Home AGENDA FILM DOKUMENTER “DIRTY VOTE” FILM GAYA TEATER BRECHTIAN YANG SEMPURNA, UNGKAP KECULASAN...

FILM DOKUMENTER “DIRTY VOTE” FILM GAYA TEATER BRECHTIAN YANG SEMPURNA, UNGKAP KECULASAN ITU

0
tangkapan layar "Dirty Vote"

ADA film dokumenter yang mengugah saat masa kampanye pemilu 2024  usai. Film ini mengejutkan, tak bisa namun dengan pola dan cara yang sangat teatrikal.

Dokumenter berjudul “Dirty Vote”  ini karya Dandhy Dwi Laksono ini memang selalu mengejutkan. Dandhy dalam film  merupakan film keempat yang disutradarainya, ia mengambil momentum pemilu. Pada 2014 Dandhy lewat rumah produksi WatchDoc meluncurkan film “Ketujuh”, masa itu dimana kehadiran Jokowi dielu-elukan sebagai sosok pembawa harapan baru. Pada 2017, Dandhy menyutradarai “Jakarta Unfair” tak berapa lama menjelang Pilkada DKI Jakarta. Dua tahun kemudian, Film Sexy Killers tembus 20 juta penonton di masa tenang pemilu 2019. Sexy killers membongkar jaringan oligarki bercokol pada kedua pasangan calon yang berlaga saat itu, Jokowi – Maruf Amin versus Prabowo-Hatta.

“Dirty Vote” dokumenter data yang solid yang mengungkap fakta dengan oleh tiga ahli hukum tata negara yang membintangi film ini. Adalah Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari. Tiga tokoh muda yang sangat mumpuni saat ini di tanah air.Pemain ini ketiganya menerangkan betapa berbagai instrumen kekuasaan telah digunakan untuk tujuan memenangkan pemilu sekalipun prosesnya menabrak hingga merusak tatanan demokrasi.

Film yang tayang jelang  tiga hari lagi pemilihan 14 Februari, adalah gawe dari koalisi masyarakat sipil merilis film dokumenter tentang desain kecurangan pemilu 2024. “Dirty Vote” tayang hari ini mengambil momentum 11.11, yaitu tanggal 11 Februari bertepatan hari pertama masa tenang pemilu dan disiarkan pukul 11.00 WIB di kanal Youtube.

Jika melihat film ini bagi yang suka nonton teater ibarat sebuah sajian natural. Sebagai yan pernah kuliah teater saya  melihat film ini “nyaris” dekan dengan konsep prinsip utama Bertolt Brecht dramawan Jerman.

Konsep ini  adalah ia menyukai penonton yang tidak terikat atau diasingkan dari pertunjukan agar menjaga sikap. Di film ini juga nampak tim kerja kasat mat telihat jelas. Para aktor bahkan leluasa muncul dan berseloroh. Apa yang menjadi ciri khas teater Brecht ini lebih kuat kontemporernya dan dibebaskan bagaimana pertunjukan teater yang mengintegrasikan peran dan effect di dalamnya. Dan di  “Dirty Vote” peran dalam teater  dominan.

“Dirty Vote”  itu film utuh  apa saja yang terjadi tentu cenderung bebas kendati semua sudah terkonsep.

Ada contoh teater dramatik dalam film “Dirty Vote” masuk konsep Brechtian sebagai penyampain yang alami.

Dalam pertunjukan-pertunjukannya pemain bebas dan Bertolt Brecht mempersyaratkan alienasi di antara panggung dan penonton jadi hidup. Di Film “Dirty Vote” panggung jadi kekuatan. Menurut Brecht bahwa karakteristik akan  hidup dan uniknya  karena ide-ide revolusioner dan drama uniknya.

Dan dari yang kita lihat film “Dirty Vote” jauh dari teater dramatik. Tapi teori teater dekat dengan yang digagas Brecht itulah yang merupakan antitesis dari teori tragedi Aristoteles yang disebutnya sebagai teater dramatik.

Film “Dirty Vote” mencatat itu semua sebagai sajian cerita dibalik layar malah tersaji dan penontonnya tahu peristiwa itu.

Film ini memang beda dengan film Dandhy yang alam misalnya  Ekspedisi Indonesia Baru, Dirty Vote lahir dari kolaborasi lintas CSO. Ketua Umum SIEJ sekaligus produser, Joni Aswira mengatakan, dokumenter ini sesungguhnya juga memfilmkan hasil riset kecurangan pemilu yang selama ini dikerjakan koalisi masyarakat sipil. Biaya produksinya dihimpun melalui crowd funding, sumbangan individu dan lembaga.

“Biayanya patungan. Selain itu “Dirty Vote” juga digarap dalam waktu yang pendek sekali sekitar dua minggu, mulai dari proses riset, produksi, penyuntingan, hingga rilis. Bahkan lebih singkat dari penggarapan End Game KPK (2021),” katanya.

Ada20 lembaga lain yang terlibat kolaborasi dalam film ini ialah: Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Bangsa Mahardika, Ekspedisi Indonesia Baru, Ekuatorial, Fraksi Rakyat Indonesia, Greenpeace Indonesia, Indonesia Corruption Watch, Jatam, Jeda Untuk Iklim, KBR, LBH Pers, Lokataru, Perludem, Salam 4 Jari, Satya Bumi, Themis Indonesia, Walhi, Yayasan Dewi Keadilan, Yayasan Kurawal, dan YLBHI.

Sukses untuk paling tidak kita tahu siapa yang berlaku curang dalam pilpres tahun ini dan apa benar sudah direnacankan, dan “Dirty Vote” telah menyajikan secara jelas dan menukik. Tabik

Link Film

AENDRA MEDITA, penulis penyuka film dan teater

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here