Home AGENDA Bincang Seniman Residensi Kerjasama #3 Tony Albert & Timoteus Anggawan Kusno

Bincang Seniman Residensi Kerjasama #3 Tony Albert & Timoteus Anggawan Kusno

Rumah Seni Cemeti

1928
0

SENI – Bincang Seniman Residensi Kerjasama #3 Tony Albert (AUS) & Timoteus Anggawan Kusno (ID) akan berlangsung Selasa, 20 September 2016 | 19.30 di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta

‘Kerjasama’ merupakan sebuah proyek residensi seni rupa yang bersifat resiprokal dan melibatkan seniman Australia dan seniman Indonesia. Proyek residensi ‘Kerjasama’ diluncurkan pada tahun 2014 melalui Laboratorium Residensi Seni Asialink, bekerja sama dengan Artback NT, Australia dan Rumah Seni Cemeti, Indonesia. Demikian rilisnya yang diterima redaksi SENI.CO.ID

Babak ketiga proyek residensi ‘Kerjasama’ di tahun ini diikuti oleh Tony Albert (Sydney) dan Timoteus Anggawan Kusno (Yogyakarta) yang telah menghabiskan waktu selama enam minggu di Alice Springs dan akan melanjutkan enam minggu selanjutnya di Yogyakarta.  Periode pertama selama enam minggu berlangsung di Alice Springs sejak 18 Mei hingga 26 Juni 2016 dan periode kedua di Rumah Seni Cemeti akan berlangsung mulai 8 September hingga 20 Oktober 2016.

Tony Albert (lahir di Townsville, Queensland, 1981) adalah seniman kontemporer asal Australia yang bekerja dengan berbagai medium dan menggabungkan antara teks, drawing, lukisan, dan obyek trimatra. Dengan memeriksa warisan ras dan kesalahan tafsir budaya, khususnya terhadap orang-orang Aboriginal Australia, Albert mengembangkan suatu bahasa universal yang berupaya untuk menulis ulang dusta sejarah dan ketidakadilan. Baru-baru ini ia menerima penghargaan utama di the 31st Telstra National Aboriginal & Torres Strait Islander Art Award dengan karyanya yang berjudul ‘We Can Be Heroes’. (http://tonyalbert.com.au/)

Timoteus Anggawan Kusno (lahir di Yogyakarta, 1989) berkarya dengan pendekatan institusional, menggunakan berbagai teknik produksi yang meliputi drawing, rancang grafis, fotografi, video, penulisan dan penyuntingan literatur. Sejak tahun 2013, Timoteus mengembangkan sebuah proyek seni bertajuk “Centre for Tanah Runcuk Studies” yang berlangsung hingga saat ini. Proyek seni ini merupakan suatu institusi (fiktif) yang mempertanyakan warisan kolonial dalam konteks Indonesia kontemporer, melalui “kajian” mengenai sebuah teritori (yang hilang) di Hindia Belanda bernama Tanah Runcuk. Pada tahun 2015 ia terpilih sebagai seniman residensi di ARCUS Project, Jepang untuk mengadakan penelitian dan eksperimen artistik mengenai ingatan dan pelupaan. (http://takusno.com/)

Program residensi pertukaran ini merupakan kolaborasi antara Asialink, Rumah Seni Cemeti dan Artback NT. Pertukaran ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui program Aboriginal and Torres Strait Islander, suatu inisiatif dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan, dan Pemerintah Northern Territory melalui Arts NT. | AM/SENI

Previous articleMAHABHARATA PART 3: KURUSETRA WAR
Next articleLenny Ratnasari Weichert Eksplorasi Identitas Perempuan & Spiritual

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here