![]()
SENI.CO.ID — Pameran Lukisan menafsir Semar digelar. Tak kurang dari 40 karya lukisan dan drawing dengan berbagai kecenderungan serta tafsir yang beragam.
Sebanyak 7 Pelukis dari berbagai Kota. Antara lain : Acep Zamzam Noor ( Tasikmalaya ), Ahmad Faisal Imron (Bandung), Chryshnanda Dwilaksana ( Jakarta ), Isa Perkasa ( Bandung ), Joko Kisworo Zoro ( Jakarta ), Pupung Prayitno ( Karawang ) dan Taat Joeda ( Bandung ).
Pameran digelar di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, yang berlokasi di wilayah Braga, tepatnya di Jln. Naripan 7 Bandung, bertajuk ‘Semar mendem mesem’ 26 Februari hingga 08 Maret 2024.
Pameran ini dibuka oleh Dalang Kang Opick Sunandar Sunarya, putra dari Dalang fenomenal Alm.Asep Sunandar Sunarya.
Berawal dari kunjungan kurator Galeri Pusat Kebudayaan, Isa Perkasa, ke Studio/ Galeri pelukis Chryshnanda Dwilaksana ( CDL ) di Rumah dinasnya Sespim Polri, Lembang, Bandung, beberapa waktu lalu, yang membahas tentang kekaryaan CDL.
Dari proses ini alhasil mencuatkan gagas CDL, untuk mengajak pelukis lainnya dari berbagai Kota, menggelar pameran bersama dengan tajuk ‘Semar mendem mesem’. Dari pertemuan itu dibahas serta dirumuskan konsep pameran ini.
Sebagai kurator GPK, Isa Perkasa – alumnus FSRD ITB, yang memilih seniman lukis lainnya. Menurut inisiator pameran ‘ Semar mendem mesem’, Chryshnanda Dwilaksana (CDL), tokoh Semar itu lokal genius yang merupakan perwujudan Dewa yang menyatu dalam rakyat miskin serta papa.
Semar sendiri menjadi semacam simbol ‘fox populi fox dei’ – suara rakyat adalah suara Tuhan. Lebih lanjut, CDL, mengungkapkan secara fisik Semar itu digambarkan lebih samar. Jika penampakannya sebagai lelaki, memiliki payudara.
Namun bila dilihat sebagai perempuan, tampak memiliki kumis dan kuncung. Bentuk perwujudannya sendiri tampak aneh, lucu, bahkan dapat menggugah tafsir lain. CDL sendiri menggelar 11 karya berupa lukisan dan drawing.
Salah satu karya lukisannya yang diberi judul ‘ Shadom off Semar’, 60 X 70 cm, akrilik di atas kanvas, bertarikh 2017.
Ungkapan serta tafsir CDL, cenderung ekspresif dengan visualisasi sosok Semar, yang tampak sedang merenung. Latar belakang hijau tampak dominan dari karya ini, serta dipenuhi semacam inskripsi yang samar.
Sebagai seorang pelukis, CDL yang juga saat ini menjadi petinggi Polri, pimpinan Sespim Polri di Lembang, Bandung, berpangkat Irjen, kerap berpameran di berbagai Kota di Indonesia, serta menginisiasi dan mengapresiasi pameran para Maestro Seni rupa Indonesia.
Seperti pameran patung karya I Nyoman Tjokot, bertajuk ‘ Ekspresif magis 4 generasi Tjokot dan Tjokotisme’, pameran karya pelukis Ipe Ma’ aruf ‘Jalan Sunyi sang Maestro’ serta pameran tribute to Nashar. ‘ Tonggak Martir Seni lukis Abstrak Indonesia ‘, beberapa waktu lalu.
Berbagai kecenderungan gaya diungkap dalam pameran ini. Ada yang menafsirkan sosok Semar dengan persoalan sosial belakangan ini juga terkait dengan kehidupan politik dan ekonomi.
Seperti halnya karya Isa Perkasa, yang berjudul ‘Semar Unjuk Rasa’, 120 X 170 cm, akrilik dan crayon di atas kanvas, 2024. Menurut Isa, karyanya lebih berbicara tentang persoalan sosial saat ini.
Perihal kebutuhan pokok yang harganya semakin melangit, soal beras misalnya. Kian hari semakin tak terjangkau oleh rakyat kecil serta yang tak berpenghasilan tinggi, semakin sulit untuk sekedar membeli beras.
Sekali pun ada, namun tak terbeli oleh masyarakat miskin. Semar yang notabene sebagai simbolisasi rakyat jelata, divisualisasikan sedang menanggung sekarung beras yang tentu saja berat untuk dibeli.
Dalam karya ini , tertulis inskripsi berupa teks seperti ‘save beras’, turunkan harga beras dan stok beras ada namun cenderung tak terjangkau oleh rakyat miskin.
Menurut Budayawan Dr.Hawe Setiawan, beberapa lukisan tampaknya berupaya untuk menanggapi realitas kondisi Indonesia kini. ‘ Misalnya karya Pupung Prayitno, yang menggambarkan dekadensi Polisi dan matinya hak asasi manusia serta kondisi politik Indonesia dengan figur Jokowi dan Prabowo, sangat menonjol, ” papar Hawe.
Tampak pada karya Pupung Prayitno, yang bertajuk ‘Hirup Wawayangan’, 140 X 150 cm, bertarikh 2019. Perseteruan politik saat itu begitu tajam, yang pada akhirnya Prabowo, legowo atas kemenangan Jokowi.
Secara verbal nampak Prabowo, sedang memberi hormat pada sosok Jokowi. Sedang di sisi lainnya Jokowi, tengah mengamati seekor anjing yang sedang menjilat. Hal ini menunjukkan, betapa kuasa sering menjadi magnet bagi sebagian orang yang pada akhirnya menumbuhkan para penjilat di sekitarnya dengan berbagai kepentingan.
‘Kendati pada awalnya, mereka mengindikasikan banyaknya kecurangan, semua peristiwa itu tentu ada yang mengatur ; yaitu Tuhan yang Maha Kuasa. Bahwa hidup seperti halnya wayang, karena ada yang menggerakkan dan semesta pun mendukungnya,” papar Pupung.
Lebih lanjut Pupung, menjelaskan ia berkarya seperti ‘melampaui’ batas waktu. Ternyata mereka saat ini, malah berkonsiliasi demi Bangsa besar nantinya. Boleh jadi karya ini kebetulan, sejalan dengan kondisi politik yg saat ini tengah berlangsung dengan segala dinamikanya.
Di dinding lainnya, tampak pula, karya yang berjudul ‘ Bagong Tumpak Bagong’, 140 X 150 cm, media akrilik di atas kanvas.Bagong/ celeng, terlihat ditunggangi sosok bermuka Semar, sambil ditangan kanannya memegang semacam ‘gunungan’ – untuk bubuka/ membuka pagelaran wayang.
Sementara beberapa ekor Bagong/celeng lainnya seolah sedang dikendalikan oleh beberapa orang, dalam ungkapan surealis. Menurut Pupung, Bagong/ celeng yang ditunggangi oleh beberapa orang yang berupaya mendompleng mencari kuasa ; bahkan mencari aman agar selamat dari proses hukum yang menjeratnya, agar dilindungi. Mereka digambarkan ada di perut Bagong/celeng, tak ubahnya sebagai penumpang gelap.









Hatur téngkiu Kang Herman. Moga sehat selalu. Aminn.