Home OPINI Eksplorasi Ruang Ilmiah dalam Lingkup Seni Pertunjukan Teater di ISBI Bandung

Eksplorasi Ruang Ilmiah dalam Lingkup Seni Pertunjukan Teater di ISBI Bandung

0

Eksplorasi Ruang Ilmiah dalam Lingkup Seni Pertunjukan Teater di ISBI Bandung

Oleh; Resa Ramadhan, Fikri Husni Hidayat

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji terhadap fenomena minimnya diskusi pasca pertunjukan teater di ISBI Bandung. Diskusi pasca pertunjukan teater merupakan aktivitas yang dapat memperkaya wahana aestetis dari pertunjukan teater dalam ruang lingkup ilmiah institusi tersebut. Namun, ada kecenderungan yang semakin merosot terhadap pengaplikasian yang menyebabkan minimnya diskusi pasca pertunjukan teater. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan referensi literatur. Penelitian ini bertujuan untuk memahami latar belakang, persepsi, pengalaman, dan beberapa faktor yang mungkin memengaruhi kurangnya diskusi pasca pertunjukan teater sebagai dialektika pemikiran melalui pertukaran wacana.

Kata kunci: Diskusi Pasca Pertunjukan Teater, Mahasiswa, Kampus Seni

Abstrack

This research aims to investigate the phenomenon of the lack of post-theater performance discussions at the Indonesian Arts Institute (ISBI) Bandung. Post-theater performance discussions are activities that can enrich the aesthetic dimensions of theater performances within the academic scope of the institution. However, there is a declining trend in the implementation, leading to a scarcity of post-theater performance discussions. This research employs a qualitative method with data collection through interviews, observations, and literature references. The study seeks to comprehend the background, perceptions, experiences, and various factors that may influence the lack of post-theater performance discussions as a dialectic of thought through the exchange of discourse.

Keywords: Theater Discussion After Show, Students, Art Campus

  1. Pendahuluan

Seni pertunjukan telah lama dianggap sebagai media yang kuat untuk menyampaikan pesan, merangsang imajinasi, dan membangkitkan perasaan dalam masyarakat. ISBI Bandung merupakan kampus seni, tempat di mana bakat seni berkembang, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengasah keterampilan seni dan mendalami pemahaman tentang seni pertunjukan. Salah satu aspek yang krusial dalam pengembangan pemahaman seni ini adalah diskusi pasca pertunjukan teater. Diskusi ini memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk merenung, berbagi, dan meresapi pengalaman seni yang mereka saksikan, memungkinkan mereka untuk memahami lebih dalam karya seni dan mendiskusikan beragam aspek terkait.

Menurut Adhyra Irianto (2021), Proses dialektika akan menghasilkan sintesis. Ada pandangan lain yang memengaruhi tangkapan dan respon penonton terhadap suatu karya, bisa jadi lingkungannya, ilmu pengetahuan, dan psikisnya. Mungkin iya, untuk urusan artistik, estetika, dan seni, seniman yang dimaksud “lebih cerdas” dari penonton, apalagi yang bukan seniman. Namun, thesis yang dibawa dalam pertunjukan sudah melebar dari seni dan estetika. Seniman mengusung sebuah respon yang didapatnya dari lingkungan sosialnya sendiri. Pandangan seniman terhadap hidup, tentunya berbeda dengan penonton.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi penurunan yang memprihatinkan dalam pengadaan diskusi pasca pertunjukan teater di kampus seni. Aktivitas ini yang seharusnya menjadi elemen penting dalam pengalaman seni mereka, tampaknya semakin terpinggirkan. Hal ini menggambarkan tantangan yang lebih besar dalam kaitannya dengan berbagi, merenung, dan memahami karya seni dengan mendalam yang menghasilkan efektifitas dan kohesif antar kelompok. diskusi, akan timbul kemungkinan social loafing yang dapat menyebabkan rendahnya ketertarikan individu untuk tinggal dalam kelompok atau yang disebut dengan kohesivitas (Anggraeni & Alfian, 2015). Menurut Bochner, dalam DeVito (2011), Terdapat faktor lain yang perlu dipertimbangkan agar kelompok menjadi lebih efektif dan kohesif. Faktor tersebut adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal merupakan penyampaian informasi dari satu orang kepada orang lain. (Bochner; 2011)

Fenomena minimnya diskusi pasca pertunjukan teater di kampus seni tidak hanya menciptakan ketidakseimbangan dalam pengalaman seni mahasiswa, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan seni pertunjukan secara keseluruhan. Aktifitas diskusi pasca pertunjukan adalah salah satu cara terbaik untuk memahami perspektif berbeda untuk merangsang kritik konstruktif, dan mendukung seniman dalam memperbaiki karya mereka. Menurut Yudiaryani (2012), pertunjukan teater membutuhkan komunikasi untuk merajut beragam ide dan intensi seniman dengan beragam tanggapan penonton. Komunikasi tersebut menjadi suatu cara penonton untuk mendekatkan dirinya kepada apa yang disampaikan seniman.

Dalam penelitian ini, kami akan mencoba menggali untuk mencari penyebab terkait dengan minimnya diskusi pasca pertunjukan teater di kampus seni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara dengan staf pengajar dan mahasiswa seni pertunjukan, serta analisis dokumen terkait kurikulum dan praktik institusi seni. Data kualitatif ini akan dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi minimnya diskusi pasca pertunjukan dan dampaknya pada mahasiswa. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang alasan minimnya diskusi pasca pertunjukan teater dan diharapkan merumuskan rekomendasi yang dapat meningkatkan pengalaman seni mahasiswa dan mendukung pengembangan seni pertunjukan di ISBI Bandung.

  1. 2. Hasil dan Pembahasan

2.1. Pentingkah Diskusi Pasca Pertunjukan Teater?

Diskusi pasca pertunjukan teater memiliki potensi yang krusial, baik dalam konteks pendidikan seni maupun pengalaman seni secara keseluruhan. Ekosisem pelaku seni pertunjukan teater dan penonton adalah hal yang tidak dapat dipisahkan antara seniman dan penonton. Kehadiran penonton tentu menimbulkan pertanyaan dari pengindraan setelah menonton pertunjukan teater. Pertanyaan tersebut tentu menjadi penting melalui sesi diskusi dan dari pertanyaan tersebut, sangat mungkin akan hadir wacana kritik yang konstruktif.

Menurut Yudiaryani (2012), seni pertunjukan tidak akan terpisahkan dengan adanya penonton. Penonton merupakan kekuatan dari para pelaku seni pertunjukan. Dengan adanya penonton juga, menjadi bukti apresiasi terhadap suatu pertunjukan. Seperti yang dikatakan Eric Bentley bahwa pertunjukan adalah A (seniman) membuat B (pertunjukan) untuk C (penonton). Tanpa kehadiran penonton maka seniman tidak dapat menghadirkan sebuah pertunjukan. Maka muncul beragam pertanyaan tentang seberapa besar dan pentingnya kehadiran penonton bagi kreativitas seniman dan bagi kehadiran sebuah pertunjukan? Apa yang dihasilkan oleh komunikasi antara seniman-panggung-penonton? Apa yang diinginkan penonton ketika menghadiri sebuah pertunjukan teater.

Diskusi pasca pertunjukan membuka kesempatan bagi penonton, terutama mahasiswa seni, untuk mendalami pemahaman mereka tentang seni pertunjukan. Mereka dapat menjelajahi beragam aspek kreatif, estetika, dan makna yang mungkin terlewatkan saat pertunjukan berlangsung. Oleh karenanya, butuh ruang diskusi dalam memperkaya wahana penonton. Menurut Yudiaryani, Pertunjukan teater membutuhkan komunikasi untuk merajut beragam ide dan intensi seniman dengan beragam tanggapan penonton. Komunikasi tersebut menjadi suatu cara penonton untuk mendekatkan dirinya kepada apa yang disampaikan oleh seniman.

Diskusi pasca pertunjukan mendorong penonton untuk merenung dan merespon apa yang mereka saksikan. Ini memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting dalam pertunjukan, seperti karakterisasi, plot, dan pesan yang disampaikan yang tidak terpisahkan dengan kondisi sosial. Seni adalah salah satu medium komunikasi sosial dan teater adalah salah satu medium seni. Untuk itu menurut Muhammad Fauzi (2019), jelas sekali seni teater memiliki peran untuk menafsir dan merespon gejala-gejala dari kondisi sosial yang kemudian akan dikemas dan diwujudkan dalam sebuah karya seni pertunjukan.

Diskusi pasca pertunjukan meningkatkan penghargaan terhadap seni pertunjukan. Dengan memahami kerumitan di balik produksi dan interpretasi yang mendalam, penonton dapat menghargai upaya seniman dan tim produksi. Aktivitas ini membantu dalam pengembangan keterampilan kritik seni. Mahasiswa dapat belajar memberikan ulasan konstruktif yang berguna bagi seniman dan tim produksi untuk meningkatkan karya mereka di masa mendatang.

Kritik merupakan salah satu hasil dari nilai apresiasi. Menurut Abraham (1953), mengajukan empat komponen sebagai dasar berpikir dalam melakukan kritik, yaitu universe (kesemestaan), works (karya-karya seni), artist (seniman), dan audience (penikmat/penonton). Keempat komponen tersebut dapat digambarkan seperti berikut ini: Kesemestaan (universe sebagai sumber inspirasi lahirnya karya-karya seni (works). Seniman (artist) sebagai pencipta maupun pelaku karya seni selalu memerlukan penikmat (audience).

Diskusi pasca pertunjukan teater juga dapat memberikan umpan balik berharga kepada seniman dan tim produksi. Mereka dapat menggunakan masukan dari penonton untuk meningkatkan karya mereka di masa depan. Pokok pendiskusian tidak akan terlepas dari beberapa nilai. Sumber nilai setiap karya seni pada dasarnya berkaitan langsung dengan tiga komponen utama, yaitu (1) seniman, (2) karya seni, dan (3) penghayat (Suharto 2007:5). Setelah substansi yang berkaitan dengan komponen tersebut terhimpun, maka timbul hasil inovasi baru terhadap seni pertunjukan teater, baik berbentuk wacana maupun karya. Manusia diharapkan selalu menciptakan inovasi-inovasi baru dan selalu mempermasalahkan kebenaran. Kebenaran tidak harus dibatasi dalam kebenaran tunggal, umum, dan universal melainkan bersifat plural, partikular, dan relative (Monghut Siregar 2019:70).

Akhirnya, diskusi pasca pertunjukan teater dapat meningkatkan pengalaman penonton secara keseluruhan. Ini membantu menjadikan pertunjukan teater sebagai pengalaman yang lebih berarti dan mendalam. Dalam kehidupan berkesenian, mengapresiasi sebuah karya seni sangat penting, terlebih lagi kenikmatan mengapresiasi tidak terbatas merenungkanya pada seorang diri, melainkan juga membicarakan dengan orang lain. Kenikmatan itu tidak hanya datang dari karya seni semata, melainkan dari wacana yang terjadi di sekitar karya seni itu (Saini K.M 2001).

2.2. Faktor-Faktor Minimnya Diskusi Pasca Pertunjukan di ISBI Bandung

Faktor minimnya diskusi pasca pertunjukan teater merupakan fokus utama dalam penelitian eksplorasi ruang ilmiah dalam lingkup seni pertunjukan di ISBI Bandung. Minimnya diskusi pasca pertunjukan teater menjadi cerminan terhadap perubahan sikap dan pemikiran kritis serta refleksi mahasiswa terhadap seni pertunjukan seni. Berikut beberapa faktor-faktor minimnya diskusi;

  1. Kurikulum

Beberapa faktor diantaranya adalah kurikulum kampus. Berdasarkan hasil wawacnara dengan Ipit selaku dosen teater ISBI Bandung yaitu;

Terdapat 3 poin Tri Dharma perguruan tinggi yang menjadi wadah peranan aktif dalam mengembangkan starategi pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang No.22 tahun 1961 yang isinya adalah; 1. pendidikan dan pengajaran, 2. penelitian dan pengembagnan dan 3 pengabdian kepada masyarakat. Dari 3 poin tersebut, poin 1 dan 2 tersebut adalah hal yang relevan dengan terselenggaranya diskusi teater. Mengapa demikian? Karena diskusi teater merupakan media dalam pertukaran wacana antara audiens dari berbagai latar belakang dan pelaku seniman (Wawancara, 20 September 2023)

Pada poin ke 1 dan 2 yang tertulis dalam Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran serta penelitian dan pengembangan, merupakan aspek salah satu value yang dihasilkan dari terselenggaranya diskusi pasca pertunjukan teater yang dimana pengembangan suatu karya yang dihasilkan dari berbagai wacana, menjadi bahan evaluasi bagi karya pencipta maupun wahana Pestetika penonton, dan kritik merupakan salah esensi dari wahana wacana. Menurut Jazuli (2001) Fungsi kritik adalah untuk pemahaman dan peningkatan apresiasi, serta evaluasi terhadap kualitas karya seni. Oleh karena itu, kritik berperan dalam menjembatani antara kepentingan seniman (pencipta) melalui karyanya dengan kepentingan penikmatnya (apresiator).

Perguruan tinggi yang memiliki kewajiban untuk menjalankan poin-poin Tri Dharma tersebut, menimbulkan beberapa pertanyaan terhadap minimnya penyelenggaraan diskusi pasca pertunjukan teater.

  1. Ekonomi

Diskusi tidak berjalan adalah karena hubungan yang memiliki kaitan dengan faktor ekonomi yang mengandalkan subsidi suatu lembaga yang lebih tinggi. Hal tersebut menjadi dampak terhadap partisipasi aktivitas seni yang mengarah pada kekuatan ekonomi. Beliau mengatakan bahwa, pengadaan diskusi teater tidak pernah terdanai oleh pemerintah. Baginya, aktivitas seni teater masih perlu bertergantungan terhadap subsidi pemerintah dalam menjalankan pekerjaan seni yang sifatnya murni.

Dalam pendekatan melalui buku Hans Abbing seorang pakar ekonom yang yang ditulis dalam buku “Why Are Artist So Poor” (2008), kami mengaitkan dengan subsidi pendidikan dan dampaknya yang kemudian referensi tersebut dituliskan oleh Alexander Adams dalam bukunya yang berjudul ”Culture of War” yang membahas On State Subsidies for Art, seni menjadi sensivitas terhadap koneksi antara apresiasi estetika dengan nilai finansial yang khas untuk seni. Aktivitas seni menjadi penanda sosial.

Menurut Hans Abbing, selama ada stratifikasi sosial dan selama produk seni digunakan untuk menandai posisi stratifikasi sosialm penilaian asimetris produk seni akan ada. Orang yang lebih tinggi stratifikasinya akan memandang lebih rendah yang dibawahnya. Sedangkan yang di bawah, akan tetap mamandang tinggi nilai seni yang stratifikasinya tinggi. Oleh karenanya, seni juga menjadi suatu hal yang menjadi produk komersil sesuai dengan kapital.

  1. Teknologi dan informasi

Minimnya diskusi juga berkaitan dengan dampak kemajuan teknologi dan informasi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Iman Soleh selaku dosen dosen teater sekaligus praktisi teater yang memiliki komunitas teater Bandung CCL yakni;

Salah satu bentuk diskusi pasca pertunjukan teater yang bersifat konvensional akan mengalami perubahan yang cepat. Apalagi, kondisi Covid 19 yang memaksa acara yang biasanya bersifat tatap muka (offline), dijalankan dengan cara melalui jaringan jarak jauh (online) melahirkan inovasi terbaru dari determinisme teknologi, dalam hal ini cara diskusi pasca pertunjukan teater yang mungkin tidak perlu dengan cara konvensional. (Wawancara

Menurut Teguh Ratmanto (2005), ada sudut pandang yang sama sekali berbeda dari determinisme teknologi. Para pendukung determinisme teknologi meyakini bahwa teknologi, baik secara langsung maupun tidak langsung, merupakan penggerak utama roda perubahan sosial. Baik diakui atau pun tidak, teknologi memiliki kaitan yang erat dengan masyarakat. Secara teoretis, mereka yang meyakini determinisme teknologi dapat dikelompokkan menjadi kaum optimis dan pesimis.

  1. Literasi

Minimnya literasi pada banyaknya mahasiswa, menjadikan mereka kurang meminati diskusi pasca pertunjukan teater jika diadakan. Dari kekurangan literasi, maka terdapat beberapa pembahasan diskusi menjadi hambatan karena kesulitan dalam pemahaman. Mereka juga memilih diskusi tersebut sesuai dengan selera mereka yang jika menarik bagi individu, maka timbul ketertarikan untuk mengikuti ruang diskusi tersebut. Selain itu, mereka memilih diskusi secara non formal yang dirasa lebih rileks dibandingkan dengan diskusi pasca pertunjukan yang bersifat formal.

Dalam PISA, literasi membaca didefinisikan sebagai tingkat kemampuan dalam menggunakan informasi tertulis sesuai dengan situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan itu berkenaan dengan keterampilan memahami, menggunakan, dan melakukan refleksi terhadap bacaan sesuai dengan tujuan membacanya, yaitu untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta untuk berperan di masyarakat (OECD, 2003).

  1. Fasilitator dan jadwal

Diskusi kadang menjadi jalan buntu dengan tidak adanya penyelesaian. Setelah mencapai tahap klimaks dalam alur diskusi, tidak jarang perdebatan akhirnya menjadi omong kosong. Dan alasan tersebut adalah karena kurangnya fasilitator yang kompeten dalam pengadaan diskusi.

Selain itu terdapat jawaban kuesioner yang diisi oleh beberapa mahasiswa ISBI Bandung, faktor waktu menjadi alasan penghambat partisipator untuk dapat mengikuti diskusi pasca pertunjukan teater. Faktor waktu tersebut menimbulkan pratisipator yang sedikit, sehingga budaya berdiskusi setelah pertunjukan semakin lama semakin memudar. Contohnya adalah, seringnya pengadaan diskusi pasca pertunjukan teater diadakan di malam yang terlalu larut.

Menurut Reza selaku ketua KMT, dia berpendapat bahwa minimnya pembahasan isu yang ada dalam suatu karya, merupakan salah satu alasan minimnya diskusi pasca pertunjukan. Apalagi, pembahasan tersebut adalah menyangkut pembahasan yang lebih bersifat teknis teater, seperti; teknik panggung, artitik, dan lain-lain. Mereka juga memilih diskusi tersebut sesuai dengan selera mereka yang jika menarik bagi individu, maka timbul ketertarikan untuk mengikuti ruang diskusi tersebut. Selain itu, mereka memilih diskusi secara non formal yang dirasa lebih rileks dibandingkan dengan diskusi pasca pertunjukan yang bersifat formal.

2.4. Dampak minimnya Diskusi Pasca Pertunjukan di Institusi Seni

Dari penjelasan diatas, salah satu dampak minimnya diskusi pasca pertunjukan adalah kurangnya pemahaman tentang seni pertunjukan. Tanpa diskusi yang memadai, mahasiswa mungkin hanya mengalami pertunjukan secara permukaan dan kehilangan pemahaman mendalam tentang aspek-aspek kreatif, makna, dan pesan yang terkandung dalam pertunjukan.

Pertunjukan teater sering mengangkat isu-isu budaya dan sosial yang penting. Diskusi pasca pertunjukan adalah wadah untuk berpartisipasi dalam dialog tentang isu-isu ini. Minimnya diskusi dapat menghambat dialog budaya dan sosial yang diperlukan. Isu-isu yang berkembang menjadi wacana, bisa saja terhambat karena kurangnya wacana dari berbagai latar belakang para audiens.

Mahasiswa yang jarang terlibat dalam diskusi pasca pertunjukan mungkin kehilangan motivasi untuk berpartisipasi dalam seni pertunjukan secara aktif. Mereka mungkin tidak melihat nilai dalam refleksi pasca pertunjukan. Salah satu motivasi dari melihat pertunjukan, adalah pengalaman audiens dalam memahami isi pertunjukan tersebut. Dan pemahaman tersebut, salah satunya adalah terdapat dalam ruang-ruang diskusi.

Tanpa diskusi yang memadai, tidak akan ada umpan balik konstruktif yang dapat membantu seniman dan tim produksi dalam meningkatkan kualitas karya mereka. Kritiks merupakan jembatan antara seniman dengan penonton. Dari wacana kritikus, dapat memberikan motivasi dan inovasi terhadap karya-karya sang pencipta yang dapat dikembangkan secara konstruktif.

Diskusi pasca pertunjukan juga merupakan pengalaman sosial. Minimnya diskusi dapat mengurangi kesempatan untuk melakukan dialektika pemikiran.

2.5. Peningkatan Potensial Diskusi Paca Pertunjukan Teater

Fasilitator atau pengajar dapat mempersiapkan panduan diskusi yang terstruktur sebelum pertunjukan. Panduan ini harus mencakup pertanyaan yang merangsang pemikiran kritis. Selain itu, fasilitator yang kompeten juga dapat meminimalisir jalan buntu dalam diskusi, sehingga tidak ada penyeragaman sudut pandang dalam pemaknaan karya yang didiskusikan.

Memanfaatkan teknologi yang ada merupakan faktor pendorong dari determinasi teknologi dan informasi yang berkembang dengan pesat. Karena determinasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan ekosistem sosial. Oleh karenanya, diskusi dapat dilakukan dengan cara yang tidak melulu konvensional. Menurut Andrea Baldin (2018), menggunakan platform online atau media sosial untuk membahas pertunjukan dapat memfasilitasi diskusi yang lebih terbuka.

Mendorong kerjasama antara mahasiswa dari berbagai disiplin seni menjadi modal dalam pengadaan diskusi pasca pertunjukan. Konsep kerjasama dapat digunakan sebagai jalan alternatif dalam kolaborasi antara kelompok yang menghasilkan diskusi pasca pertunjukan teater Kristin Mahoney (2012).

Kemudian, promosi besar-besaran yang menimbulkan ketertarikan partisipan untuk menghadiri diskusi pasca pertunjukan teater. Dari promosi tersebut, tentu harus memiliki value yang menarik, yang biasanya nilai tersebut sesuai dengan tempat dan arah promosi tersebut disebarkan.

2.5. Pentingnya Penelitian Lebih, Terkait Diskusi Pasca Pertunjukan Teater

Terakhir, pembahasan akan menggarisbawahi pentingnya penelitian lanjutan dalam bidang ini. Penelitian lebih lanjut dapat melibatkan analisis lebih mendalam tentang dampak dari perubahan yang diusulkan, serta mungkin mengeksplorasi fenomena serupa di lembaga pendidikan seni lainnya. Apalagi penghimpunan jurnal yang kami cari dari penelitian terkait dengan kesenian teater yang berfokus pada diskusinya, dapat dibilang sangat sedikit. Sehingga perlu adanya penelitian yang lebih lanjut yang khususnya fokus pada pembahasan diskusi seni teater.

  1. 3. Penutup

3.1. Kesimpulan

Teater merupakan peristiwa ruang. Diskusi pasca pertunjukan adalah ekosistem pelaku seni pertunjukan dan penonton yang memiliki konteks krusial dalam pengalaman seni di peristiwa ruang tersebut. Diskusi teater membuka kesempatan bagi para penonton, terutama mahasiswa seni, untuk mendalami pemahaman tentang seni pertunjukan melalui aspek beragam wacana secara langsung. Dari diskusi juga, dapat meningkatkan penghargaan terhadap seni pertunukan dalam memahami interpretasi pada seniman. Dari diskusi juga, dapat mengembangkan keterampilan kritik seni yang bersifat konstruktif bagi seniman.

Kesimpulan dari penelitian jurnal tentang minimnya diskusi pasca pertunjukan teater menyoroti pentingnya meningkatkan interaksi dan refleksi antara penonton setelah menyaksikan pertunjukan. Dalam banyak kasus, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya forum diskusi pasca pertunjukan dapat menghambat pemahaman mendalam tentang karya seni teater dan mengurangi dampak emosional dan intelektual yang diharapkan dari penonton.

Perlunya menciptakan ruang bagi penonton untuk berbagi impresi mereka, bertukar pandangan, dan mengajukan pertanyaan kepada para pelaku atau pengarah teater. Diskusi pasca pertunjukan tidak hanya memperkaya pengalaman penonton tetapi juga dapat memberikan umpan balik berharga kepada para seniman untuk meningkatkan kualitas karya mereka di masa mendatang.

Minimnya diskusi pasca pertunjukan mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti ketidaknyamanan penonton, kurangnya fasilitasi dari pihak penyelenggara, atau bahkan kurangnya kesadaran akan pentingnya refleksi pasca pertunjukan yang Mmungkin juga menjadi sebuah kultur terhadap ketidakterimaan sebuah metode diskusi dalam ekosestem peristiwa raung teater. Oleh karena itu, penelitian ini mendorong upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan menyediakan dukungan yang lebih besar untuk inisiatif diskusi pasca pertunjukan.

Dengan menerapkan strategi untuk merangsang dan memfasilitasi diskusi pasca pertunjukan, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih berdaya guna untuk mengembangkan pemahaman dan apresiasi terhadap seni teater, serta memperkuat ikatan antara penonton dan seniman.

3.2. Saran

Dalam hal ini, setelah pemaparan mengenai minimnya diskusi teater di ISBI Bandung, maka kemungkinan diskusi teater akan dapat menjadi kembali hidup bila memulai dari yang bersifat mikro yaitu, stimulusasi kelompok teater kecil untuk mengadakan progam diskusi setelah pertunjukan.

  1. 4. Daftar Pustaka
  2. Suharto, S. (2007). Refleksi Teori Kritik Seni Holistik : Sebuah Pendekatan Alternatif dalam Penelitian Kualitatif bagi Mahasiswa Seni. Harmonia Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni 7 (1): 1-13
  3. Jazuli, M. (2001). Kritik Seni Pertunjukan. Harmonia Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni 2 (2): 78-88
  4. M H Bilada, Sukarelawati. (2018). Hubungan Pertunjukan dengan Perilaku Penonton, Jurnal Sosial Humaniora 9 (2): 138-142
  5. Sri Ati, Roosiati. (2015). Kebutuhan dan Perilaku Pencerian Informasi Aktor Teater EMKA (Emper Kampus) Fakltas Ilmu Budaya Universitas Dipenogoro. Jurnal Ilmu Perpustakaan 4 (2): 1-10
  6. (2012). Membaca Pertunjukan Teatrikal dan Ruang Penonton. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta: 1-14
  7. Benny. (2017). Metode Kritik Teater. Kalabuku
  8. Siregar, Mangihut. (2019). Kritik Terhadap Teori Derrida. Journal of Urban Sociology 2 (1): 65-75
  9. Saini, K. M. (2001). Taksonomi Seni. Bandung: STSI Press
  10. Abbing, Hans. (2008). Why Are Artist So Poor, Amsterdam University Press
  11. Adams, Alexander. (2019). Culture War, Imprind Academic Ltd
  12. Pratama, P. Y. S, & Ni Made S. W. (2018). Pengaruh Kuantitas, kemampuan Komunikasi Interpersonal, dann Perilaku Altruisme Anggota Kelompok Terhadap Social Loafing dalam Proses Diskusi Kelompok di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jurnal Psikologi Udayana 7 (1): 197-206
  13. Ratmanto, Teguh. (2005). Determinasi Teknologi Komunikasi dan Informasi. Mediator 6 (1): 43-50
  14. Mahoney, Kristin, & Rich Brown. (2013). Devising Interdisiplinary Teaching: A Case Study in Collaboration Between Theatre and Humanities Course. College Teaching 61 (4): 143-149
  15. Baldi, Andrea, DKK. (2018). The Impact of Social Media Aktivities in Theatre Demand. Departemen of Digitalization
  16. Manfaat Membudidayakan Diskusi setelah Pertunjukan, Pojokseni.com, 30 April 2021, www.pojokseni.com/2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here