Home DUNIA Apakah Seni Modern Bagian dari Senjata CIA?

Apakah Seni Modern Bagian dari Senjata CIA?

1675
0
Pollock, pemabuk berat yang hidup menyendiri, meninggal pada usia 44 tahun karena kecelakaan mobil. (Credit: Getty Images)

Abstract Expressionists yang sebelum akhir tahun 1940-an tidak dikenal, menjadikan New York pusat seni dunia, tetapi sejumlah pihak mengatakan mereka dijadikan pion Amerika Serikat saat Perang Dingin.

Tidak lama setelah Perang Dunia Kedua berakhir, suatu hal menarik terjadi di dunia seni New York.

Energi yang aneh tetapi tidak bisa ditolak mulai muncul di kota itu. Seniman yang selama bertahun-tahun berjuang dalam kemiskinan dan ketidakterkenalan tiba-tiba menemukan keyakinan diri dan keberhasilan.

Mereka bersama-sama membentuk gerakan yang kemudian dikenal sebagai Abstract Expressionism. Saat ini mereka memamerkan 164 karya seni 30 seniman, termasuk Willem de Kooning, Jackson Pollock, dan Mark Rothko di Royal Academy of Arts, London.

Salah satu hal yang menakjubkan terkait dengan Abstract Expressionism adalah kecepatan mereka menjadi terkenal di dunia.

Meskipun para senimannya memerlukan waktu yang lama untuk menemukan gaya mereka, begitu gerakan ini terbentuk pada akhir 40-an, mereka segera dikenal dan dihormati.

Di tahun 50-an, mereka diterima umum sebagai kemajuan paling menakjubkan pada lukisan dan patung yang terjadi di New York, bukannya di Paris.

metropolitanmuseumImage copyrightMETROPOLITAN MUSEUM
Image captionThe Metropolitan Museum, New York membeli Autumn Rhythm karya Jackson Pollock dalam jumlah yang tidak pernah dibayarkan sebelumnya pada tahun 1957, satu tahun setelah meninggalnya seniman itu. (Credit: Metropolitan Museum)

Tahun 1957, satu tahun setelah meninggalnya Pollock karena kecelakaan mobil, Metropolitan Museum membayar US$30.000 atau Rp391 juta untuk Autumn Rhythm, jumlah yang belum pernah dibayar sebelumnya untuk lukisan seniman kontemporer saat itu.

Tahun berikutnya, The New American Painting, sebuah pameran berpengaruh yang diadakan Museum of Modern Art, New York memulai lawatan satu tahun ke kota-kota Eropa termasuk Basel, Berlin, Brussels, Milano, Paris, dan London.

Kejayaan Abstract Expressionism sudah tercipta.

Penolong yang tidak diinginkan?

Tetapi tidak lama kemudian serangan balik mulai terjadi.

Pertama, muncul Pop Art, yang menarik perhatian dari Abstract Expressionism pada permulaan tahun 60-an. Kemudian muncul desas-desus cepat berhasilnya Abstract Expressionism agak mencurigakan sejumlah pihak.

Di tahun 1973, lewat sebuah tulisan pada majalah Artforum, pengamat seni Max Kozloff mengkaji lukisan Amerika pasca perang dalam kaitannya dengan Perang Dingin.

Dia menyatakan diri menentang “semangat memuji diri sendiri” buku-buku baru seperti tulisan Irving Sandler, berjudul The Triumph of American Painting (1970), sejarah pertama Abstract Expressionism.

Kozloff kemudian mengatakan Abstract Expressionism adalah sebuah “bentuk propaganda menolong”, sejalan dengan ideologi politik pasca perang pemerintah Amerika.

Dalam sejumlah hal, pemikirannya sepertinya berlebihan. Bukankah sebagian besar Abstract Expressionists orang terasing yang memberontak.

Pollock pernah mengatakan semua orang di sekolah menengahnya di Los Angeles memandangnya sebagai seorang “pemberontak busuk dari Rusia”.

Menurut David Anfam, salah satu kurator pemeran Royal Academy, “Rothko mengaku sebagai anarkis. Barnett Newman menyatakan diri anarkis, dia menulis pendahuluan pada buku Kropotkin tentang anarki. Jadi Anda menemukan seniman yang menentang keumuman, yang sama sekali terasing dari kebudayaan Amerika. Mereka berbeda dengan Pejuang Perang Dingin.”

Meskipun demikian pemikiran Kozloff tetap hadir. Beberapa tahun sebelum diterbitkan, pada tahun 1967, New York Times mengungkapkan majalah anti-Komunis liberal, Encounter, secara tidak langsung didanai CIA.

Akibatnya, masyarakat mulai curiga. Apakah CIA juga berperan dalam mempromosikan Abstract Expressionism di dunia? Apakah Pollock, langsung atau tidak, melakukan propaganda untuk pemerintah AS?

Kelembutan kekuasaan

Sejumlah esai, tulisan dan buku diterbitkan setelah karya Kozloff, semuanya mengatakan CIA menggunakan Abstract Expressionism.

Di tahun 1999, wartawan dan sejarawan Inggris, Frances Stonor Saunders, menerbitkan buku tentang CIA dan “Perang Dingin budaya” dimana dia mengatakan, “Abstract Expressionism digunakan sebagai senjata Perang Dingin.”

Ringkasan pandangannya tersedia di internet, dalam sebuah tulisan yang dia karang untuk koran Independent pada tahun 1995.

rothkoImage copyrightKATE ROTHKO PRIZEL AND CHRISTOPHER ROTHKO ARS NY AND DACS LONDON
Image captionNo 15 Dark Greens on Blue with Green Band karya Rothko dari tahun 1957. (Credit: Kate Rothko Prizel and Christopher Rothko ARS, NY and DACS, London)

“Lewat gaya pangeran Renaissance, meskipun dilakukan secara rahasia, CIA mempromosikan lukisan American Abstract Expressionist di dunia selama lebih 20 tahun,” tulisnya.

Inti pandangannya adalah seperti ini. Kita mengetahui CIA membiayai inisiatif kebudayaan sebagai bagian dari perang propaganda melawan Uni Soviet.

Mereka melakukannnya secara tidak langsung lewat apa yang dinamakan “tali kendali panjang” lewat organisasi seperti Congress for Cultural Freedom (CCF), kelompok advokasi anti-Komunis yang aktif di 35 negara, dimana CIA membantu mendirikan dan mendanai.

CCF yang mensponsori peluncuran majalah Encounter pada tahun 1953. Mereka juga membayar Boston Symphony Orchestra mengunjungi Paris untuk ikut serta festival musik modern.

Menurut Saunders, CCF mendanai sejumlah pameran besar Abstract Expressionism pada tahun 50-an, termasuk The New American Painting, yang mengunjungi Eropa pada tahun 1958 sampai 1959.

Tate Gallery seharusnya tidak mampu membawa pameran tersebut ke London, sehingga seorang miliarder Amerika, Julius Fleishmann, membantu memberikan dana agar pameran dapat diadakan di Inggris.

Fleischmann adalah presiden Farfield Foundation, yang didanai CIA.

ciaImage copyrightGETTY
Image captionNelson Rockefeller presiden MoMA di tahun 40-an dan 50-an berhubungan erat dengan tokoh intelijen AS. (Credit: Getty Images)

Sehingga kemungkinan dapat dikatakan pelukis penting abstrak Inggris, seperti John Hoyland, yang dengan bangga menyatakan dipengaruhi pameran Tate pada tahun 1959, sebenarnya dibentuk badan mata-mata Amerika.

Saunders juga menggarisbawahi kaitan CIA dengan Museum of Modern Art (MoMA), New York, yang berperan dalam mempromosikan Abstract Expressionism. Nelson Rockefeller, presiden MoMA di tahun 40-an dan 50-an, akrab dengan masyarakat intelijen AS. Demikian juga dengan Thomas Braden, yang mengatur kegiatan kebudayaan di CIA, sebelum bergabung dengan “the Company”, dia adalah sekretaris eksekutif MoMA.

‘Cerdas dan sinis’

Meskipun demikian, sampai saat inipun, keterlibatan CIA dalam Abstract Expressionism tetap tidak jelas. Menurut Irving Sandler, yang sekarang berusia 91 tahun, ini sama sekali tidak benar.

Berbicara lewat telepon dari apartemennya di Greenwich Village, New York, dia mengatakan, “Sama sekali tidak terdapat keterlibatan badan pemerintah apapun. Saya tidak melihat satu buktipun yang mengisyaratkan hubungan seperti ini. Pastinya, saat ini, sesuatu, apapun, sudah muncul. Dan bukankah menarik bahwa pemerintah federal saat itu memandang Abstract Expressionism suatu rencana Komunis untuk menjatuhkan masyarakat Amerika?”

David Anfam lebih berdasar kenyataan. Dia mengatakan adalah “suatu fakta terdokumentasi” bahwa CIA menunggangi Abstract Expressionism dalam perang propaganda melawan Rusia.

“Bahkan (pameran) The New American Painting didukung dana CIA,” katanya.

klineImage copyrightMUSEUM OF CONTEMPORARY ART CHICAGO
Image captionKarya Franz Kline lebih terencana dan tidak sespontan Abstract Expressionists lainnya. (Credit: Museum of Contemporary Art Chicago)

Menurut Anfam, adalah mudah untuk melihat mengapa CIA ingin mempromosikan Abstract Expressionism. “Ini adalah sebuah strategi yang cerdas dan sinis,” jelasnya, “karena ini menunjukkan Anda dapat melakukan apapun di Amerika. Pada tahun 50-an, Abstract Expressionism dikaitkan dengan konsep kebebasan perseorangan, kanvasnya dipandang sebagai ekspresi kehidupan pribadi seniman yang melukisnya.

Hasilnya, gerakan ini berguna untuk melawan gaya resmi Rusia, Realis Sovyet, yang mendukung lukisan perwakilan. “Amerika adalah tanah kebebasan, sementara Rusia terkunci secara budaya,” kata Anfam, menyimpulkan pandangan yang CIA ingin ciptakan selama Perang Dingin.

Tentu saja ini bukan berarti senimannya sendiri bekerja sama dengan CIA, atau bahkan menyadari bahwa badan tersebut mendanai pameran Abstract Expressionist.

Tetapi apapun kebenaran terkait keterlibatan pendanaan CIA bagi Abstract Expressionism, Anfam meyakini ini adalah “hal terbaik yang pernah dibayar lembaga tersebut”.

Dia tersenyum. “Saya lebih suka mereka menggunakan dana untuk Abstract Expressionism daripada menggulingkan diktator kelompok kiri.”

Sumber tulisan Alastair Sooke adalah pengamat seni The Daily Telegraph.Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Was modern art a weapon of the CIA? – BBC Culture.

Previous articleSHiMA, ICON Pemimpin Perempuan Sukses di Masa-nya
Next article“Colorful Indonesia” Ajang Film Bergengsi Tokyo International Film Festival 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here