Home Bahasa Bukan Sepatu Bekas

Bukan Sepatu Bekas

0

Bukan Sepatu Bekas

Oleh Taufan S. Chandranegara, praktisi seni-penulis

Kalau cinta jangan ingkar janji. Konon pedoman cinta; kesetiaan. Karena jujur itu sebening langit Ilahi.; Apakah ada kejujuran cinta sekelas itu. Tidak. Cinta Kasih Ilahi Maha Tidak Terbatas, tak berbanding dengan apapun. Makhluk sementara, manusia, sangat terbatas, di segala sektor kehidupan, apapun.

Menyoal berapa lama perjalanan usia historis abad kepurbaan penyumbang terbesar mesin modernisme, terkini, kadang kala dilupakan musim. Padahal kemodernan hadir setelah kepurbaan asal-usulnya jelas, sekalipun masih ada abai terkadang muncul dari arogansi formal; ini kontemporer, ini tidak. Enggak segitunya juga kale, modern lifestyle.

Seni tradisi serat kain, kaya unsur modern geometris, komposisi pewarnaannya truly beautifuly. Konon ada dongeng di negeri jauh, singkatnya; ia kolektor seni serat kain, naturalisme keutamaan autentikasi koleksinya, persis, sebagaimana adanya, ia tak ingin memotong kain koleksinya menjadi pola. Nuraninya menolak intervensi destruktif.

Tak mudah loh menjaga orisinalitas, ketika acuan menggoda klasik sistem, agar bersegera memasuki kemodernan. Karena si klasik dianggap ketinggalan zaman, old product, kurang modis. Jenis makhluk macam apakah dianggap modis. Mungkin pula akibat ulah mass product opinion, menggugat diri bersegera membeli sepatu baru.

Padahal sepatu lama masih cukup baik tak kurang apapun, layak pakai, layak modis di ranah gayahidup. Namun sugesti promoaksi info modis aduhai selalu menggoda selera, marak menyerbu. Mungkin pula kekuatan pertahanan diri terguncang jua. Komitmen satu keyakinan tergerus promoaksi. Gugurlah iman seni personalitas.

Ingin meniru ini itu, gaya cukur rambut pun mendekati persis si modis, meski mirip pun tidak. Menyirna identitas temuan personal, berubah rupa tak lagi jadi dirinya seperti apa adanya. Hanya sedikit meniru, sekalipun sedikit, tetap bukan milik dirinya.; Seni, inheren kepribadian bukan wajib menjadi plagiat.

Sekejam itukah dunia kepribadian seni, menuntut kehendak jadi pribadi valid.; Ya, kalau hanya melihat dari satu sudut pandang saja, artinya bisa iya bisa tidak. Lantas apa sesungguhnya kehendak seni.; Seni, sains pemilik universalism tersahih. Kembali pada kesadaran adaptif; di mana bumi dipijak di sana langit di junjung. Barangkali loh hai.

***

Jakarta SENI, November 16, 2023.

Salam cinta seni berseni gaiiss.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here