Home AGENDA “Tanah yang Dikhianati”

“Tanah yang Dikhianati”

0

Loading

Cerpen Yosef Octaviana

“Tanah yang Dikhianati”

Bunyi pertama bukan gemuruh, melainkan lenguhan panjang bumi yang patah. Selama seminggu, langit di atas Tamiang Aceh tak henti menumpahkan isinya. Tembok penahan di hulu, yang anggaran perbaikannya lenyap dalam laporan fiktif, akhirnya mengeluarkan nafas terakhir. Banjir bandang yang lahir dari sana bukan lagi air; ia adalah monster lumpur setinggi gedung tiga lantai, bergerak rakus menghabiskan lembah.

Korbannya tidak lagi puluhan, atau ribuan. Dalam hitungan jam, ratusan ribu nyawa tersapu dari peta. Desa-desa hilang seperti gambar di papan tulis yang dihapus. Kota Kuala Simpang berubah menjadi kuburan raksasa. Mereka yang tewas terseret, tertimpa reruntuhan, atau terkubur hidup-hidup dalam lumpur, adalah yang beruntung. Yang lebih mengerikan adalah mereka yang selamat.

Di atap-atap yang tersisa, ribuan orang bertahan tanpa makanan, air bersih, atau harapan. Luka infeksi mulai membusuk. Anak-anak menangis kehausan dengan bibir pecah-pecah. Wabah diare dan leptospirosis bergentayangan seperti hantu tak kasat mata, memakan sisa-sisa kehidupan. Mereka menunggu bantuan. Menunggu tanda bahwa negara mereka ingat.

Bantuan itu tak kunjung datang. Helikopter pemerintah hanya terbang rendah, mengambil gambar untuk konferensi pers, lalu pergi. Konvoi truk bantuan terhenti di pos-pos yang didirikan oleh preman berjaket organisasi. “Bantuan untuk yang tercatat. Yang tercatat anggota kami,” teriak seorang preman, sambil menahan karung beras. Seorang ibu tua merangkak, menjulurkan tangan yang kurus. “Saya mau daftar, Bang. Bayarnya berapa?” “Nanti. Tunggu proses.”

Kegelisahan menyebar ke seluruh dunia melalui gawai yang sekarat. Video seorang ayah mengubur ketiga anaknya yang membusuk di tepian lumpur viral. Tangisan seorang anak berdiri di atas tumpukan mayat, memanggil-manggil “Mama!”, membekas di hati jutaan netizen. Dunia terhenyak, bertanya: di mana negara? Di mana kemanusiaan?

Kemarahan warga Tamiang yang masih hidup, yang kelaparan dan sakit, mulai mendidih. Api itu menyala menjadi kobaran amuk ketika sebuah konvoi besar memasuki wilayah mereka. Bukan truk bantuan. Tapi truk-truk trailer yang mengangkut alat berat ekskavator, dan diiringi oleh puluhan preman bersenjata kayu dan parang. Mereka adalah anak buah PT Hutan Makmur Sejahtera.

Dengan dingin, ekskavator itu mulai bekerja. Bukan mengangkat mayat atau membersihkan puing untuk evakuasi. Tangan besarnya menjangkau, mencengkeram, dan mengangkut kayu-kayu gelondongan besar yang terseret banjir dan tersangkut di antara rumah-rumah yang hancur. Kayu-kayu itu adalah sisa hutan yang mereka tebang secara ilegal di hulu, yang kini jadi “barang bukti” yang harus diselamatkan. Seorang kakek, tulang-tulangnya nyaris menembus kulit, berdiri di depan roda ekskavator.

“Ini kayu dari tanah kami! Dari hutan yang seharusnya melindungi kami! Kalian tebang, hingga banjir datang. Kalian bunuh kami. Sekarang mayat anak kami masih basah, kalian datang merampas lagi?!” teriaknya, suara serak penuh madah dan malaria.

Si operator ekskavator meludah. “Surat-surat lengkap, Kek. Ini aset perusahaan. Pergi sana, cari makan.”

Kalimat itu seperti percikan di gudang mesiu. Teriakan marah yang tertahan selama berhari-hari meledak. Dari balik puing, dari dalam tenda darurat yang robek, dari atas bukit kecil tempat mereka mengungsi, rakyat Tamiang yang tersisa bangkit. Mereka mungkin kelaparan, mungkin sakit, tapi mata mereka menyala dengan api yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah kehilangan segalanya. Dengan tongkat, dengan batu, dengan tangan kosong, mereka maju. Menyerbu konvoi perusahaan.

Preman-preman itu kewalahan. Amukan orang-orang yang putus asa bukan lagi amukan manusia, tapi amukan alam. Seperti banjir bandang yang mereka hadapi. Beberapa preman terjatuh, alat berat mereka dirusak. Teriakan “Maling!” dan “Pembunuh!” menggema di lembah kematian itu.

Cerita ini tidak berakhir dengan kemenangan. Tidak ada kemenangan di sini. Tapi ia berakhir dengan satu gambaran yang takkan pernah terlupakan: seorang anak kecil, perutnya kembung akibat kelaparan, duduk di atas kabin ekskavator yang sudah dirobohkan. Di tangannya, ia menggenggam sepotong kecil kulit kayu. Ia menatap kosong ke arah kamera seorang jurnalis lepas yang masih bertahan, seolah bertanya: dunia mana ini, yang lebih menghargai kayu mati daripada nyawa manusia?

Tamiang masih basah. Baunya masih anyir. Dan dari dalam kuburan massal terbesar di abad ini, sebuah pertanyaan bergema, tak terjawab: bencana alamkah ini, atau pembunuhan berencana?

Jose oce minggu 25 January 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here