Home AGENDA Longser Sebagai Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat Tingkatkan Kecerdasan Majemuk

Longser Sebagai Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat Tingkatkan Kecerdasan Majemuk

71
0
Festival Longser ke 7 se Jabar & Banten 2019

Oleh Hermana HMT*

Kementerian PendidikanKebudayaanRisetdan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikbudristek RI) tahun 2022 telah menetapkan Longser menjadi salah satu seni pertunjukan warisan budaya takbenda (WBTbdari Provinsi Jawa Barat. Sebagai teater tradisionalLongser tumbuh dan berkembang di kawasan Bandung RayaPengukuhan sebagai WBTb tentu menjadi pekerjaan rumah bersama antara pemerintah daerahkomunitaspelaku dan stakeholder pendukung lainnya untuk terus melestarikanmengembangkanmemanfaat dan melakukan pembinaan agar Longser senantiasa terjaga eksistensinyalebih khusus di daerah penyangganya.

Memperhatikan Longser maka kita dapat menyaksikan dan merasakan atmosfir masyarakat tatar Sunda yang kental dengan bahasa daerah dan keakrabannya. Para pemain Longser yang bersahaja, guyonan yang mengundang gelak tawa, musik dan keceriaan gerak tari tradisional yang menghangatkan suasana menjadi daya tarik tersendiri dan cukup menjanjikan bagi dunia hiburan di masyarakat lokal Jawa Barat, bahkan nasional dan dunia.

Cerita dalam Longser mengungkap persoalan kehidupan masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan sosiokritik. Aktor Longser dituntut merangkai cerita dan bertutur kata secara spontanbesar sekali manfaatnya bagi peningkatan penguasaan berbahasa dan public speaking. Berlatih Longser adalah berlatih mengolah imajinasi, mengolah emosi, mengolah tubuh dan menyerap ilmu pengetahuan yang hasilnya bukan semata untuk mencetak seseorang menjadi pelaku seni, tapi dari pengolahan itu secara tidak langsung telah merangsang multi kecerdasan seseorang.

Unsur komedi yang cukup kental membuat Longser sangat akrab dengan apresiatornya, ringan dan sangat menghibur. Apabila pengemasannya di tata lebih apik dan senantiasa melihat perkembangan zaman, prospek kedepan Longser terbilang cukup menjanjikan. Dunia televisi lokal maupun nasional semakin banyak dan senantiasa melirik, mengingat dunia komedi adalah hiburan yang tidak aus ditelan zaman. Terlahirnya komedian di televisi seperti Opera Van Java dan sejenisnya, itu tidak lepas dari adopsi teater rakyat (Lenong, Longser, Ketoprak dan sabagainya) yang berkembang di Indonesia. Dalam artian, selain bisa hidup sebagaimana Longser seutuhnya, teater tradisional ini bisa menjadi tempat penggodogan awal untuk menuju entertainer yang cakupannya tidak berkembang di daerah semata. Dengan penguasaan skil yang signifikan, Longser dan pelakunya bisa didorang menjadi seni dan seniman lokal yang mengglobal.

Longser tidak sekadar tontonan, namun sarat dengan tuntunan. Disana ada etos kerja gotong royong/kolektifitas, memupuk kepercayaan diri, berlatih menguasai diri juga orang lain, dan mengolah rasa mendorong memahami, mengerti, menghargai ekspresi orang lain. Longser merupakan perwujudan daya imajinasi dan kreatifitas menjadi sebuah pruduk budaya yang komplek, di dalamnya melingkupi bangunan yang tersusun dari bahasa, cerita, tarian, musik, nyanyianakting dan seni rupa.

Sejarah Singkat Perkembangan Longser

Menurut catatan sejarah Longser mulai muncul sekitar tahun 1915 atas prakarsa dua orang seniman Bandung bernama Aleh dan Karna, selanjutnya  dipopulerkan oleh dua tokoh besar Longser, Bang Tilil dan Ateng Japar. Pada mulanya Bang Tilil dan Ateng Japar berada dalam satu kelompok, namun entah apa yang terjadi dua sejoli bagai anak dan bapak itu sekitar tahun 1939 berpisah. Bang Tilil meneruskan kelompoknya dan Ateng Japar membentuk kelompok baru bernama Panca Warna. Kemudian keduanya beriringan, sama-sama kembangkan Longser dengan kesepakatan pembagian wilayah. Pertunjukan Atang Japar ( Panca Warna ) lebih banyak dilakukan di wilayah Bandung Selatan, sedangkan Bang Tilil di wilayah Bandung Tengah.

Walau mereka punya warna yang berbeda, namun keduanya tetap saling berhubungan. Apabila Bang Tilil kekurangan pemain atau sebagian pemainnya berhalangan, ia sering kali minta bantuan ke Ateng Japar, sebaliknya Ateng Japar pun demikian ( saling transfer pemain ). Ikatan batim mereka terus terjaga hingga Bang Tilil menyatakan diri mundur dari percaturan Longser, dan bagai ayah ke anak, Bang Tilil mewariskan dua buah saron ke Ateng Japar.

Sebelum pendudukan Jepang, antara tahun 1940 – 1943 seni Longser menurut Ateng Japar ( alm ) tumbuh subur, selain kelompok Bang Tilil dan dirinya ( Panca Warna) ada pula kelompok lain hingga mencapai 52 kelompok. Dari sekian banyak kelompok Longser beberapa nama sempat ia sebutkan, diantaranya; Bang Soang dari Cimahi, Bang Kayo dari Batu Karut, Bang Timel dari Cimahi, Bang Cener dari Cimahi, Aup dari Kamasan dan Sumanta ( Longser Domba Nini ) dari Cikuda.

Semenjak pendudukan Jepang sampai tahun 50-an aktifitas Longser mengalami kepakuman, bahkan bukan Longser saja, jenis kesenian lain yang sama-sama berkembang saat itu juga mengalami nasib yang sama. Kepakumannya bukan berarti tidak diminati lagi masyarakat, namun terkondisikan oleh peta politik dan perekonomian Indonesia yang pada umumnya corat-marut. Baru sekitar tahun 50-an ke atas, gairah kesenian mulai tumbuh kembali. Ateng Japar dan kelompok Longser Pancawarna mulai lagi ngamen ke setiap kampung hingga mengalami puncak kejayaan  sekitar tahun 1970 sampai dengan 1980-an.

Sepeninggalan Ateng Japar (alm) tahun 1990-an, Longser Panca Warna semakin jarang melakukan pertunjukanWarsa dan Istrinya sebagai pewaris Ateng Japar tidak mampu membuat terobosan-terobosan baru hingga sekitar tahun 2011 Warsa dan Istri dalam bulan yang sama meninggal dunia dan Longser Panca Warna mati suriAnak-anak Warsa tidak meneruskan jejak bapakibu dan kakeknyatapi mereka bersama Panca Warna memilih kembangkan seni Sunda lainnya hingga sekarang.

Generasi setelah Longser Panca Warnasekitar tahun 1990 – 2010 Longser hidup dikalangan mahasiswaTerutama di kampus ASTI-STSI (ISBI) Bandung ditandai dengan muculnybeberarapa kelompok Longser, diantaranya; Longser AntarPulauLangser Abad 21, Longser PancakakiLongser BemoAdem Ayemdan Toneel Bandung. Kemunculan beberapa kelompok tersebut awalnya terpicu karena di ISBI Bandung waktu itu ada mata kuliah teater tradisional yang secara pakteknya diarahkan pada Longser.

Namun kelompok Longser itu tidak bisa bertahan lama karena para penggeraknya yang waktu itu mahasiswa setelah selesai menempuh pendidikan tidak melanjutkan aktifitasnya di dunia LongserMereka banyak yang memilih profesi dibidang lainnyatapi sebagian personil dari mereka sampai sekarang masih ada pula yang bertahan menggeluti Longser bergabung dengan komunitas di luar institusi yang membesarkannya.

Di luar kampus ISBI

Bandung, pertunjukan Longser juga sering dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa atau Lingkung Seni Mahasiwa Sunda seperti UNPAD, ITB, UNPAS danbeberapa kampus swasta lainnya di kawasan Bandung Raya.Sedangkan di luar institusi pendidikan yang konsisten gelar seni pertunjukan Longser adalah K282Bandoengmooidan beberapa kelompok lain seperti Kelompok Komedian SimpangLima yang kerap mengisi program Longser Plus produksi TVRI BandungJawa Barat.

Tahun 2007 sampai sekarang Longser terbilang diminati pelajar (remajabukan semata-mata sebagai apresiatortapi terjun langsung menjadi pelakuToneel Bandung melakukan inisiasgelar Festival Longser tingkat Provinsi Jawa Barat dan Banten dengan peserta khusus untuk kaum remaja dan pelajarsehingga bermunculan komunitas Longser pelajar dan mengikuti ajangfestival tersebutLebih dari 15 grup perdua tahun sekali para remaja yang dominan pelajar menunjukan kreatiftasnya dalam Lawung Longser Nonoman (Temu Longser Remaja)Tahun 2023 ini merupakan ajang pertemuan Longser remaja yang kali ke 9. Artinya penyelenggaraan kegiatan ini sudah dilakukan Toneel Bandung selama 18 tahun sampai sekarang.

Secara bentuk Longser remaja/pelajar di Jawa Barat cukup beragamKarya-karyanya sangat terpengaruh oleh teater modern Indonesiatapi mereka tetap berusaha menjaga esensi Longser yang sesungguhnya. Paduan tradisi dan modern (kekinian) menjadi ciri khas merekahal ini terjadi karena titik keberangkatan mereka berasal dari kelompok teater modern yang diarahkan agar mau menggali atau mencoba menggeluti teater tradisonal seperti Longser.

Disisilain, tahun 2018 Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jawa Barat kerjasama ISBI Bandung memanfaatkan Longser sebagai media edukasi masyarakat tentang tata cara memilih dan dipilih yang baik calon anggota legislatifpemimpin daerah dan pemimpin nasional dengan menyelenggarakan Festival Longser se Jawa Barat yang diwakili dari Kabupaten dan Kota di Jawa Barat.

Setelah Bandoengmooi dan Camperenik lebih dulu aktif menghangatkan khazanah Longser di Kota Cimahitahun 2019hadir komunitas Sinema Pro memulai menggarap Longser dan melakukan pertunjukan keliling untuk diapresiasi kalangan pelajar juga masyarakat umumKemudian Sinema Pro melanjutkan programnya dengan menggandeng kelompok Teater Camperinik suguhkan Longser di AK TVtelevisi lokal di Kota Cimahi.

Pandemi Covid 19 tahun 2020 2021 membuat kegiatan seni pertunjukan Longser secara langsung dihadapan publik berhenti  total. Demi menjaga keselamatan dan kesehatan manusia secara umumpertujukan dan festival Longser yang dilakukan Bandoengmooi dan Toneel Bandung pun diarahkan secara daring atau ditayangkan lewat kanal youtubedan mulaimenggeliat lagi dipertengahan tahun 2022 seni pertunjukan Longser bisa dilakukan kembali secara langsung dihadapanpublik dengan sarat tetap menjaga protokol kesehatan.

Longser Tingkatkan Kecerdasan Majemuk

Saat ini masyarakat kita banyak beranggapan bahwa Longser hanya sebuah seni pertunjukan teater tradisional yang nilainya tidak lebih dari media hiburan semata. Anggapan itu bisa dibenarkan jika pelaku dan masyarakat apresiatornya hanya memandang satu sisi itu saja. Tapi, ketika mau menelusuri lebih dalam lagi, melihat pada proses kreatif yang dilakukan para awak pentasnya, disana kita akan melihat ilmu pengetahuan yang terbilang penting untuk digali dan berguna sekali bagi pembangunan karakter.


Inovasi Longser menjadi sebuah ilmu pengetahuan diluar wujud keseniannya  adalah satu cara dari sekian banyak cara yang bisa dikatakan dan cukup ampuh dalam melakukan konservasi dan revitalisasi seni budaya lokal Jawa Barat. Sebagai ilmu pengetahuan orang memahami Longser tidak dipaksa untuk menjadi seniman, tapi lewat pembelajaran Longser seseorang didorong menjadi individu yang kreatif, inovatif, produktif, mampu bekerja sama, menciptakan solusi, dan memahami kepemimpinan sejalan dengan harapannya tanpa harus menggangu atau meninggalkan profesi yang digelutinya. Sebagai ilmu, metode pelatihan Longser bisa pula mendorong motivasi, keyakinan, dan potensi diri kaum pelajar/mahasiswa/masyarakat umum. Pelatihan Longser mendorong atau merangsang dan menumbuhkan kecerdasan majemuk, yaitu; Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Matematis, Kecerdasan Visual, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Fisik, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, dan Kecerdasan natural.

Putu Wijaya, seorang penulis, aktor juga sutradara teater dan film menyebutkan, “ teater tidak hanya membelajarkan orang jadi seniman. Bila orang ingin menjadi anggota masyarakat yang baik atau menjadi pemimpin, tak pelak lagi, ia memerlukan pelatihan teater. Seorang pembawa acara, seorang penyiar, seorang guru, seorang penjaja barang akan sangat terbantu oleh seni akting”.

Lewat cerita yang disampaikan, Longser pun menjadi sarana komunikasi penyampaian informasi penting pada masyarakat, diantaranya; 1. Tentang Kesehatan, 2. Tentang Pendidikan, Tentang Lingkungan Hidup, 3. Tentang Sosial dan Politik, 4. Tentang Iptek, 5. Tentang Pemerintahan, 6. Tentang Ketenagakerjaan, dan lain sebagainya.

Longser bukan semata seni sebagai media hiburan, namun dari pertunjukan yang ditawarkan mempu memberi nilai edukasi yang dapat meningkat kesadaran budaya, kesadaran lingkungan, menguatkan ketahanan budaya dan membangun citra bangsa.Gelar pertunjukan Longser adalah upaya pelestarian, mengenalkan dan promosi seni budaya lokal Jawa Barat pada masyarakat yang lebih luas, sekaligus memupuk gairah para pelakunya untuk terus kembangkan kreativitas, produktivitas dan menjadikan produk ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. **

*Hermana HMT adalah alumni ISBI Bandung, praktisi LongserKetua Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi/KomunitasLongser Bandoengmooi dan Ketua Dewa Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC)

Previous articleJabang Tutuka Seorang Anak yang Ditakdirkan Kalahkan Naga Percona
Next articleTeater Kubur Suguhkan Pertunjukan Ritus Operasi Bocor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here