Home AGENDA TARI RASA” SILATURAHMI VISUAL PENERUS JEIHAN

TARI RASA” SILATURAHMI VISUAL PENERUS JEIHAN

80
0

“Pengantar terbaik adalah Iman diri sendiri”

                                                          JEIHAN

ADA 46(+8) lukisan terpampang di dinding lantai II Studio Jeihan yang terbagi menjadi 3 tema yaitu sketsa sebanyak 25 buah, single figure 11 buah, banyak figur 10 buah. Lukisan itu semuanya tentang tari.

46 buah lukisan merupakan simbol 46 tahun perjalanan mencari surga yang hilang dalam melukis.

Kegiatan melukis sendiri dimulai ketika penulis berusia 4 tahun, di lantai dengan menggunakan kapur tulis. Pada usia 6 tahun mulai menggunakan krayon di atas kertas dan pernah memenangkan lomba menggambar tingkat nasional yang diadakan majalah BOBO.

Di usia 8 tahun pernah menjadi juara 2 lomba melukis menggunakan cat air di Taman lalu Lintas Bandung.

Sampai di suatu siang setelah pulang sekolah tiba-tiba almarhum pak Jeihan menyuruh penulis untuk melukis. Tidak adanya persiapan membuat penulis terpaku dan terdiam yang membuat beliau marah-marah. Sejak saat itu penulis tidak lagi melukis. Ada rasa yang hilang.

Tahun 1986 penulis mencoba melukis lagi dan berpameran bersama di Goethe Institut Bandung bersama Kang Dodo Abdullah, Kang Edo Sahir, Alm Pak Mamannoor. Tetapi tetap saja ada rasa yang hilang.

Bahkan tahun-tahun berikutnya setelah 2 kali pameran tunggal, di Galeri Kita tahun 2006 dan di komplek Studio Jeihan tahun 2008, dan beberapa kali pameran bersama termasuk di Shinjuku Gallery, Tokyo, Jepang pada tahun 2018.

Tahun 2022 di pertengahan bulan Mei menjelang ulang tahun penulis yang ke 54, beberapa bulan setelah wafatnya Bapak Srihadi Soedarsono, tiba- tiba ada dorongan untuk melukis penari Bedoyo. Penulis mengambil sebatang arang lalu dicoretkannya di atas kanvas. Tidak ada keraguan sedikitpun. Jadi beberapa sketsa penari di atas kanvas berukuran 140 cm x 140 cm dan 140 cm x 180 cm.

Keesokkan harinya datanglah ke Studio Jeihan, seorang sahabat yang berprofesi sebagai pelukis dan fotografer ia adalah Kang Andi Sopiandi.

Melihat sketsa-sketsa tersebut beliau terpana seraya berkata “ Ini sketsa-sketsa ini benar-benar hidup, garis-garisnya spontan menggambarkan orisinalitas yang sulit untuk ditiru.” Perkataan kang Andi mendorong semangat penulis terus berkarya dan jadilah 46 lukisan penari yang kini tengah dipamerkan.

Seakan menghapus trauma yang pernah terjadi ( di tahun 1976), penulis tersadar akan ucapan Pak Jeihan beberapa tahun yang lalu, “Seorang pendekar sejati apabila diajak bertarung harus siap walaupun baru dibangunkan dari tidur, demikian juga pelukis sejati harus siap melukis kapan saja”.

Ternyata peristiwa 46 tahun yang lalu, Pak Jeihan sesungguhnya telah mengajarkan penulis untuk menjadi pelukis sejati. Walaupun pulih tidak cepat tetapi setidaknya bangkit lebih kuat.

Pemilihan tema tari Bedoyo pada awalnya didasari adanya aura sakral yang melingkupinya.
Bedoyo adalah penari wanita di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Tari Bedoyo diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakra Kusumo. Beliau adalah Raja Kasultanan Mataram ke 4. Ketika beliau tengah bersemedi, beliau mendengar sayup-sayup senandung gaib yang menyanyikan lagu indah.

Keesokkan harinya Sultan Agung memanggil para empu karawitan untuk membuat gending yang sesuai dengan kejadian yang dialaminya pada saat bersemedi.

Dalam perkembangan selanjutnya, tari Bedoyo melambangkan perkawinan Ratu Laut Kidul dengan Panembahan Senopati, bapak dari wangsa Mataram yang sekaligus mengantarkannya menjadi Raja pertama Mataram.

Kembali ke tari Bedoyo mengingatkan perkawinan ters ebut maka para penarinya di rias maka penarinya dirias seperti pengantin wanita. Selain itu para penari haruslah suci lahir dan batin, dengan melakukan tirakat yakni keprihatinan jiwa raga seperti: puasa mutih. Menjauhkan hati, pikiran dan perilaku dari hal-hal yang tercela guna mencapai ridho Allah SWT.

Bedoyo bagi penulis adalah simbol dari kita manusia yang berada di kerajaaan Allah SWT.
Seperti halnya para peneri Bedoyo yang mengikuti laku lampah sebelum pentas. Demikian juga kita manusia sebelum “mementaskan” perintah Allah SWT, sudah seharusnya bersih dari segala dosa dan maksiat.

Selain itu gerak tari Bedoyo yang indah, anggun, dan lemah lembut sudah sepatutnya ditiru dalam menyiarkan kebaikan dan bakti kepada Allah SWT.

Berangkat dari semangat kemerdekaan maka tari Bedoyo bagi penulis tidak lagi sekedar tarian belaka akan tetapi sebagai alat ungkap pikir dan rasa, sehingga lahirlah lukisan Bedoyo Ngalap Berkah, Bedoyo Tabur Emas, dan yang terakhir Bedoyo Pitu Pitu yang menjadi persembahan dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77.

Pameran ini didedikasikan kepada Alm Pak Jeihan yang telah membekali laku lampah dalam melukis, mama, saudara-saudara, istri tercinta, anak-anak, sahabat penulis, staff Studio Jeihan, panitia Bandung Art Connect, kawan- kawan seniman, awak media, kolektor dan terakhir kepada Nusa Bangsa Indonesia yang tengah merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77. MERDEKA!!!.

Tulisan diatas adalah yang disampaikan AZASI ADI, Self Curator.

Jadi jika ingin menikmati karya “TARI RASA” SILATURAHMI VISUAL Karya Azasi Adi silakan bisa datang ke STUDIO JEIHAN LT.2 Jalan Padasuka 143-145, Bandung 23 Agustus 2022 – 4 September 2022. Karena “TARI RASA” inilah yang jadi silaturahmi visual Penerus JEIHAN. selamat. !! ANDS/FOTO-FOTO

Previous articleBandoengmooi Longser yang Aktraktif dan Konteks Kekinian di ISBI Bandung
Next articleSpirit Gotong Royong Dari Lodong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here