Home CATATAN SENIBUDAYA cerpen: LUKA YANG TAK BISA DIPERBAN

cerpen: LUKA YANG TAK BISA DIPERBAN

0

Loading

cerpen: AHKDip

LUKA YANG TAK BISA DIPERBAN

Aku selalu percaya suara bisa lebih kuat daripada fakta.
Bukan suara keras—tapi suara yang terasa akrab. Suara yang bilang, kita sama, aku mewakilimu, aku berjuang untukmu. Dan aku, seperti banyak orang lain, menyerahkan pikiranku dengan sukarela.
Hari itu aku tahu semuanya runtuh dari pesan singkat.

Bima:
Lo udah baca beritanya?

Aku sedang di bus, berdiri setengah miring, berpegangan pada besi dingin. AC mati, keringat mengalir pelan di punggung.

Aku:
Berita apa lagi?

Balasan tak langsung datang. Mungkin dia ragu. Atau mungkin dia sedang memilih kata yang paling tidak melukaiku—dan gagal.

Bima:
Tentang dia.

Bus berhenti mendadak. Seorang ibu mengumpat pelan. Aku hampir jatuh.
“Ah,” gumamku. “Paling fitnah.”
Aku membalas cepat, refleks, tanpa berpikir.

Aku:
Udah biasa. Menjelang akhir jabatan, pasti digoreng.

Tiga titik muncul lama di layar. Terlalu lama.

Bima:
Kali ini beda.

Aku turun dua halte lebih awal. Entah kenapa kakiku bergerak sendiri. Warung kopi kecil di pojok jalan seperti memanggil. Aku masuk, duduk, pesan kopi paling murah.
Berita itu akhirnya kubuka.
Judulnya tidak sensasional. Itu yang membuatnya menakutkan.
Tidak ada kata “menggemparkan”. Tidak ada tanda seru.
Hanya kronologi. Tanggal. Angka. Nama.
Aku membaca pelan. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Setiap paragraf seperti mengetuk kepalaku dari dalam.
“Ini… rapi,” gumamku.
“Karena bukan gosip,” suara Bima muncul dari seberang meja. Aku bahkan tak sadar dia sudah datang.
Dia menatapku dengan wajah yang sudah lama tidak kulihat: hati-hati.
“Kata siapa ini bukan rekayasa?” aku bertahan. “Lo tahu sendiri, media—”
“Ini bukan media,” potongnya. “Ini dokumen.”
Aku tertawa kecil.
Tertawa yang terlalu cepat, terlalu keras.
“Lo berubah,” kataku. “Sejak kapan lo percaya beginian?”
Bima tidak langsung menjawab. Dia menyeruput kopi, lalu menatapku lurus.
“Sejak gue berhenti percaya omongan lo.”
Kalimat itu menusuk. Bukan karena marah, tapi karena benar.
Aku ingat bertahun-tahun lalu, aku yang pertama kali mengajaknya datang ke rapat. Aku yang mengirim video, artikel, meme. Aku yang bilang, ‘Kalau bukan dia, siapa lagi?’
“Gue cuma—” aku menelan ludah. “Gue cuma pengin kita punya harapan.”
“Dan sekarang?” tanya Bima pelan.
Aku scroll lagi. Foto-foto itu tak bisa diperdebatkan. Tanda tangan itu jelas. Rekaman suara itu… terlalu familiar.
“Kita semua pengin percaya,” lanjut Bima. “Tapi lo menutup mata.”
Aku ingin membantah. Ingin mencari satu celah. Satu kesalahan kecil. Tapi tak ada.
Yang ada justru kenangan.
Aku teringat grup keluarga.
Pesan panjangku. Nada menggurui.
“Jangan mau dibodohi,” tulisku dulu—ironisnya.
Aku teringat teman lama yang tak lagi menyapa.
“Kita beda jalan,” kataku waktu itu, bangga.
“Gue malu,” kataku tiba-tiba.
Bima terdiam.
“Malu karena apa?” tanyanya.
“Karena gue ngerasa pinter,” jawabku. “Padahal cuma keras kepala.”
Kami pulang tanpa banyak bicara.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah-wajah muncul. Bukan wajah pemimpin itu—tapi wajah orang-orang yang pernah kutertawakan.
Aku membuka media sosial. Timeline sunyi. Banyak yang menghapus unggahan lama. Ada juga yang masih bertahan, membela.
Aku hampir menulis pembelaan. Jari-jariku sudah siap. Kalimatnya bahkan sudah tersusun di kepala.
Lalu aku berhenti.
Aku teringat satu kalimat di berita itu:
“Kebohongan terbesar adalah yang dipertahankan meski kebenaran sudah hadir.”
Aku menutup aplikasi.
Keesokan harinya, aku bertemu Rani. Dulu kami satu barisan. Sekarang, kami canggung.
“Kamu baca beritanya?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aku mengangguk.
“Dan?” desaknya.
Aku menghela napas. “Aku salah.”
Rani menatapku lama. Matanya bukan marah. Lebih ke… lelah.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “yang bikin sakit itu bukan dia bohong. Tapi kita dibikin bodoh dan rela.”
Aku menunduk.
“Maaf,” kataku. Kata itu terasa kecil. Tapi jujur.
Dia tersenyum tipis. “Setidaknya kamu berhenti berteriak.”
Hari-hari berikutnya aneh.
Tidak ada lagi poster. Tidak ada lagi slogan.
Aku seperti kehilangan bahasa.
Di kantor, orang-orang membahas hal itu dengan hati-hati, seperti berjalan di pecahan kaca.
“Lo dulu pendukung ya?” tanya seorang rekan baru.
“Iya,” jawabku.
“Nyesel?”
Aku berpikir sebentar.
“Nyesel karena berhenti mikir,” kataku. “Bukan karena pernah berharap.”
Dia mengangguk, mungkin tidak sepenuhnya paham.
Minggu berikutnya, Bima mengajakku ke tempat yang sama.
“Kenapa lo masih mau ngobrol sama gue?” tanyaku.
Dia tersenyum kecil. “Karena lo denger sekarang.”
Aku tersenyum balik. Canggung. Tapi hangat.
Di rumah, aku akhirnya membuka kembali unggahan lama. Satu per satu. Kubaca. Rasanya seperti membaca orang lain.
Aku menulis satu status pendek:
“Saya pernah percaya dan membela dengan keras. Hari ini saya tahu saya salah. Tidak minta dimaklumi—hanya ingin jujur.”
Tak lama, komentar datang. Ada yang mencibir. Ada yang menyambut. Ada yang diam.
Aku tidak membalas.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menang.
Di cermin kamar mandi, aku melihat wajahku sendiri.
Bukan pahlawan. Bukan pengkhianat.
Hanya manusia yang akhirnya berani berkata:
“Aku tertipu—dan aku belajar.”
Borok itu memang memalukan.
Tapi menutupinya lebih busuk.
Dan mungkin,
kejujuran bukan tentang terlihat benar—
melainkan berani salah
dan tetap berjalan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here