Home AGENDA HEBOH SASTRA 2021-2022

HEBOH SASTRA 2021-2022

274
0
Pendiri Majelis Sastra Bandung Matdon/fb
OLEH Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

KETIKA politik dan ekonomi tak mampu memelihara akhlak manusia, maka sastra memiliki fungsi sebagai “agama” dan kontrol sosial bagi manusia.

Sastra menjadi harapan yang bisa merawat kebudayaan di muka bumi. Salah satu kebudayaan itu ialah kelembutan hati manusia dalam berbuat santun pada manusia lainnya.
Ini saya katakan karena jagat sastra di akhir Desember 2021 hingga kini dihebohkan dengan pernyataan dari yang menamakan diri komunitas puisi essai yang digawangi Denny. Bahwa Denny JA calon pemenang Nobel Sastra 2022. Memang sastra selalu ramai diperbincangkan dalam riuh maupun sunyi, sastra selalu seksi untuk diperbincangkan, sampai akhirnya ada pertanyaan apakah sastra masih kontekstual dengan persoalan masa kini. Tentu, walaupun harus disadari bahwa sastra bukan merupakan teori yang bisa dipraktekkan seketika, ia gerak dan digerakan, hidup dan dihidupkan oleh sesuatu yang tidak disadari namun terjadi, jadi sastra disempurnakan oleh fenomana kejadian alam. Dan yang paling harus kita fahami bahwa sastra bukan lahir begitu saja tanpa pemikiran intelektual, ia lahir dari cermin kehidupan.

​Heboh Sastra

Tak hanya itu, hiruk-pikuk sastra sepanjang 2021 juga dihebohkan dengan munculnya tokoh yang bisa membuat puisi lima menit, menulis novel dalam satu jam. Persoalan Denny JA yang keukeuh ingin disebut tokoh sastra berpengaruh di Indonesia ini, tentu menjadi topik hangat. Sastra nampaknya tengah digoyang oleh ketergesaan manusia ingin segera terkenal secara instan.
Perkembangan bahasa dan sastra sudah tidak bisa dibendung lagi. Internet, merupakan salah satu kenapa sastra makin banyak diminati. Di grup-grup Facebook hampir setiap minggu ada pelatihan nulis puisi ber- ISBN, ajakan untuk membuat buku antologi bersama. Di Grup Whatsapp juga demikian, ada sejumlah orang yang memiliki lebih dari tiga grup menulis puisi, belum lagi di IG. Yang menarik ada aplikasi HAGO yang isinya sejumlah grup baca puisi dan musik, setiap malam ada grup “Hago Sastra”, mereka membaca puisi dari jam delapan malam sampai subuh.
Di aplikasi ini juga hampir sebulan sekali digelar lomba baca puisi secara live, dengan hadiah jutaan rupiah. Pesertanya anak muda semua dari mulai karyawan dan mahasiswa.
Di sisi lain, hal ini tentu fenomena yang sangat menggembirakan, bahwa denyut sastra tak pernah mati. Terlepas apakah mereka mengerti sastra atau tidak. Tetapi perlu juga diperhatikan secara seksama, bahwa semakin banyak orang yang tidak faham terhadap persoalan sastra, baik dari segi sejarah, bagaimana sastra harus dinikmati secara hormat, bagaimana menghormati diri sendiri dan sebagainya. Mereka tidak peduli semua itu, yang penting berkarya, setelah itu mereka terkenal/dikenal sebagai penulis nasional walaupun baru menulis satu buku.
Nobel Denny JA
Birahi sastra Denny JA cukup menggelitik hati, para pendukungnya mungkin bisa mengerti puisi tapi hati mereka tidak memuisi. Fahamilah kehidupan bathin bisa bepuisi, jika hati mereka memuisi. Kehidupan puisi itu seperti kehidupan puasa. Karena puisi selalu dimaknai sebagai rasa atau suasana bathin yang tercipta dalam bentuk kata-kata. Seorang Penyair akan berupaya mengekstrak batinnya menjadi serat halus kata-kata, sehingga pembaca dapat merasakan dan terbawa suasana apa yang ada di batin penyair.
Manusia akan bertemu dengan hal-hal yang bersipat transendental. Puisi itu memasuki wilayah transedental, agar jiwa kita memuisi itu sulit, ia harus benar-benar faham isi bukan sekedar menulis. Ya, seperti orang yang menulis status politik sementara ia sendiri tdak tahu menahu soal status politik. Atau semua tindakan kita yang mengarah pada kelakuan yang tak senonoh; menghina manusia, ngomongkeun batur, tidak baik dengan tetangga, warung atau tukang sayur menjadi muara gosip, sinetron ditonton lebih lama ketimbang ngaji Quran. Itu tidak memuisi.
Membaca puisi harus dengan rasa dan hati yang bersih, jika tidak meskipun puisi tersebut tersusun dengan kata-kata indah, dan irama yang apik, puisi tersebut akan sulit untuk dipahami dan masuk ke dalam rasa. Dunia puisi adalah dunia batin dan suasana rasa.
Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang sangat puitis, maka manusia harus senantiasa menjungjung nilai-nilai estetik dan mengajarkan manusia itu sendiri agar mencapai puncak kebenaran jati dirinya. Manusia itu mameilihara rasa religiusitas yang tinggi, maka makhluk beragama harus memiliki sisi transendensi profetikisme dalam dirinya, mampu menuntun arah dirinya agar mencapai puncak religiusitasnya.
​Ini sebenarnya bukan hanya tugas sastrawan yang harus membereskan “otak bengkok” mereka.
Soal yang lain, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia harus mengusut keterlibatan oknum-oknum di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa di seluruh Indonesia dalam program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA, serta menyerukan kepada instansi pemerintah maupun organisasi non pemerintah terkait bidang sastra, budaya, penulisan kreatif dan literasi, untuk bersama dengan kewenangan serta tugas pokok dan fungsi masing-masing, melakukan penyadaran kepada masyarakat serta mencegah dan memberantas berbagai upaya rekayasa, manipulasi dan penyesatan dalam bidang sastra dan literasi yang dilakukan baik oleh DJA.
Meminta mereka untuk menghentikan kegiatan menyesatkan sastra. Ini adalah kegagalan dunia pendidikan, kita menghasilkan manusia yang gemar membanggakan tempelan-tempelan. Apa yang dilakukan Denny JA, Ahmad Kindi, Prof Wahyudi Siswanto, Iwan Jaconiah adalah penyesatan.
Harus diakui, tak satupun bisa melarang orang untuk menulis puisi, novel atau apapun, dan tak seorangpun bisa mencegah seseorang untuk menjadi penyair atau penulis terkenal. Tapi pelabalean nama diri sebagai penyair atau penulis nasional serta tokoh sastra harus diuji dulu, Entah dengan sistem apa dan bagaimana mengujinya bagi pemerintah, tapi di kalangan kami tentu salah satunya adalah Tuuli zamanin alias panjang waktu.
Dan Kita tidak mempersoalkan puisi essainya, tapi prilaku modal besar yang mengantarkan seseorang harus disebut tokoh sastra paling berpengaruh. Parahnya lagi, kampus sebagai tempat kaum intelektual menjadi ladang penyemaian benih benih bisnis puisi essai. Contoh kampus ISBI Bandung. Malkan Junaidi, salah Seorang penyair Asal Madura bahkan menyebut kampus ISBI sebagai keluarga puisi essai.
“Tdak kebetulan belaka jika para dosen Prodi Seni Teater ISBI merupakan pendukung Denny JA; tulisan-tulisan mereka dimuat di page Denny JA’s World, khususnya terkait cicicuit submisi nama Denny JA oleh komunitas puisi esainya ke event tahunan Nobel Sastra” ujarnya.
Mereka adalah Agus Rahmat Sarjono, Tatang Abdulaah,. Rachman Sabur, Lili Rosida Dan Ipit Saefidier Dimyati. Agus Sardjono sepertinya merupakan muasal. Kronologinya: Denny JA merekrut The Three Maskentir: Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, dan Joni Ariadinata, para penjaga gawang majalah sastra yang sekarat waktu itu, Horison. Denny JA juga membikinkan proyek bernama Jurnal Sajak kepada ketiganya, yang dari sini banyak seleb sastra (nama dan tulisannya bisa dirunut melalui situs puisiesaidotcom) terjaring dan terjebak.
Agus sendiri kemudian mengajak para koleganya, 4 nama di atas, masuk ke gerbong ber-AC dan berkursi empuk, lengkap restoran mewah, bernama Puisi Esai. Entah bagaimana persuasinya, yang jelas sukses.

Menurut Malkan, tak cuma kolega, keluarga pun berhasil diajak ikut serta, Nikmah Sarjono, istrinya merupakan penerjemah buku Denny JA, Sapu Tangan Fan Ying, yang diklaim bestseller di Amazon. Lalu Irsyad Muhammad, anak pasangan Agus dan Nikmah, esainya menyoal kenapa cuma Pram dan Denny sastrawan Indonesia yang secara resmi dicalonkan jadi penerima Nobel Sastra, dimuat di page Denny JA’s World 27 Desember 2021

Perlu diketahui Lili Rosidah, dosen ISBI itu, esainya dimuat di page Denny hari Kamis kemarin, konon tak lain adalah adik Agus R. Sarjono.
Mereka semua itu, dalam konstelasi ini, layaklah disebut Keluarga Puisi Esai. Kampus yang awalnya tempat bermuaranya kesadaran berpuisi, menjadi kesadaran bisnis intelektual. Cag!***
Previous articleTHE DORM DALAM CINTA AMAROOSSA & ANUGERAH SENI LEMBAGA ANTI NARKOTIKA
Next articleKisah Kina di Bumi Pasundan, Mengajak Ingatan Sejarah Lalu Tanah Sunda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here