Home DUNIA In Memoriam Sang Pelukis Abstrak Andy Suandi

In Memoriam Sang Pelukis Abstrak Andy Suandi

157
0
Unten Sutendy di pemakaman pelukis Abstrak Andi Suandi/ist
In Memoriam Andy Suandi
Suatu hari saya bersilaturahmi ke rumah Dik Doank. Ditemani Kang Shobier selaku ketua DKTS yang saat itu didampingi salah seorang pengurus DKTS.
Di rumah seniman kondang itu kami bercerita banyak hal, bercoleteh tentang Tangsel hingga larut malam.
Usai ngobrol Mas Shobier memperkenalkan lelaki berkulit sawo mateng dan agak gemuk, bernama Andi Suandi yang saat itu berpenampilan sederhana dan kalem. Itulah pertama kali saya mengenal almarhum Andi.
Selanjutnya kami sering bertemu dalam banyak event kesenian dan diskusi budaya di Tangsel.
Ketika saya diminta untuk menjadi ketua tim penilai seniman dan budayawan Tangsel berpengaruh, saya pun mengajak Andi sebagai anggota tim bersama Mahrus Prihani dan kang Edy Wahyu.
Meskipun tim itu kemudian bubar karena berbeda persepsi dengan pihak dinas, Andi sering bertemu sambil ngopi membicarakan tentan visi dan karya- karya seni. Termasuk ngobrol di warung Mang Iging saat saya diminta berbicara tentang spritualisme berkesenian di depan para pengurus DKTS.
Karena kreativitasnya yang cukup tinggi saya memberi apresiasi yang tinggi pula kepada pribadi Andi hingga suatu hari sengaja beliau saya undang ke Saung Bang Kimpo.
Sambil menikmati pecak ikan gurame hasil pancingan saya, Andi banyak mengeluh soal kebijakan-kebijakan pemkot yang kurang berpihak kepada seniman dan budayawan. Tentu saya juga mengiyakan dan akhirnya saya memberi usulan agar DKTS berbuat sesuatu. Sesuatu yang dimaksud adalah membuat semacam Kongres Kebudayaan Tangsel.
Namun, gagasan itu belum bisa terwujud karena setelah itu Andi sering sakit di bagian perut hingga harus dioperasi dan dirawat intensif di Rumah Sakit Fatmawati.
Terakhir, ia minta ketemu lagi karena ketagihan dengan pecak ikan gurame racikan Bang Kimpo.
“Ok, kita jumpa di sana ya. Jangan lupa bawa lukisan untuk sahabat Kimpo, ” kata saya.
Andi pun datang membawa sebuah lukisan ikan yang saya pasang di Saung Bang Kimpo persis dekat bale tempat kami biasa menyantap pecak ikan.
Lukisan itu sampai saat ini masih terpampang, sebuah kenangan terakhir dari Andi yang sulit dilupakan.
Selamat jalan sobat, beristirahatlah dengan tenang. Tuhan mencatat semua karyamu untuk dunia kesenian (lukis). Selamat jalan, you are the best and I sure Allah love u, I proud of you.
Lahu Alfatihah…!
Mr. Ten
Previous articleArt Moments Jakarta Hadir Lebih Besar dari Sebelumnya
Next article“Game For You” Pada Pameran Seni Instalasi Kalatanda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here