Home BERITA Nama yang Tak Pernah Dipanggil (5)

Nama yang Tak Pernah Dipanggil (5)

0

Loading

EPISODE 5

Hari-Hari Tanpa Nama

Arga tidak datang lagi.
Pada awalnya, Dara masih menghitung hari—satu, dua, tiga—seperti orang yang menunggu hujan reda. Ia duduk di bangku belakang kelas, matanya kadang melirik ke kursi kosong di dekat jendela. Tapi tak ada siapa pun di sana, hanya cahaya yang jatuh tanpa tujuan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Sari, satu-satunya teman Dara yang berani bertanya.
“Baik,” jawab Dara.
Jawaban yang terlalu sering dipakai sampai kehilangan arti.
Di rumah, ibunya semakin sering batuk. Obat makin mahal. Dara mulai bekerja sepulang sekolah—membersihkan warung, mengantar barang, apa saja yang bisa dilakukan tanpa mengeluh.
Suatu sore, ponselnya bergetar.

Maaf.

Hanya satu kata.
Dara menatap layar lama. Jarinya mengetik, lalu berhenti.

Aku takut.

Pesan kedua muncul.
Tak ada nama pengirim, tapi Dara tahu.
Ia akhirnya membalas:

Takut bukan dosa. Tapi membiarkan orang lain menunggu, itu pilihan.

Tak ada balasan.
Malam itu, Dara bermimpi tentang jalan tanah yang berubah menjadi aspal licin. Ia berlari, tapi sepatunya tertinggal. Saat terbangun, dadanya sesak.
Beberapa hari kemudian, ibunya memanggil Dara ke samping ranjang.
“Ayahmu dulu juga begitu,” katanya tiba-tiba.
Dara terkejut.
“Begitu bagaimana, Bu?”
“Diam ketika dunia menekannya.”
Ibunya batuk, lalu melanjutkan,
“Ayahmu kerja di perusahaan besar. Dia jatuh dari ketinggian. Kakinya cedera. Mereka memecatnya.”
Dara menelan ludah. Ia belum pernah mendengar cerita ini selengkap itu.
“Tanpa pesangon,” lanjut ibunya.
“Suratnya ditandatangani perempuan bernama Ratna.”
Nama itu jatuh seperti batu.
“Ibu tidak pernah ingin kamu membenci siapa pun,” kata ibunya.
“Tapi hidup tidak adil sejak lama.”
Dara duduk terdiam. Potongan-potongan mulai menyatu. Tatapan Ratna. Amplop cokelat. Diam yang menghina.
Beberapa minggu kemudian, Arga muncul di depan rumah Dara. Wajahnya lebih kurus. Matanya lelah.
“Aku akan pergi,” katanya tanpa pembuka.
“Ke luar negeri.”
Dara mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku ingin kamu ikut,” ucap Arga cepat.
“Kita bisa mulai ulang.”
Dara tersenyum pelan.
“Kamu masih ingin menyelamatkanku?”
“Aku mencintaimu,” kata Arga hampir berbisik.
“Aku juga pernah,” jawab Dara jujur.
“Tapi aku tidak ingin diselamatkan dari hidupku sendiri.”
Arga menunduk.
Mereka berpelukan singkat. Tak ada janji.
Ketika Arga pergi, Dara berdiri lama di jalan tanah. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa dewasa dengan cara yang sunyi.
Dan di sanalah ia sadar:
kehilangan bukan akhir,
kadang itu pintu yang dipaksa terbuka.
Hari-Hari Tanpa Nama
Arga tidak datang lagi.
Pada awalnya, Dara masih menghitung hari—satu, dua, tiga—seperti orang yang menunggu hujan reda. Ia duduk di bangku belakang kelas, matanya kadang melirik ke kursi kosong di dekat jendela. Tapi tak ada siapa pun di sana, hanya cahaya yang jatuh tanpa tujuan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Sari, satu-satunya teman Dara yang berani bertanya.
“Baik,” jawab Dara.
Jawaban yang terlalu sering dipakai sampai kehilangan arti.
Di rumah, ibunya semakin sering batuk. Obat makin mahal. Dara mulai bekerja sepulang sekolah—membersihkan warung, mengantar barang, apa saja yang bisa dilakukan tanpa mengeluh.
Suatu sore, ponselnya bergetar.

Maaf.

Hanya satu kata.
Dara menatap layar lama. Jarinya mengetik, lalu berhenti.

Aku takut.

Pesan kedua muncul.
Tak ada nama pengirim, tapi Dara tahu.
Ia akhirnya membalas:

Takut bukan dosa. Tapi membiarkan orang lain menunggu, itu pilihan.

Tak ada balasan.
Malam itu, Dara bermimpi tentang jalan tanah yang berubah menjadi aspal licin. Ia berlari, tapi sepatunya tertinggal. Saat terbangun, dadanya sesak.
Beberapa hari kemudian, ibunya memanggil Dara ke samping ranjang.
“Ayahmu dulu juga begitu,” katanya tiba-tiba.
Dara terkejut.
“Begitu bagaimana, Bu?”
“Diam ketika dunia menekannya.”
Ibunya batuk, lalu melanjutkan,
“Ayahmu kerja di perusahaan besar. Dia jatuh dari ketinggian. Kakinya cedera. Mereka memecatnya.”
Dara menelan ludah. Ia belum pernah mendengar cerita ini selengkap itu.
“Tanpa pesangon,” lanjut ibunya.
“Suratnya ditandatangani perempuan bernama Ratna.”
Nama itu jatuh seperti batu.
“Ibu tidak pernah ingin kamu membenci siapa pun,” kata ibunya.
“Tapi hidup tidak adil sejak lama.”
Dara duduk terdiam. Potongan-potongan mulai menyatu. Tatapan Ratna. Amplop cokelat. Diam yang menghina.
Beberapa minggu kemudian, Arga muncul di depan rumah Dara. Wajahnya lebih kurus. Matanya lelah.
“Aku akan pergi,” katanya tanpa pembuka.
“Ke luar negeri.”
Dara mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku ingin kamu ikut,” ucap Arga cepat.
“Kita bisa mulai ulang.”
Dara tersenyum pelan.
“Kamu masih ingin menyelamatkanku?”
“Aku mencintaimu,” kata Arga hampir berbisik.
“Aku juga pernah,” jawab Dara jujur.
“Tapi aku tidak ingin diselamatkan dari hidupku sendiri.”
Arga menunduk.
Mereka berpelukan singkat. Tak ada janji.
Ketika Arga pergi, Dara berdiri lama di jalan tanah. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa dewasa dengan cara yang sunyi.
Dan di sanalah ia sadar:
kehilangan bukan akhir,
kadang itu pintu yang dipaksa terbuka.

(Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here