Home AGENDA Tafsir Imajinasi Max Havelaar, Kopi dan Karya Seni itu

Tafsir Imajinasi Max Havelaar, Kopi dan Karya Seni itu

0
lukisan “Arek Tengger Panen Kopi” Bambang Sudarto (doc)

Tafsir Imajinasi Max Havelaar, Kopi dan Karya Seni itu

Indonesia merupakan pemilik banyak warisan sejarah, baik seni budaya maupun situs-situ yang kini masih ada dan tersimpan. Upaya ini saya melihat ada dalam setitik cerah di dalam event Road to Max Havelaar, Kick Off Qatar Year of Culture 2023 Kopi Togetherness.

Bagi saya melihatnya event di Bentara Budaya Jakarta pada 6-8 Oktober 2023 semacam serpihan racikan sejarah besar dimana Prawoto Indarto sang pemilik ide cerdas ini merajut tema kopi dan kolonialisme dan di tafsir dalam visual karya seni yang digarap  sejumlah seniman dan dikemas dalam pameran berjudul “The Book That Killed Colonialism”.

Berbeda dari pameran seni lainnya, pameran ini menghadirkan seniman mengolah sejarah masa lalu dan para aprisiator yang hadir melihat sajikan keajaiban tafsir sehingga di setiap sudut karya punya cara pandang dan konsep seni secara cermat untuk mewakili karakter masing-masing seniman.

Seniman memberikan cara pandangan dan dalam proses kreatif para seniman membaca apa yang ada dalam, lingkungan situasi dan yang dapat mendorong inspirasi soal Max Havelaar  seniman disini membuka cakrawala lebar tentang Kopi dan kisahnya lewat karya seni.

Pameran ini menghadirkan karya seniman Akbar Linggaprana, Arie Kadarisman, Bambang Prasadhi, Bambang Sudarto, Bambang Winaryo, Dirman Saputra, Dyah Anggraini, Eri Fachrizal, Haris Purnomo, Indyra, Mahdi Abdullah, Syakieb Sungkar, Trinawangwulan dan Vincensius Dwimawan seniman yang menampilkan karya terbaiknya.

Hilmar Farid, Dirjen Kemendikbudristek dalam membuka pameran mengatakan
“Kopi dan produk perkebunan di Indonesia pernah memiliki sejarah yang menyakitkan melalui praktek Tanam Paksa. Bagaimana kita mengolah sesuatu yang menyakitkan menjadi sesuatu yang membanggakan di masa sekarang adalah bagian dari kerja kebudayaan,” ujar Hilmar Farid.

“Diplomasi Kopi” karya Dirman Saputra

“Multatuli the Author” karya Indyra (dok)

Kopi Visual

Membedah kopi begitu lengkap diketahui secara pasti, jadi mengunjungi pameran terdapat sebuah pencerahan tanpa buka arsip panjang. Jadi, jelas kemungkinan kisah pembedahaan kopi dan mengetahui isi dari sejumlah pengantar terbuka. Apa kita masih dibayangi sejarah tanam paksa? Atau terjebak dengan kolonialisme? Dimana gaya lama yang bersejarah masih tanpa henti?

Saya melihat peran dalam perluasan kolonial dimana soal kopi masihg  global perusahaan yang masih kuasai dan petani tetap marginal. Dalam mengunjungi pameran ini terdapat sebuah tafsir, jelas kemungkinan akan ada ejawantah bahwa kita mengetahui maksudnya tak lain memorial lama diungkap.

Pameran Seni Rupa ini adalah bagian dari gerakan perjalanan Max Havelaar untuk mengkritisi kembali masalah kemanusiaan yang muncul dari situasi global yang semakin komplek. Kami mengajak para seniman berinteraksi dengan buku karya Multatuli Max Havelaar dengan latar cerita di Lebak. Sebuah karya sastra kelas dunia yang telah memberi perubahan baik di bidang sosial,politik, ekonomi dan kebudayaan bagi umat manusia di seluruh dunia, demikian pengantar yang cerdas disampaikan.

“Maka Realisme menjadi pilihan untuk mewujudkan gagasan para seniman melakukan interaksi dengan Max Havelaar. agar karya- karya mereka ‘lebih mudah dibaca’ oleh masyarakat meski tetap memuat simbolisme sebagai nafas dunia seni rupa. Memang belum maksimal, namun ini dapat menjadi ruang dialog baru antara para perupa dengan karya sastra kelas dunia dari Multatuli bernama Max Havelaar,” kata Prawoto Indarto

Kurator Bentara Budaya Jakarta Hilmi Faiq mengatakan atas karya para seniman ini baginya mencoba mendekonstruksi Multatuli atau Eduard Douwes Dekker lalu mengkontektualisasikannya dengan ruang dan waktu saat ini. Dekker memang mengandung ambivalensi atau paradox dalam dirinya sehingga kita perlu mendekonstruksi dan kritis dalam membaca karyanya.

“Paradoks pertama bisa dilihat dari sisi baik, yakni bahwa dia seorang Belanda tulen yang justeru membela kaum terjajah, Indonesia. Ini langkah paradoksal di masa itu, tentu saja, ketika Belanda gencar- gencarnya menggelar operasi tanam paksa (cultuurstelsel) di banyak tempat antara lai di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, Dekker justeru menentangnya sebagaimana tertuang dalam novel Max Havelaar,” tulisnya dalam katalog Digital.

Sang kurator yang juga jurnalis Kompas itu menambahkan juga bahwa pameran bertajuk Road to Max Havelaar: The Book That Killed Colonialism, memberi pesan dekonstruksi terhadap Multatulis sekaligus mengajak kita merenung tentang hakikat penjajahan yang tak kunjung hilang ini, jelas Hilmi Faiq.

Tapi Saya melihat soal jika hakikat penjajahan masih terlihat dalam kontkes saat ini tentang kopi masih nyata, mereka khususnya petani kopi masih benar-benar, sekarang  masih termarginal

Dalam pameran ini, lukisan “Arek Tengger Panen Kopi” Bambang Sudarto membuat potret diri dimana dia mengenang masa lalu orang tuanya yang punya kebun kopi di masa di kawasan Bromo Jatim. Lukisan sangat realis natural dan ini karya yang bisa dibilang sempurna. Arie Kadarisman “Sang Pembela” tafsir upaya Eduard Dauwes Dekker yang dia terjemahkan dari novel Max Havelar sebagai satir politik terhadap kerajaan Belanda. Bambang Prasadhi dalam karyanya kesaksiannya dalam melihat persoalan pemerintah Belanda di Lebak melalui sudut pandang ketokohan perempuan pribumi, Adinda, kolonial dan penguasa feodal terhadap rakyat. Bambang Winaryo menyajikan patung SUKARNO-HATTA (DIALOG TENGAH MALAM) adalah karya yang kuat. Patungnya mewakili otokritik dari soal kolonial itu. Dirman Saputra dalam “Diplomasi Kopi” karyanya yang apik detail soal kopi dan membaca praktek kolonialisasi saat itu terjadi.

Pada karya Dyan Anggraini  dengan karya “Tap Tapi Tapi” dia bicara perlawanan masyarakat nusantara dan daya dorong perlawanan yang jelas. Sedang karya Indyra “Multatuli the Author” dia membuat metafor dua muka satu sisi belanda dia bela pribumi. Karyanya bagi saya penuh imajinasi yang cukup sublim dan karya lainnya yang kuat juga meski tak bisa saya sebutkan semua. Karya seni soal tafsir kopi ini bagia saya mengejutkan dan apik.

Dalam Festival “Road to Max Havelaar” di Bentara Budaya Jakarta, 5-9 Oktober 2023 sangat menarik dan bravo…!!! (aendra medita)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here