Home AGENDA Pameran ARTCHIVE JAKARTA: Keragaman Warna, Gaya, dan Gagasan Menuju 500 Tahun Jakarta

Pameran ARTCHIVE JAKARTA: Keragaman Warna, Gaya, dan Gagasan Menuju 500 Tahun Jakarta

0

Loading

ARTCHIVE JAKARTA: Hadirkan keragaman warna, gaya, dan gagasan Menuju 500 Tahun Jakarta

SENI LUKIS dalam kemasan pameran perdana Bumi Pakubuwono Jakarta hadirkan keragaman warna, gaya, dan gagasan

Jakarta sedang berada pada masa yang unik. Menuju usia ke-500 tahun pada 2027 mendatang, kota ini menjadi wadah bagi berbagai lapisan masyarakat dengan riwayat panjang migrasi, pertemuan budaya, dan perubahan yang berlangsung cepat. Pada momen menjelang perayaan besar itulah, seni rupa hadir sebagai pengingat sekaligus penafsir atas perjalanan kolektif yang telah tersusun selama ratusan tahun.
Salah satu yang kini menjadi perhatian publik adalah pameran ARTC HIVE JAKARTA: Palette of Harmony, yang dibuka pada 5 November 2025 di Bumi Pakubuwono dan berlangsung hingga 30 November 2025. Pameran ini diselenggarakan oleh DigitalCom Art Gallery, sekaligus menjadi penanda pembukaan ruang galeri baru di lingkungan Bumi Pakubuwono. Sejak hari pertama, pameran ini langsung mencuri perhatian berkat keragaman seniman dan pendekatan visual yang tersaji.
Enam perupa lintas latar belakang bergabung dalam perhelatan ini, yaitu Sarnadi Adam, Masagung Kirasave, Dian Ibung, D. Koestrita, Renny Damayanti (RenDam), dan Stacy. Meski mengusung gaya berbeda—dari dekoratif, impresionis, pop art, hingga abstraksi—semuanya bertemu dalam payung gagasan “harmoni.” Tema tersebut menjadi benang merah yang menautkan cara pandang seniman terhadap Jakarta, masa lalunya, dan masa kini.
Jejak Warisan Betawi dalam Sentuhan Dekoratif
Nama Sarnadi Adam tak bisa dilepaskan dari seni rupa Betawi. Maestro yang telah berkarya sejak dekade 1970-an ini dikenal lewat gaya dekoratif yang kuat dengan pengulangan figur dan detail warna yang kaya.
Dalam pameran ini, Sarnadi menghadirkan karya utama berjudul “498 Wajah-Wajah Penari Betawi.” Karya dengan ukuran monumental ini membentangkan ratusan figur penari Betawi dalam satu bidang kanvas. Meski secara kasat mata pola komposisinya repetitif, setiap figur seakan memiliki karakter tersendiri. Detail kostum, ekspresi, serta gerak tubuh menampilkan betapa tradisi Betawi bukan sekadar simbol, melainkan entitas hidup yang terus berdampingan dengan perkembangan kota.
Satu karya lain menampilkan penari Betawi berdiri di depan rumah tradisional Betawi. Di balik kesederhanaan setting visual, Sarnadi berhasil menangkap nuansa welcoming, seolah penari tersebut menyambut siapa pun yang datang ke Jakarta. Karya-karya Sarnadi seperti membuka pintu menuju sejarah panjang kota yang menyimpan lapisan budaya yang kompleks.
Pop Art Sukarno: Humanisasi Sang Proklamator
Berbeda dengan Sarnadi, perupa Masagung Kirasave mengambil arah visual yang sangat kontemporer. Mengusung aliran Pop Art Sukarno (PAS), ia memosisikan figur Sukarno bukan dalam format heroik monumental, melainkan dalam konteks yang lebih intim dan dekat dengan keseharian rakyat.
Dalam karya “Ngopi Bareng Marhaen,” Sukarno digambarkan duduk santai menikmati kopi bersama seorang marhaen. Komposisi ini menyiratkan gagasan kesetaraan dan dialog, bahwa pemimpin dan rakyat adalah mitra dalam upaya membangun bangsa.
Sementara itu, karya “Rep.1, Ber.1” menampilkan Sukarno menunggang sepeda motor berpelat REP-1 dengan iring-iringan rakyat di belakangnya. Visual ini menyimbolkan kepemimpinan yang progresif, dinamis, dan selalu bergerak bersama rakyat.
Melalui dua karyanya, Masagung mengajak penonton merenungkan kembali figur Sukarno dengan pendekatan pop—warna tegas, bentuk lugas, dan pesan yang langsung menyentuh publik muda.
Impresionisme Humanis dalam Keseharian Urban
Perupa Dian Ibung menghadirkan pendekatan berbeda. Sebagai psikolog, ia terbiasa tenggelam dalam kisah manusia sehari-hari, sehingga karyanya memancarkan sentuhan emosional yang hangat. Gaya impresionis Dian terasa dalam caranya menangkap cahaya dan pergerakan, khususnya di lingkungan kelas menengah-bawah—pasar tradisional, jalanan padat, hingga kegiatan domestik yang dianggap biasa.
Pada karya seperti “Grace in Life” dan “There is Us after Rush,” penonton seolah diajak memasuki lanskap visual yang mengedepankan sisi kemanusiaan. Sapuan kuas yang dinamis dipadukan dengan warna-warna lembut menciptakan narasi hening di tengah hiruk-pikuk urban.
Melalui serangkaian karya tersebut, Dian mengangkat kegiatan rutin sebagai sesuatu yang layak dirayakan. Ia memosisikan manusia biasa sebagai pusat pengalaman estetis, jauh dari glorifikasi, namun begitu dekat dan membekas.
Abstraksi Geometris: Kebebasan Terukur ala D. Koestrita
D. Koestrita menggeluti lukisan abstrak yang memadukan spontanitas dan kedisiplinan visual. Komposisinya terbangun dari garis, bidang, dan warna yang seolah tidak terikat pada representasi figuratif. Namun di balik itu, tersirat keseimbangan antara ekspresi bebas dan struktur yang disadari.
Karya seperti “After The Rain” atau “Day After Day” menampilkan ritme komposisi yang memaksa penonton untuk merenungkan makna internal. Tak ada narasi yang secara eksplisit ditampilkan, membuat penonton bebas menafsirkan makna melalui pengalaman visual pribadi mereka.
Dalam abstraksi Koestrita, harmoni bukan hadir karena keseragaman, melainkan melalui pertemuan elemen yang berbeda—garis tegas, warna lembut, bidang spontan, hingga ritme yang tidak langsung terbaca.
Karyanya membuka kemungkinan dialog baru tentang bagaimana abstrak dapat mengolah rasa sekaligus mengelola pikir.
Renny Damayanti (RenDam): Meditasi Warna & Bentuk
Karya Renny Damayanti (RenDam) berangkat dari ketertarikan pada warna dan bentuk fundamental. Keputusan artistiknya berpijak pada eksplorasi goresan, warna, dan komposisi yang menimbulkan kesan intuitif. Melalui pendekatan minimalis dalam seri karya seperti “Warmth #1,” “Blooms #2,” dan “Choice #1,” Renny seolah menciptakan ruang meditatif.
Meski tidak sepenuhnya abstrak, karyanya tetap mengandalkan bahasa visual yang lebih simbolik ketimbang representatif. Warna menjadi medium untuk menyalurkan ketenangan. Penonton pun diajak masuk ke ruang batin, tempat estetika berpadu dengan rasa personal yang sulit diungkapkan kata-kata.
Stacy: Feminitas Pop dalam Narasi Global
Seniman muda Stacy hadir dengan estetika pop minimalis yang mencolok. Karyanya banyak menampilkan figur perempuan anonim dengan latar kuning cerah, disertai aksen merah pada bibir atau anting.
Meskipun sederhana, komposisi ini membangun narasi tentang identitas perempuan modern—berani, tegas, namun tetap elegan. Karya seperti “Desert Wind” dan “Ivory Tower” memperlihatkan bagaimana pengaruh budaya global dan pengalaman personal bersinggungan dalam satu bidang visual.
Stacy mengekspresikan gagasan femininitas tanpa kompleksitas teknis berlebihan. Justru melalui kesederhanaan bentuk dan kombinasi warna tegas, karyanya menyampaikan pernyataan visual yang kuat.
Galeri Baru, Harapan Baru
Pameran ARTC HIVE JAKARTA menjadi penanda penting bagi Bumi Pakubuwono yang menghadirkan ruang galeri sebagai tempat presentasi karya. Langkah ini menunjukkan keberlanjutan ekosistem seni rupa Jakarta—bahwa semakin banyak ruang yang dapat menampung dialog antara seniman dan penikmat seni.
Bagi DigitalCom Art Gallery, pameran ini adalah tonggak baru untuk mendukung seniman dari berbagai latar dan pendekatan, sekaligus menjadi jembatan menuju publik yang lebih luas.
Harmoni sebagai Perayaan Perbedaan
Bila ditelusuri lebih dalam, harmoni dalam pameran ini bukan sekadar tema; ia adalah cara pandang. Masing-masing perupa menunjukkan bahwa harmoni tidak selalu soal serupa dan sebangun, melainkan kemampuan menerima kehadiran yang lain.
Dalam konteks Jakarta yang tengah bersiap menuju usia 500 tahun, gagasan harmoni terasa relevan. Kota ini tumbuh bukan hanya karena kemapanan budaya, melainkan keberagaman yang terus bergerak, berinteraksi, dan bertransformasi.
Melalui Palette of Harmony, pameran ini mengajak publik memandang seni sebagai ruang perenungan—tentang siapa kita, dari mana kita datang, dan ke mana kita menuju.
Pameran berlangsung hingga 30 November 2025 di Bumi Pakubuwono dan terbuka bagi pecinta seni, kolektor, serta masyarakat umum.
Dengan keragaman warna, gaya, dan ide yang ditawarkan, ARTC HIVE JAKARTA menjadi perayaan visual atas perjalanan panjang Jakarta—sebuah kota yang terus hidup dalam denyut waktu dan ingatan warganya.
Aendra MEDITA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here