Home AGENDA Drawing 10 dan Perenungan yang Sublim

Drawing 10 dan Perenungan yang Sublim

2354
0
Karya Wisnu, 'Tarawangsa' /Andi S

SENI.CO.ID — Ada 10 seniman dari ITB mereka menggelar pameran karya drawing. Bertajuk Drawing 10, mereka mengeksplor karyanya dengan kekutaan masing-masing. Jika melihat perjalanan maka dunia seni drawing di inspirasi dari semangat membangun kembali seni gambar / drawing di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1937/1938 ketika Agus Djaya, S Sudjojono dan kawan-kawan membentuk PERSAGI ( Persatuan Ahli Gambar Indonesia ). Walaupun karya mereka lebih banyak karya seni lukis namun namun pemakaian istilah “ gambar “ bukan lukis merupakan sebuah cara memberi nilai tinggi pada “ gambar”.

Tahun 1977 lahir organisasi seni gambar/drawing bernama PERSEGI (Persatuan Seniman Gambar Indonesia ) yang didirikan oleh Iwan Ramelan, Prijanto S, S Prinka dan Gion. Persegi beranggotakan al. Aten Waluya, Diddo Kusdinar, Dede Eri Supria, Harianto, Danarto, T Sutanto dan Harijadi Soeadi. Berbeda dengan Persagi, Persegi memang sekelompok seniman yang memberikan ruang yang penuh hikmat untuk seni gambar.

Dua organisasi ini bisa dikatakan lahir pada titik kulminasi ketika senirupa
berada pada era puncak pada jamannya. Gerakan ini dibuat untuk melawan dominasi atau bahkan hegemoni gaya /trend yang sedang berkembang saat itu.

Seniman yang berpameran dalam Drawing 10/ Andi S

Kali ini Pameran Gambar DRAWING 10 yang terdiri dari alumni Senirupa ITB berbagai jurusan ini juga sebuah gerakan kembali kepada kemampuan menggambar dengan kaidah kaidah dasar namun tidak menampik konsep visual baru. Konsep yang nyaris tak bertepi membuat para Senirupawan kehilangan ketertarikan dan rasa hormat kepada Seni Gambar. Padahal sebuah seni yang bernilai tinggi tidak harus dibuat dengan kompleksitas yang “ heboh “, seni yang berkualitas bahkan bisa diciptakan hanya dengan sepotong kertas dan pena. Dari situlah maka Seni Gambar/Drawing tumbuh dan mendapat tempat terhormat di Senirupa Dunia.

DRAWING 10 perupa ini speerti menguak takdirnya dimana 10 seniman yang menggambar dengan pendekatan yang beragam dari pendekatan fotografis hingga surialis. Mereka adalah Adikara Rachman,
Ari Kustara, Aten Waluya, Bobby Tediana, Fauzan, Gani Ruswandi,
Hermawan Rianto, Kuswa Budiono, Moh. Sobirin, Wisnu.

Pameran digelar sejak 18 s/d 24 Desember 2019
Pembukaan tgl 18 Desember 2019 jam 15.00 WIB bertempat Ruang pamer Gedung Depan Museum Kota Bandung Jl. Aceh 47 – 49 Bandung – Jawa Barat.

Karya Aten Waluya

Kita simak karya meraka sudah masuk ke sumbliman yang hakiki. Lihat saja karya Aten Waluya berjudul simbolic menurutnya konsep dasar sesuatu bentuk yang biasa menjadi tidak biasa yang berfikir pada hal hal yang imajinatif atau khayali (alam khayali). Karya Teten bagi saya sangat surealis, dan ini nampak ada sublimasi yang tinggi. Jam terbang perupa ini memang mumpuni. Jadi tak perlu disangsikan, meski medianya hanya pen yang dipakai, tapi karyanya jelas kuat.

Karya Wisnu, berjudul ‘Tarawangsa’ merupakan seni gerak dan bunyi bersifat minimalis. Dimana manusia akan dibawa pada peristiwa Transendental, sebuah proses penyatuan diri dengan alam. Karya ini juga sublim dan memberikan makna yang tajam.

Karya Gani berkudul ‘Melasti’ meia kertas. Ukuran A3, Tahun 1999./Andi S

Melihat karya drawing Gani Ruswandi ‘Raghani’ berjudul ‘Melasti’ karya di atas kertas A3 meski tahun lama 1999, memperlihatkan drawing Gani menyajikan rekaman nyata suatu sisi suasana masyarakat Bali yang sedang melaksanakan tradisi upacara rutin tahunan memandikan semua perkakas ajimat simpanan mereka ( upacara melasti) di air pantai laut di Sanur Bali. Gani bersentuhan dan hidup di Bali sehingga akrab dan memliki kekuatan ketika di tafsir dalam karyanya.

Karya Moh Sobirin

Karya lain misalnya terlihat dari Moh. Sobirin dari kiri ke kanan Judul “Suasana di sudut pasar” 2019 tergambar suasana di pasar dari sejak dulu masih terasa keakrabannya sesama pedagang dan selalu menjunjung tinggi kekeluargaan. yang kedua ‘Di sudut pasar loak” 2019, terlihat ada keakraban sesama pedagang loak (barang bekas) mencerminkan budaya asih asah asuh, yang dari jaman dulu sudah ditunjukan oleh masyarakat kita. dan ketiga ‘Dikerumunan pedagang sate’ 2019, nampak penjual sate termasuk yang cukup dikenal di kalangan masyarakat dari sejak dulu sampe saat ini.

Akhirnya karya sejumlah perupa dalam Drawing 10 itu tentunya sebagai nilai kuat karya seni drawing yang dirindukan saat ini. Jadi mari kita berselancar menjelajah apresiasi di MKB menyaksikan karya luar biasa yang penuh perenungan dan sumblimasi secara estetis. Selamat..!

ANDI SOPIANDI

FOTO-FOTO ANDI S, EDITOR AENDRA M KARTADIPURA

Previous articleSemarak Bunga Mawar di Festival Cihideung 2019
Next articleSebanyak 800 Orang Gelar Senam Tari di Gatreec 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here