![]()
SENI.CO.ID — Dalam pekan ini ada lima penyair Hermana HMT, Bambang Suyatno, Yosef, Aminta dan Gaus FM. Mereka uniknya punya pengalaman di dunia seni Teater. Yang uniknya mereka menulis karya puisi karena mengeksplorasi kehidupan sehari-hari, refleksi batin, dan relasi manusia dengan lingkungan sosialnya.
Puisinya cenderung sederhana, jujur, dan dekat dengan pengalaman personal. Merupakan penulis puisi yang menghadirkan identitas, dan pencarian makna hidup. Bahasanya puitis dengan nuansa kontemplatif, sering ada memadukan pengalaman religius dan kemanusiaan. Dengan gaya ekspresif dan kritis. Karyanya menyentuh isu sosial, kegelisahan zaman, serta realitas masyarakat modern, dengan diksi yang lugas dan kadang satiris. Dan juga respon bencana. Selamat membaca dan menyimak….(red)
1.
Hermana HMT
PISIRLANGU CISARUA
Di subuh yang hening,
kala mimpi masih berlabuh,
butiran air hujan yang semula menenangkan,
perlahan menjadi beban yang menakutkan,
Air mengalir, membawa tanah yang goyah,
menjadi lumpur, meluncur tanpa arah,
rumah-rumah tersapu dalam sekejap,
lenyap ditelan bumi, tak sempat berucap.
Tak ada tegur sapa, hanya sunyi yang tersisa,
Korban berjatuhan, nyawa terputus,
duka merambah desa,
tinggal luka, tinggal tangis
Pagi datang dengan wajah muram, hati pun hampa
menyaksikan puing, menyaksikan kehilangan.
Hujan pun reda, namun duka tak surut,
air mata mengalir menyertai doa di tengah kehacuran.
Ya Tuhan,
terimalah jiwa-jiwa yang pergi dalam sekejap,
beri cahaya di jalan yang gelap,
jadikan istirahat mereka penuh kedamaian.
Kuatkanlah keluarga yang kehilangan sandaran,
berikanlah kekuatan dan kesabaran,
agar lukanya perlahan terobati,
dan harapan kembali tumbuh di hati.
Ya, Tuhan,
air mataku adalah doa bagi meraka,
ratapanku adalah harapan bagi yang tersisa,
agar bukit kembali tegak,
agar alam kembali ramah.
Bangkitkanlah kembali jiwa-jiwa yang runtuh,
Bangkitkanlah kembali desa dengan daya yang utuh
agar hari kembaki begairah, dan pantang menyerah,
seperti fajar yang tak pernah bosan menyambut pagi,
seperti air yang menumbuhkan kehidupan.
Klaten-Jogja, 25/1/2026
2.
Bambang Suyatno
CISARUA
Entah sudah berapa sering
Gerimis tiba di pagi buta
Dingin berkelana mencari titik api
Bumi semakin sepi
Kaca-kaca jendela berkabut
Cinta kedinginan
Nyaris tak bisa diselamatkan
Sungai-sungai berkomplot dengan hujan
Orang-orang teriak dan meratap
Tanah bergerak
Genting-genting terkubur
Nafas kocar-kacir semakin mengecil
Para penolong menghitung jumlah
Korban yang tak bisa diselamatkan
Seorang ibu histeris di tengah
Kepungan hujan
Menangis sejadi-jadi
Seperti Kunti yang kehilangan karna
Di kurusetra
Tiga anaknya belum ditemukan
Hatinya tak percaya lagi pada harapan
Pemukiman menjadi kuburan
Cisarua berlinang airmata
Indonesia nyaris kehabisan tenaga
Cinta compang-camping
Terperosok, terjatuh dan berdiri seperti mummi
Di tengah-tengah doa dan guguran bunga
2026
3.
Yosef Octaviana
“Menyisir Lorong Kaku yang muna”
Aku menyisir lorong ini—
dindingnya tegak, lantainya dingin dan pasti.
Setiap langkah menggema dalam kesunyian yang terjaga,
seperti ritme jantung yang dipaksa berdetak teratur.
Lorong ini kaku, tak ada belas kasih dalam sudutnya,
setiap batu bata terpasang dengan ketatnya aturan.
Tapi anehnya, pintu-pintu tak pernah benar-benar tertutup—
selalu ada celah cahaya yang mengintip dari baliknya.
Kadang aku raba dindingnya yang keras,
bertanya mengapa jalan ini harus serba lurus dan baku.
Namun di ujung sana, selalu ada ambang terbuka,
meski hanya selebar nafas yang tersisa.
Mungkin ketegaran lorong ini adalah sebuah ujian:
apakah kita berani terus melangkah,
meski langit tak terlihat, meski langkah terdengar sendiri?
Pintu yang tak menutup itu adalah sebentuk harapan—
bahwa kekakuan bukan akhir, hanya bagian dari perjalanan.
Dan aku memutuskan untuk tetap berjalan,
karena yang lebih menakutkan daripada lorong yang kaku
adalah berhenti dan tak lagi melihat celah cahaya itu—
pintu yang diam-diam selalu menyambut setiap pemberani.
4.
AMINTA ZEIN
Dahulu & Oh entah dimana cerita itu…
Dahulu, bahkan jauh sebelum dahulu
Dunia bak surga bagi suluruh penghuni pertiwi
Dahulu, bahkan jauh sebelum dahulu
Hutan tanpa penjaga, sungai tanpa pemelihara
Utuh memberi manfaat, hadir tak pernah ingkar
Alam indah, cakrawala menyapa memberi semua yang kita terima
Hamparan sawah yang dulu begitu dekat, kicau burung warna warni kini menjadi langka dan mahal.
Kita pernah bercengkrama dengan jernihnya air sungai, berenang bersama ikan-ikan yang bergerak tanpa henti.
kita pernah bersahabat dengan air terjun nan menjulang indah yang mampu menghempas segala lelah
Kita pernah melihat indahnya pelangi melingkar di ujung pandangan mata, imajinasi tercipta bidadari turun mandi
Kita pernah melihat Nini Anteh duduk tersenyum di bulatan bentuk utuh purnama yang hadir diwaktu yang sudah tentu.
Sekarang? Oh entah dimana cerita itu…
Kita terlalu sibuk dengan rasa takut kehilangan
Terlalu asik berargumen, terlalu pinter klarifikasi
Dalih demi rakyat hanya terdengar saat mereka terlihat haus
Yaa haus..
Athsmosphare bumi kian membuat manusia lebih cepat haus
Haus nganu…haus nganu..haus nganu..
Kemampuan berpikir tidak lagi terpakai dan sudah lama tergadai
Di negeri ini tidak butuh orang pintar
Di negeri ini tidak perlu orang cerdas
Karena yang menang bukanlah dari keduanya
Tapi yang mampu membuang rasa malu, yang mampu membenam rasa empati, yang mampu menendang rasa kasihan, yang mampu menjilat sepatu kotor jungjungannya.
Gunung tak lagi jadi pelindung, pesawahan tak lagi menyimpan harapan, laut perlahan menggigit garis daratan.
Hawa sejuk hanya hadir di ruang rapat
Rapat…ya rapat.
Semua bermula dari rapat. Alam mengakumulasi kemarahan karena manusia terlalu asik membahas kemunafikan.
2026
5
Gaus FM
Anjing Liar
SUNYI. Menulis sebuah cerita.
Bulan bulat penuh, nanar tergantung.
Cahyanya menyiram wajah sudut kota.
Di sela-sela bak sampah bau busuk.
Sepasang anjing liar umbar birahi.
Bercinta dengan seliar-liarnya.
Usai belah duren itu, keduanya bebaring lunglai.
Tiba-tiba datang anjing Melki.
Membawa segunung amarah.
Segarang Rahwana.
Bergetar, menggeram, menyeringai mempertononkan taringnya.
Lalu menyalak…. membentak:
“Betina itu selirku, Anjing…!”
Tak terhindarkan terjadilah pertarungan singkat.
Anjing jantan kabur dengan luka menganga di lehernya.
Melki. Sangat marah.
Menatap yang bersimpuh tersedu, masih telanjang.
“Nence…! Anjing betina macam apa kau, tai!”
Melki. menghunus sebilah belati.
Sunyi. Tetap asik bergumul dengan tema, plot, penokohan dan diksi.
Berteman malam yang meragkak larut.
Tersentak dengan gedoran pintu:
Suaminya ambruk bersimbah darah dari luka lehernya.
“Mama… maafkan papa, telah berperan sebagai laki-laki pecundang…!”
Sunyi. Dengan dingin:
“Besok, kita urus surat cerai ke Pengadilan, Bising!”
Sunyi. Girang menemukan ending untuk ceritanya.
Cinta yang berubah menjadi pelangi.
Dekorasi, keindahan hidup.
Seperti bunga, di pagi hari.
Sunyi. Menyiram kebun.
Melki. Bersepeda motor melintasi halaman.
Nence. Berdiri di mulut gang, samping gerobak bubur ayam.
“Pake sambal, Neng?” kata si Mang Bising.
Mereka, yang tidak saling mengenal.
Membuat hidup satu sama lain menjadi indah.*
Saung Tirakat, 2026
HERMANA HMT
Dikenal sebagai Mang Hermana, adalah seorang seniman senior dan pegiat budaya terkemuka asal Kota Cimahi, Jawa Barat. Ia meraih Anugerah Kebudayaan Kota Cimahi 2023 untuk kategori Pencipta dan Pengembang Seni Teater. Aktif dalam seni teater dan longser, Bandoengmooi, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).
BAMBANG SUYATNO







