Home AGENDA Prayers: Human HIStory 202122, Rd. Syarief Hidayat

Prayers: Human HIStory 202122, Rd. Syarief Hidayat

346
0
Rd. Syarief Hidayat, Perupa Indonesia /Andi S
PERUPA Rd. Syarief Hidayat menggelar pameran karya rupanya yang bertajuk The Prayers: Human HIStory 202122. Pameran digelar dari mulai 2-7 Agustus 2022 di THEE HUIS GALERY. sebuah respon karya atas pandemi 2020-2022 yang mengejutkan. Berikut adalah tulisan sang Istri yang kami kutip.
SENI.CO.ID — “Tak ada gunanya waspada menghadapi takdir, namun doa bermanfaat menghadapi takdir sebelum dan sesudah ia turun dan sesungguhnya ketika musibah itu ditakdirkan turun dari langit, maka ia akan segera disambut oleh doa di bumi lalu keduanya bertarung sampai hari kiamat.” H.R. Ahmad, Al-Hakim dan Thabrani The Prayers: Human HIStory 202122 ini berawal dari empati Rd. Syarief Hidayat atas pandemi yang melanda dunia.
Begitu dahsyatnya Covid-19 memengaruhi berbagai sektor kehidupan, mengusik batinnya untuk melakukan sesuatu, sesuai kapasitasnya. Ia bukan tenaga kesehatan atau pengambil kebijakan untuk menangani Covid-19.
Sebagai seorang perupa, menggelar pameran lukisan untuk charity programme sudah biasa dilakukannya. Ide pun tercetus. Rd. Syarief berinisiatif menyelenggarakan pameran amal kolaborasi Kata & Rupa.
“Melipat Dilipat Terlipat” mix media pada kanvas 60 x 70 cm, 2022
 

“Circle” mix media pada kanvas 100 x 100 cm, 2020

Ia mengajak para tokoh, ahli, dan praktisi di bidang masing-masing, baik nasional maupuan internasional, untuk berkolaborasi dalam proyek ini. Menurutnya pandemi ini bukan lagi tentang siapa dan dimana, melainkan tentang KITA –cerita kita, apapun profesi kita, dimanapun kita berada. Ide dituangkannya dalam coretan pena, dicermati, dipikirkan dengan matang, diskusikan, dan dimulai. Rd. Syarief sangat serius menggarap proyek ini.
Ia memilih sendiri mereka yang akan dilibatkan dalam proyek, menghubungi langsung, dan memaparkan gagasannya. Respon para tokoh, ahli, praktisi dan masyarakat yang diajak untuk berkontribusi dalam proyek ini luar biasa. Tidak sedikit yang memandang sebelah mata, mencibir, dan menolak mentah-mentah untuk terlibat. Ada yang pikir-pikir dulu alias ragu-ragu sebelum akhirnya menolak juga. Namun mayoritas menyambut antusias dan dengan senang hati mengirim karya tulisannya, buah pikiran mereka. Mereka berasal dari berbagai kalangan: politik, sosial, ekonomi, kesenian kebudayaan, pendidikan, agama, kesehatan, olah raga, dan pertahanan keamanan.
Tak lupa, lintas warga negara, benua dan samudera! Satu per satu karya tulisan masuk. Rd. Syarief Hidayat yang produktif berkarya, mulai memilih karya-karya lukisan yang ada dan siap dipamerkan, serta membuat karya lukisan baru yang sesuai dengan tema.
Ia tak segan menerima masukan dan saran membangun dari berbagai pihak untuk keberhasilan proyek ini. Rd. Syarief juga menggandeng berbagai pihak untuk bekerja sama mendukung kegiatan ini. Manusia berencana, Allah juga punya rencana. Rencana Allah pasti yang terbaik bagi umat-Nya. Grafik kasus Covid-19 yang menanjak tajam di tahun 2020 membuat banyak negara menutup akses keluar masuk negaranya (lock down), termasuk Myanmar dan Indonesia.  Tentu pameran yang sudah direncanakan harus mundur dari jadwal semula.
Rd. Syarief pun memohon maaf dan menyampaikan kendala yang dihadapi kepada satu per satu kontributor. Meski demikian, ia tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan pameran kolaborasi ini, sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada semua pihak yang terlibat. Qadarullah, di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, Myanmar juga harus menghadapi krisis politik dan keamanan akibat pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada tanggal 1 Februari 2021.
Ditambah kasus Covid-19 yang memasuki gelombang ketiga di Myanmar pada pertengahan tahun 2021, berdampak semakin tidak mudah bagi siapapun keluar masuk Myanmar. Kegelisahan batin seorang Rd. Syarief pun semakin menjadi. Janji adalah hutang yang harus ditepati. Amanah harus ditunaikan. Ditengah situasi yang penuh tantangan dan dinamika tinggal di Myanmar yang mendebarkan, persiapan pameran tetap dilakukan, sekecil apapun. Koordinasi dijalankan.
Untaian doa tak henti dipanjatkan. Tema yang semula diusung sebagai respon atas pandemi Covid-19 dalam pameran kolaborasi Kata & Rupa: Human History 2020, bergeser menjadi Pameran Kolaborasi The Prayers: Human HIStory: 202122.
Pameran ini tidak lagi bicara pandemi Covid-19 semata, namun menjadi sebuah pameran tentang rangkaian peristiwa dalam kehidupan manusia dan doa-doa. Dalam perjalanan sejarah kehidupan, manusia adalah makhluk yang lemah, tiada daya tanpa petunjuk dan pertolongan Sang Pencipta. Doa menjadi senjata yang tak terpisahkan. Alhamdulillah, atas izin Allah, pembukaan bandara internasional di Myanmar di akhir April 2022 mulai diberlakukan. Rd. Syarief pun dapat kembali ke Indonesia untuk mewujudkan gagasannya. Rangkaian proses panjang nan berliku untuk sebuah perhelatan kolaborasi lintas batas: usia, jenis kelamin, agama, profesi, pangkat dan jabatan, serta kewarganegaraan, siap digelar.
Rd. Syarief sengaja tidak mengubah karya tulisan para kontributor, termasuk jabatan dan posisi mereka kala itu. Ia membiarkan karya mereka apa adanya, karena sejatinya buah pikiran itu adalah ungkapan jiwa dan perasaan penulis, yang dituangkan pada masa tersebut. Barakallah, Suamiku Rd. Syarief Hidayat. Selamat mewujudkan mimpi dan harapan. Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kesehatan, kemudahan urusan, meridai setiap langkah, melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepadamu dan kepada kita semua. Mudah-mudahan pameran kolaborasi ini menjadi tambahan pahala bagimu dan semua pihak yang terlibat. Karena sesungguhnya, pameran ini adalah doa-doa yang kita deraskan, penyempurna ikhtiar manusia, setelah daya dan upaya kita lakukan. Teruslah berkarya dan menginspirasi. I love you Yangon, 19 Dzulhijjah 1443H 19 Juli 2022,
Rr. Septriwi Antarsari Guru Sekolah Indonesia Yangon
Sengaja tulisan diatas dikutip sebagai sebuah kekuatan yang mana bisa mengambarkan karya-karya Rd. Syarief Hidayat yang bisa disaksikan sejak tanggal 2-7 Agustus 2022, dari pengantar itu karyanya cukup tergambarkan dengan kasat mata.
Laporan dan Foto-Foto Andi S
Previous articleNovel Karya Dido Michielsen, Ungkap  Keberadaan Nyai di Hindia Belanda
Next articleKegetiran Pandemik Membuka Ruang Ekspresi Non Rupa dalam Seni Rupa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here