Dara pertama kali melihat perempuan itu berdiri di depan rumahnya seperti bayangan yang tak salah alamat. Sepatu haknya tenggelam sedikit di tanah basah, wajahnya tetap tegak, tak menunjukkan ketidaknyamanan. Mobil mewah berhenti tak jauh, mesinnya belum dimatikan.
“Kamu Dara?” tanyanya.
Nada suaranya tenang, terlalu tenang.
“Iya, Bu.”
“Aku Ratna,” katanya singkat. “Ibunya Arga.”
Dara menelan ludah. “Silakan masuk.”
Ratna melangkah masuk tanpa menoleh sekeliling terlalu lama, seolah sudah tahu apa yang akan ia temukan. Mereka duduk berhadapan. Tak ada teh. Tak ada basa-basi.
“Kamu tahu siapa aku?” tanya Ratna.
“Semua orang tahu,” jawab Dara jujur.
Ratna tersenyum tipis. “Itu bukan keuntungan. Kadang itu kutukan.”
Dara diam. Ia belajar sejak kecil bahwa diam seringkali lebih aman.
“Kamu anak yang pintar,” lanjut Ratna. “Nilaimu bagus. Guru-gurumu memuji.”
“Terima kasih, Bu.”
“Aku ingin kamu tetap seperti itu.” Ratna mencondongkan tubuh. “Dan menjauh dari anakku.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.
“Saya tidak pernah memaksa Arga,” kata Dara menahan gemetar. “Kami hanya bicara.”
“Justru itu,” Ratna menghela napas. “Pembicaraan bisa lebih berbahaya daripada sentuhan.”
Ratna membuka tasnya. Sebuah amplop cokelat diletakkan di meja kecil yang goyah.
“Ini bukan suap,” katanya cepat. “Anggap saja bantuan.”
Dara menatap amplop itu lama.
“Untuk apa?” tanyanya.
“Untuk sekolahmu. Untuk ibumu,” jawab Ratna tanpa ragu. “Dan sebagai tanda bahwa semuanya selesai.”
Dara tersenyum getir. “Bu,” katanya pelan, “kalau saya terima, apakah Ibu akan memanggil saya dengan nama saya… atau tetap sebagai masalah?”
Ratna terdiam sejenak.
“Kamu terlalu sensitif.”
“Tidak, Bu,” Dara menggeleng. “Saya hanya terbiasa dihitung.”
Ia mendorong kembali amplop itu.
“Saya miskin,” lanjut Dara. “Tapi saya bukan kekosongan yang bisa diisi uang.”
Ratna berdiri. “Suatu hari kamu akan mengerti bahwa cinta saja tidak cukup.”
Dara mengangguk. “Saya sudah tahu itu sejak kecil.”
Ratna pergi tanpa menoleh.
Sore itu, Arga datang dengan wajah panik.
“Apa yang Ibu katakan?” tanyanya.
Dara menatapnya lama. “Dia tidak menyebut namaku sampai aku memaksanya.”
“Itu cuma caranya bicara,” bela Arga.
“Caranya bicara,” ulang Dara. “Adalah caranya memandang hidupku.”
Arga terdiam.
“Arga,” kata Dara lirih, “kalau nanti kamu harus memilih… jangan pilih aku karena kasihan.”
“Aku pilih kamu karena cinta,” balas Arga cepat.
Dara tersenyum sedih. “Cinta tanpa keberanian hanya rencana.”
Dan malam itu, jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada dua dunia.