Home AGENDA Cara Pandang Baru Fotografi Ve Dhanito Tanpa Batas

Cara Pandang Baru Fotografi Ve Dhanito Tanpa Batas

747
0

Ia seorang fotografer perempuan yang produktif. Karya penuh interpretasi dari ruang baru baru fotografi konvensional. Keliaran imajinasi karyanya membawa nilai estetis yang sublimasi. Kini namanya sudah patut diperhitungkan.

​​SENI.CO.ID – Sejak kamera pertama ditemukan seorang cendekiawan muslim bernama Abu Ali Al-Hasan Ibn Al-Haytham atau lebih terakrab dengan nama Alhazen sekitar abad ke-10. Alhazen juga merupakan orang pertama yang mempelajari bagaimana cara kerja mata untuk melihat. Kamera pertama kali yang dibuatnya kamera obscura atau lebih dikenal sebagai kamera lubang jarum. 

Saat kamera pertama dibuat Alhazen melakukan serangkaian percobaan tentang optik, dimana menunjukkan cara bagaimana cahaya bisa digunakan untuk memproyeksikan gambar pada permukaan datar. Berbagai eksperimennya Alhazen menyebutknya “Al-Bayt al-Muthlim” atawa sebagai ruang gelap. Berbagai analisanya Alhazen juga menjelaskan cara kerja kamera dalam membentuk sebuah citra atau visual gambar. 

Sebagai pengatar ini saya mencoba masuk ke sebuah seni fotografi yang kini memilih jalur alternatif baru. Fotografi memang bukan harus baku. Ia akan berkembang terus dan terus menuju terbaru dari ekspresi yang sustainablity.

Adalah Fotografer Ve Dhanito menggelar pameran tunggal fotografi di Perpustakaan Nasional RI Jalan Medan Merdeka Selatan,  11 pada 5-15 Maret 2022.

Saya sedikit terpana, dan kemudian saya masuk ruang gelap sebuah sudut di tempat pameran berlangsung dan Ve Dhanito sang fotografer produktif ini memiliki cara pandang tentang fotografi dengan gaya rupa dan elemen kekuatan baru. Sebuah proses kreatif panjang sehingga dia menciptakan karya dalam “Insight” itu. 

Karya dalam judul Whole Brain sosok tampil dari ruang gerak dan menyimpan goresan dalam bentuk otak, ada dua objek menunjukan bahwa ruang gerak kehidupan, interaksi terhadap dua bagian tubuh dirinya (manusia). 

Karya lainnya yang nyaris sama dalam abstraksi warna dengan UV secara bebas diekspresikan ada pada karya-karya seperti “Bending”, “Breaking”,”Geneology”, “Fragment”, “The Loop”, “Nature Nurture”, “Practice” dan sejumlah karya lainnya. 

Karya Ve ini memperlihatkan bagaimana kekuatan warna dengan UV tadi dapat menumbuhkan kekuatan dan karya dalam kehidupan hadir, cara digital dalam kebutuhan saat ini bagian yang kuat membantu komunikasi visual karyanya dalam fotografi alternatif yang sangat jarang ini. 

Dari periode yang dipamerkan tak lupa karya dengan olah khas fotografer adalah model. Cara Ve membuat karya dengan kisah kenangan histori, juga kebutuhan respon kekinian diwujudkan dalam karya baik model dirinya sebagai objek atau model sesungguhnya yang dia kemas dan diolah tak biasa. Karya seperti mengeksplore model ini telah banyak memang dan mengingatkan saya pada karya Richard Avedon yang paling sering membawa model atau membuat portrait dengan ekstrim karyanya. Pada Avedon ia eksplorasi model dengan binatang (dua gajah besar) dengan model dihadirkan di studio. Pada Karya Ve  ia mengolah model tak bisa seperti yang dia sampaikan: ”Ini kelana imaji,” katanya. 

Ve Dhanito lahir di Jakarta 17 Juli ia adalah jebolan Civil Engineering, Sebelas Maret University, Postgraduate Civil Engineering, University of Indonesia ia juga pernah mengikuti Artist in residence, LaSalle College of The Art , Singapore, pameran karya sudah dimulai sejak 2010 proses Ve dalam karyanya terus membangun karya visual terus digali tanpa henti. Karya ini disajikan dalam berbagai bentuk cetak dan instalasi adalah bentuk kreativitas baru yang kuat. 

Memang apa yang disampaikan dalam karya Ve adalah representasi karya dengan elemen benda yang ia rancang merespon karya yang mengasyikan, model ditampilkan tanpa beban dan bukan apa adanya. 

Karya Ve melihat kalau dilihat konsep  fotografi tidak lagi disikapi dari sebuah objek yang hasilnya biasa atau standar. Ve membuat langkah dan cara lain menghadirkan fotografi rupa, bahkan lebih imajinatif.  Adanya ekspresi abstrak yang lepas dengan penuh cahaya simbolis dan aksentuasi menjadi bagian dari langkah kuat karyanya. 

Akhirnya saya harus mengatakan Ve memang memiliki kreativitas tanpa batas, membangun kebebasan karyanya  adalah sebuah warna lain yang mempesona, objek yang hakikatnya sudah memiliki estetika yang ia olah lagi sehingga menunjukan ada hasil interaksi dan sebuah karya yang tidak terlupakan karena Ve punyta cara pandang baru fotografi yang tanpa batas itu. Bravo…!!! (aendramedita)

Previous article“Ekspresi Perempuan Indonesia” dan Gairah Baru Itu
Next articlePAMERAN PUPUHU #2, BANDUNG LAUTAN ART, Sebuah Estetika Rupa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here