Di negeri yang katanya gemilang—tapi lampunya sering mati—ada hukum yang tak tertulis namun sakti: Yang bertanya harus siap dicurigai.
Begini ceritanya. Ada seorang bernama Wandyawan, atau dikenal sebutan atau panggilan Wandi manusia biasa, tidak punya pasukan, tidak punya jabatan, dulu pernah tapi tak lagi menjabat, hanya punya rasa penasaran yang sialnya masih berfungsi. Ia bertanya hal sederhana:
“Kalau bilang A itu benar, tunjukkan buktinya.” Pertanyaan jernih macam air mineral. Tapi di negeri berlogika lumpur, air jernih dianggap mencurigakan. Seketika, komentar-komentar datang seperti serangga mengerubungi bangkai.
“Mau bikin gaduh ya?”
“Kamu pasti agen oposisi!”
“Kamu kenapa tidak percaya saja?”
Yang mengejutkan bukan tuduhannya, tapi kecepatan orang menuduh.
Bagai refleks: melihat tanya –lempar prasangka–bangun drama. Padahal yang ditanya cuma bukti.
Mari kenalkan tokoh sentral: Sang Pemilik Kebenaran. Ia selalu tampil percaya diri sambil mengangkat map tebal, seperti kitab suci pendukung argumennya.
Yang lucu: isi dalamnya tak pernah diperlihatkan. Warga penasaran.
“Kalau yakin benar, buka dong.” Sang Pemilik Kebenaran tersenyum seperti pedagang kosmetik bodong.
“Tak bisa. Rahasia.”
Dari sini, akal sehat mulai kabur, mungkin malu, mungkin muak. Kalau punya bukti tapi disembunyikan, apa gunanya? Tapi ya begitulah—sebagian besar di negeri itu percaya bukan pada data, tapi pada nada suara.
Semakin lantang seseorang bicara, semakin benar ia dianggap.
Sementara yang pelan, yang teliti, yang kritis—dianggap hama intelektual. Wandi kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih logis daripada seluruh seminar nasional gabungan:
“Bukankah lebih mudah tunjukkan saja?
Biar jelas, selesai.” Sial baginya. Di negeri itu, logika adalah makhluk tabu. Ia tak boleh berkeliaran sembarangan.
Balasan yang datang justru label:
“Tersangka penyebar keraguan.”
“Kau mau provokasi?”
“Kau pembawa keributan!”
Ironi paling telanjang: yang bikin gaduh adalah rahasia itu, bukan pertanyaan.
Tapi apa daya, logika tak punya kuasa di tanah yang memuja opini tanpa bukti. Di sana, kebenaran bukan dihitung, tapi ditentukan—oleh siapa paling berpengaruh.
Bising pun pecah. Media saling bersautan seperti ayam kampung rebutan sisa nasi. Para pakar dadakan muncul dari lorong gelap internet: ada influencer tahu bulat, komentator sendal jepit, analis politik kucing liar.
Semua merasa ahli.
Padahal kemampuan mereka kira-kira setara membaca ampas kopi untuk meramal ekonomi.
Mereka bicara soal data, padahal tak satu pun pernah melihatnya. Katanya: “Sudah diverifikasi!”
Ditanya: “Oleh siapa?”
Jawabnya: “Ya, pokoknya!”
Begitulah cara sains mati di negeri kembang gula. Sang Pemilik Kebenaran lalu bersabda:
“Sudah, tak usah tanya-tanya. Percaya saja.” Percaya saja. Kalimat yang sering keluar dari mulut penipu sebelum lari. Tapi warga mengangguk.
Mungkin karena takut. Mungkin karena sudah lelah berpikir. Di negeri itu, bertanya dianggap aktivitas berisiko tinggi—setara ikut demo tanpa izin.
Kalau salah timing, kau bisa lenyap dari pergaulan. Kalau salah publik, kau bisa dicap musuh bangsa. Kebenaran tak lagi soal fakta—tapi soal siapa yang bicara dan siapa yang didukung.
Wandi masih bersuara, pelan tapi tegas:
“Kalau tak mau tunjukkan, minimal bilang tidak punya.”
Jawabannya tetap senyum licin. Map tetap tertutup rapat, seperti dompet pejabat di depan KPK penuh pengawal.
Dan negeri tetap gaduh. Lalu, entah kenapa, justru Wandi yang dibidik.
Katanya: “Ini semua jadi ricuh karena pertanyaanmu.” Logika terjungkir: bukan karena rahasia yang ditahan, tapi karena orang ingin tahu.
Mirip menyalahkan jendela karena matahari masuk. Lempar opini makin liar. Ada yang bilang Wandi dibayar pihak musuh. Ada yang bilang ia kacung propaganda.
Ada pula yang bilang ia haus sensasi. Padahal ia cuma haus penjelasan. Namun, di negeri itu, dahaga pengetahuan diterjemahkan sebagai ancaman.
“Bila terlalu ingin tahu, kau akan menciptakan masalah baru,” kata seorang penjaga stabilitas palsu.
Stabilitas di sana berarti: Diam. Setuju. Jangan ubah narasi. Kalau tak patuh, siap-siap diseret masuk pusaran tuduhan.
Akhirnya, Wandi bertanya pada dirinya sendiri:
“Benarkah aku salah hanya karena bertanya?” Jawaban yang ia temukan getir:
Ya. Di negeri seperti ini, bertanya adalah kesalahan. Karena kebenaran bukan untuk diketahui—hanya untuk dikutip. Bukan untuk diuji—hanya untuk disembah.
Di situ, Wandi sadar: Mereka bukan marah karena ia ragu. Mereka marah karena ia tidak ikut percaya. Kebenaran dijadikan berhala; pengetahuan hanya pelengkap.
Pada akhirnya, Wandy bungkam. Bukan karena kalah, tapi karena muak. Ia tahu, percuma mencari logika di tengah pasar bisik-bisik. Negeri itu memilih memelihara asap, bukan api.
Menjaga kabut, bukan terang. Mereka lebih nyaman hidup dalam keruh yang teratur daripada jernih yang membuat gusar. Ironis, tapi nyata: Yang bertanya dicurigai.
Yang menjawab tanpa bukti dipuji. Dan yang menyembunyikan data dipuja laksana nabi. Di negeri itu, diam adalah mata uang paling aman.
Dan tanya adalah dosa paling awal. Wandi pun pergi, membawa satu pelajaran pahit: Di tanah di mana kebenaran dirawat dalam gelap, orang yang mencari cahaya selalu dianggap sumber kebakaran.