Home AGENDA Matinya Kritik di Negeri Kita

Matinya Kritik di Negeri Kita

971
0
Hendrajit, Pengamat Politik Global Future Institute (GFI)/AME

Matinya kritik di negeri kita saat ini bukan sekadar represi dari rejim. Kawan saya wartawan senior Idrus Shihab baru saja buat tulisan menarik ihwal memudarnya para kritikus seni sepeninggal Suka Harjana dan Deny Sakri, atau kritikus sastra sekaligus pengulas buku seperti HB Yasin.

Bukan berarti Idrus bermaksud mengkultuskan para kritikus tersebut sehingga terkesan yang lain tak punya kualifikasi sebagai kritikus bereputasi dan kredibel pada bidang seni sastra, seni musik serta seni rupa. Menurut saya pandangan seperti bung Idrus tadi saya pandang sebagai pasemon, bahasa perlambang, atau mungkin juga bahasa sanepo. Bahwa ada yang tersirat dan jauh lebih mengkhawatirkan pada aspek kebudayaan dan peradaban kita sebagai bangsa. Bukan saja sekarang tapi juga kelak, kalau hal semacam ini tidak kita sadari akar penyakitnya.

Mati surinya kritik dan memudarnya para kritikus menurut saya baru simptom/gejala penyakit, bukan akar penyakitnya itu sendiri. Akar penyakit atau patologisnya adalah, semakin merebaknya kedangkalan berpikir dan penyempitan wawasan, dan satu lagi, kecenderungan kuat mengabaikan pentingnya kesadaran intutif dalam menggeluti bidangnya.

Jadi bagaimana mau lahir para kritikus di pelbagai bidang dan ranah kegiatan, jika sang penulis tidak menjiwai bidang yang dia ulas, apakah itu seni sastra, seni musik atau seni lukis. Tidak menjiwai apa yang dia tulis, itulah masalah inti dari krisis kebudayaan dan krisis peradaban bangsa kita sekarang.

Kemarin, awalnya iseng-iseng aja mengomentari sekilas tulisan kawan lama saya Denny JA tentang buku pada sebuah WAG. Tapi setelah saya posting dan baca ulang, saya kaget sendiri dengan komentar sekilas saya itu.

Sebenarnya saya cuma mau mempertegas bahwa beberapa buku yang Denny sebut seperti Di Bawah Bendera Revolusi tulisan Bung Karno, Demokrasi Kita tulisan Bung Hatta, Renungan Indonesia tulisan Sutan Sjahrir, dan Habis Gelap Terbitlah Terang tulisan RA Kartini, sejatinya hanya sekumpulan tulisan-tulisan lepas dari masing-masing penulis tersebut yang kemudian di era berikutnya atas prakarsa beberapa orang, kemudian dibukukan. Jadi buku-buku tersebut sejatinya bukan yang secara sadar dan terencana disusun sebagai buku yang utuh.

DBR merupakan serangkaian tulisan-tulisan Bung Karno sejak 1927-1940 di berbagai surat kabar kala itu seperti Pemandangan, Utusan Hindia, Fikiran Rakyat, dan Fajar Asia. Demokrasi Kita adalah tulisan Hatta dalam bentuk artikel di majalah Pandji Masyarakat besutan alm Buya Hamka. Renungan Indonesia, sejatinya adalah kumpulan catatan harian Sutan Sjahrir semasa di studi di Belanda maupun pengasingan Boven Digul. Renungan Indonesia dibukukan atas prakarsa dari mantan isterinya yang orang Belanda.

Habis Gelap Terbitlah Terang, sejatinya merupakan kumpulan surat-surat Kartini kepada kawan-kawan penanya di luar negeri. Menjadi buku atas prakarsa dari Dr Abendanon, salah seorang pejabat kementerian pendidikan di Hindia Belanda, yang bersahabat erat dengan Kartini dan ayahandanya, Bupati Jepara.

Lantas bagaimana mengaitkan dengan matinya kritik dan memudarnya kehadiran para kritikus sekelas HB Yasin atau Suka Harjana seperti kegelisahan bung Idrus Shihab? Di sinilah benang merah dari beberapa tokoh terkait dengan buku-buku yang disebut-sebut bung Denny JA tadi.

Keluasan wawasan, ketajaman analisis, kesadaran intuitif para tokoh tadi dalam menuliskan isu atau topik tertentu lewat artikel surat kabar, catatan harian atau bahkan lewat surat-menyurat, melahirkan tulisan-tulisan yang menawarkan sebuah penglihatan baru dalam memandang isu atau topik yang ditulisnya. Karenanya, selain keluasan dan kedalamannya, pribadi sang penulis itu sendiri dirasakan hadir oleh para pembacanya.

Itulah yang membuat rangkaian tulisan Bung Karno dalam DBR, rangkaian tulisan2 bergaya esai ala Sutan Sjahrir lewat catatan hariannya, atau surat-surat Kartini pada teman-teman Belandanya, serasa berjiwa dan bernyawa. Tak heran buku-buku tersebut kerap dibaca ulang berkali-kali karena sesungguhya sang pembaca bukan bermaksud menemui tulisannya, melainkan pribadi sang penulis itu sendiri yang saat ini sudah wafat.

Pada lapis selanjutnya, meskipun saya tidak selalu sepakat pada gagasan pokok atau isi tulisan, di harian Kompas halaman 4 sejak era 1970-an selalu dinanti beberapa penulis kolom bergaya esai. Seperti Rosihan Anwar, Umar Khayyam, Romo Mangunwijaya, Dr Sujoko dan MT Zen, Parakitri Tahi Simbolon, MAW Brouwer, sampai ke Fahri Ali dan Emha Ainun Nadjib.

Seperti juga para tokoh lapis lebih senior yang saya sebut pada awal tulisan, mereka-mereka ini tulisannya dinanti pembaca karena kepribadian si penulisnyalah yang dinanti. Kadang apa yang dituliskannya itu sendiri nggak penting-penting amat buat pembaca. Jiwa tulisan yang sebenarnya ditunggu.

Kritikus seni-budaya yang mulai memudar seperti kegelisahan bung Idrus, sebenarnya hanyalah simptom dari sebuah keadaan yang lebih mengkhawatirkan. Tak adanya kekuatan kepribadian hadir dalam sebuah tulisan dari kalangan yang mungkin bung Idrus bayangkan atau sangka sebagai kaum intelektual.

Bedanya dengan para penulis sekarang, para penulis zaman baheula, meskipun dapat honor lewat tulisannya, namun saat memutuskan menulis karena didorong kesadaran bahwa dia punya ruang buat berekspresi. Ya, ruang buat berekspresi, yang dia sadari betapapun dengan segala keterbatasannya, dia terpanggil untuk memaksimalkannya. Honor hanya sekadar imbal jasa yang justru jadi kewajiban sang pengelola surat kabar untuk mengapresiasinya.

Namun di era sekarang, dan di industri surat kabar yang serba beraroma komersial, orang menulis di surat kabar untuk mendapatkan honor, mendahului pertimbangannya untuk memilih topik apa yang harus dia tulis. Alhasil, isi tulisan tidak menggambarkan kegelisahan sang penulis. Padahal kegelisahan sang penulis, entah itu fiksi atau nonfiksi, memancarkan kekuatan kepribadian sang penulisnya.

Leo Tolstoy, sekadar contoh pengarang fiksi sastra Rusia, bukan orang komunis, bahkan Kristen yang amat religius, namun para revolusioner Bolshewik seperti Lenin, Stalin dan Trotzky, mengapresiasi Tolstoy telah berjasa memberi alas bagi timbulmya revolusi Oktober 1917 lewat karya-karya sastranya. Sosok Anna Karenina, Dokter Karerin suami Anna, atau Levin, ipar dari Anna, merupakan karakter2 yang dimunculkan lewat novel Anna Karenina mewakili kegelisahan Toltoy atas terjadinya kemacetan kultural di Rusia pada era kekaisarahn Romanov.

Akar krisis budaya saat ini adalah ketika kegitan menulis, secara langsung atau tidak, sadar atau tidak, lebih didorong oleh faktor-faktor luar dirinya ketimbang hasil kontemplasi dan perenungan yang berasal dari dalam kepribadian si penulisnya. Sehingga isi tulisan tidak ditangkap oleh daya rasa dan daya pikir pembacanya, sebagai kegelisahan sang penulis.

Ibarat orang berbicara, tapi tidak bisa diselami intonasi dan langgam suaranya. Apalagi cengkokakannya. Hehehehe.

Hendrajit, Wartawan senior dan Pengamat politik Global Future Institute (GFI)

Previous articleAyu Bulantrisna Djelantik Maestro Tari Legong Mangkat
Next articleKARYA KONSEP DREAM COMMISSION ROLLS-ROYCE DITAMPILKAN DI FONDATION BEYELER DAN SERPENTINE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here