Home #NGOPI Lukisan Kambing Hitam dan Warung Kafe di Cirebon

Lukisan Kambing Hitam dan Warung Kafe di Cirebon

0
"Scapegoat conspiracy" karya Pelukis Guntur Alibasa Ukuran 50x50 Media Acrilic Tema "Scapegoat conspiracy" Gambaran kondisi yang terjadi di Indonesia. Dimana penyelesaian kasus hukum selalu mentok pada satu dua orang yg menjadi korban (kambing hitam). Pelaku utama tidak pernah tersentuh hukum karena mereka sudah saling Sandra satu sama lain./am

Loading

Lukisan Kambing Hitam dan Warung Kafe di Cirebon

Di sebuah kafe mungil di dekat Trusmi Cirebon, tepatnya Plered aroma kopi selalu bercampur dengan bisik-bisik yang tak sempat menjadi percakapan utuh. Di sana, cangkir-cangkir bukan sekadar wadah. Mereka adalah kanvas.
Sang Barista dan pelukis ini adalah yang juga bagian dari Peguyuban Pelukis Cirebon. (PPC) — Mas Guntur, seorang lulusan DKV di Cirebon.
Keterangan foto tidak tersedia.Saya diajak ke tempat ini Natura Cafe oleh pelukis Casjiwanto Pelukis seniman Lulusan UNJ Jakarta yang asli orang Cirebon. Ada program pameran yang bukan rahasia— Tapi kafe itu melukiskan gelombang, ada kenangan yang belum sempat selesai pada permukaan V60 yang mantap kuseduh.
Hadir juga pelukis kaca Cirebon Mas Esa Muhammad yang ada di kafe itu dan Kang Dadang Pelukis Cirebon dan pengunjung datang bukan hanya karena rasa, tapi karena ingin melihat diri mereka dipindahkan ke dalam suasana ngopi nikmat. Dua penari asal Bandung dan pemain teater asal ISBI Bandung hadir.
Hanya bertahan beberapa menit sebelum larut dalam tegukan. Namun, suatu malam yang lembut dan lembab, seorang tamu yang tak diundang muncul: Ini karya baik sampil menujuk lukis mas Guntur Kambing Hitam.
Ia melangkah masuk tanpa ragu, seolah tahu bahwa setiap kursi kosong memanggilnya. Orang-orang terdiam. Lelaki muda yang baru saja ditinggal kekasih menurunkan ponselnya. Perempuan paruh baya yang menulis surat untuk masa lalunya berhenti menggigit pulpen. Lukisan Kambing saya juga suka seolah menatap barista dengan mata penuh pengetahuan—pengetahuan yang aneh, nyaris manusiawi.
Guntur yang Barista itu dan pelukis tersenyum kecil. Dengan tenang, ia mengambil satu cangkir kosong dan menyajikan  sajian yang aduhai ke pelukis Made Casta yang juga pelukis Cirebon.
Buih kopi berputar, menciptakan siluet ladang kering, langit berwarna perunggu, dan sosok yang berjalan sendirian, ada cahaya.
Tak seorang pun berkedip ketika kopi tersaji. Lukisan Kambing Hitam saksi warung kopi unik ini. Sejenak, suasana menjadi sunyi seperti halaman buku yang baru dibuka. Datang seniman satu lagi yang sangat santun. Dan kisah punya cara Kemudian, dengan langkah ringan, kita masih ngopi dengan energi kebaikan dan ter-plan -lah ada program pameran lukisan peduli bencana Sumatra dan Aceh.
Mungkin gambar satu orang atau lebih dan caturMalam itu, kafe tersebut menjadi tempat di mana yang tak terucap akhirnya menemukan jalan.
Kopi tetap para pelukis, bisik-bisik tetap menggantung niat majukan Cirebon yang muncul, saya hanya berucap, saat udara dingin sisa hujan bilang bahwa Cirebon telah banyak melahirkan seniman besar ada Affandi, Arifin C. Noer, N Riantiarno, Rastika pelukis kaca ternama dan lainnya. Dan setiap pintu terbuka menyimpan harapan bahwa suatu hari, semua yang disalahkan akan menemukan jalanya sendiri, lalu melangkah bebas menuju sukses dan malam itu kami berpamintan untuk ke Bandung. (aendra m)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here