NR dan Vauzige.

Pelukis Nadia Iskandar dengan abstraknya yang digarap diatas cat air berjudul “Consistent” memiliki kekuatan yang sublim. Yang menonjol dan punya ungkapan kuat Nunuk Darmono menyikap tabir soal kekerasan yang harus di stop terhadap perempuan. Pelukis Reny Alwi dengan sketsa hitam putihnya menarik, karya berjudul “Kekuatan” menjadikan visual yang sangat terlihat dari sapuan garis dan objeknya kuat.

Ada juga lanskap yang diangkat pelukis Rinu Amrita, Diah Widati, adalah bagian keragaman karya yang dipamerkan saat ini. Pelukis Pug Warudju dan Rustam mewakil kekuatannya karya figuratif dalam pameran ini. Eddy Kamal dan N. Yanah karyanya membaca suasana waktu dalam sebuah peristiwa. Eddy merekam “Pojok daerah hitam Planet Senen” sebuah daerah prostitusi di pinggir rel kereta api dekat stasiun Senen pada tahun 70 an dan suasana hiruk pikuk Senen masa itu. Pada karya Yanah juga merekam kilas balik mengungkapkan atmosfer penuh kenangan. Ichal Key karyanya yang hyperrealist (surealis), atau karya Thomas Tri Wibowo dengan abstrak dekoratif dengan soft color semua karya yang hadir adalah bagian dari keragaman dari pameran ini yang menarik.

Saya membaca karya-karya mereka adalah karya potensi kuat membuka cakrawala, menghargai alam kehidupan dan sebagai medium yang memiliki keyakinan bahwa pameran ini merupakan sesuatu yang positif, yang dapat memberi kontribusi berarti bagi peningkatan pemahaman seni budaya dan saling merespon ruang kebaikan pengertian di antara semuanya dan “Ekspresi Perempuan Indonesia” ditemukannya kembali sebuah Gairah Baru bagi seni rupa tanah air. Tabik…!!!

AENDRA MEDITA, penulis seni budaya & Pemimpin Redaksi MAJALAH SENI

Previous articlePameran Tunggal Fotografi “Insight” Ve Dhanito Digelar di Perpustakaan Nasional Jakarta
Next articleCara Pandang Baru Fotografi Ve Dhanito Tanpa Batas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here