![]()
PUISI AENDRA MEDITA
Tamiang yang di Diamkan atawa Kisah Kayu Menggelondong liar
Hutan liar lebih indah
Dan akan bikin nyaman
Alam dan kesejukan terbaca jelas
Tapi di Tamiang Aceh disana, kini ada duka
Saat ada sungai mengalir penuh dan pelan tapi deras sejumlah gelondongan kayu
Ada nomor berseri di kayu itu
26 November itu, Tamiang Aceh menyimpan nama-nama
yang tak sempat pulang
ada duka di bawah pohon sawit tapi apa itu duka yang dalam
ada yang hilang ada yang terkubur,
larut bersama senja dan doa.
Kami terbiasa berdiri sendiri
meski pundak retak oleh beban
tangan ini menolak uluran, karena kesombongan
bukan karena tak butuh– lebih gengsi yang absurd
Lalu apa karena malu-malu pada tanah yang membesarkan
Ada yang dinanti tiap subuh
bukan bantuan, bukan juga janji
hanya kabar yang tak kunjung tiba
sejak hampir sebulan lalu
atau langkah yang dulu pergi tanpa pamit.
kisah berlapis alibi
Luka kami tidak berisik
kami duduk diam dan
menatap jalan yang tak berakses berat
berharap—namun tak meminta kenyataan berat
duka itu kejam tak dihiraukan….
Jika kau datang membawa belas kasihan
biarlah ia singgah sebentar
kami lebih percaya pada waktu
dan pada diri kami yang belajar bertahan.
Di Tamiang,
kehilangan bukan untuk diratap keras-keras
ia disimpan rapi
di dada orang-orang yang memilih kuat
meski kini kami sendirian.
Dan rubuan duka orang telah pergi
Maaf kehilangan orang tercinta, dipastikan
Innalillahi wa inna lilaihi rojiun
15 Desember 2025
PUISI HERMANA HMT
Milik Siapa Nomor Batang Kayu?
Air luka masih mengalir di mata,
orang-orang saling merangkul,
menyulam harapan
diantara lumpur dan kayu gelondongan.
Tiba-tiba eskavator datang,
tak membawa janji,
tak membawa obat.
Ia berputar-putar, kaku dan dingin,
mata besinya tak menoleh pada duka,
tak memberi pertolongan.
Deru mesin perkasa itu
hanya tunduk pada kuasa,
menari dan nyanyikan lagu kepentingan.
Ia dengan rakus menggenggam kayu gelondongan
menimbang harta,
tidak pada nyawa.
Di tepi sungai,
aku bertanya pada nomor batang kayu:
Jika engkau bertuan,
mengapa tak bertanggung jawab
atas ribuan korban yang hanyut bersama banjir?
Di tengah reruntuhan,
Aku bertanya pada lumpur dan deru mesin eskavator:
apakah nyawa lebih murah
dari sebatang kayu yang terlantar?
Tak ada jawaban pasti,
kudengar hanya tangisan anak
yang kedinginan dan butuh perlindungan,
kudengar hanya keluhuan ibu
yang kesulitan mencari air bersih
Oh, Tuhan
kepalsuan dilindungi pejabat,
kemunafikan dijaga aparat,
kemanusian terpinggirkan
dan nurani terkubur bersama mimpi.
Cimahi, 30 Desember 2025
–000–
Aendra Medita adalah seorang seniman visual (fotografer) dan penulis, praktisi media/komunikasi asal Bandung yang aktif di dunia seni rupa dan media online, dikenal sebagai pendiri dan konsultan di perusahaan komunikasi, serta pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi di media energi dan seni.co.id. Menulis Puisi dan sejumlah naskah teater. Bukunya saat ini sudah terbit diantaranya autobiografi Jurnalis 3 Zaman Jus Soema di Pradja dan sedang menyusun buku Jaya Suprana. Beliau memiliki latar belakang pendidikan seni teater dan fotografi, serta memiliki pengalaman luas di bidang media dan PR.
—
Hermana HMT Seorang budayawan, seniman teater, penulis, sutradara, dan pegiat seni Sunda asal Cimahi yang aktif dalam melestarikan budaya melalui pertunjukan seperti Longser dan juga dikenal sebagai mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi. Ia sering disebut “Mang Hermana” dan aktif dalam berbagai kelompok seni seperti Teater Bapensi, Teater Bel Bandung, Longser Pancakaki, dan Bandoengmooj Arts & Culture.







