![]()
Ruang Cinta, Kebebasan, dan Dialog Kreatif dalam Smara Bhumi
SENI.CO.ID — PAMERAN seni rupa pada hakikatnya bukan sekadar ajang memamerkan karya, melainkan ruang perjumpaan gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai yang hidup di balik proses penciptaan. Pameran Smara Bhumi yang diselenggarakan di Balai Budaya Jakarta pada 1–8 Februari 2026 menghadirkan pemahaman tersebut secara utuh.
Dalam pameran ini, Agus Budianto (Aquarelle Studio) dan 31 pelukis cat air asuhannya tampil bukan hanya sebagai perupa cat air yang matang secara artistik, tetapi juga sebagai pendidik yang membuka ruang dialog kreatif bersama murid-muridnya.
Ada nama Aviliani, Basri Kamba,Baskoro Sardadi, Chesna Anwar, Cindy A. Budiono, Devayanti A. Wulaningtyas, Dian Fitrasari, Didit Maya Paksi, Dumasi Marisina Magdalena Samosir, Dyah Prasetyorini, Erika Enda Ginting, Ernani Hastuti, Hedy Lapian, Helena Virginia Gunario. Indrawati Halim, Lita Husin, Michelina Triwardhany, Niken Vijayanti, Ratu Iqlima, Regina Busono, Shanti Surya, Sri Wahyuni, Susy Liestiowaty, Syiska Diranti Ventia, Tianty Trisna Dewi, Umi Haksami, Vasundara Sur, Vera Eve Lim, Venny Jokowidjaja dan Yulian Sodri
Kebersamaan inilah yang menjadikan tajuk Smara Bhumi lebih dari sekadar pameran karya; ia menjelma menjadi peristiwa kultural yang menegaskan pentingnya relasi antargenerasi dalam dunia seni rupa (cat air)
Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak berhenti di ruang kelas atau studio tertutup. Sebaliknya, proses tersebut terus berlanjut di ruang publik, melalui dialog dengan penonton dan konteks sosial yang lebih luas. Dengan medium cat air sebagai pijakan utama, pameran ini menghadirkan eksplorasi visual yang cair, ekspresif, dan sarat muatan emosional.
Smara Bhumi sebagai Konsep dan Spirit Pameran
Tajuk Smara Bhumi mengandung kekuatan simbolik yang menjadi fondasi konseptual pameran. Kata “Smara” merujuk pada cinta, getaran rasa, dan dorongan batin yang menggerakkan manusia untuk mencipta. Sementara “Bhumi” dipahami sebagai bumi—ruang tempat manusia berpijak, hidup, dan berelasi. Dalam pameran ini, bumi tidak hanya dimaknai secara fisik sebagai lanskap alam, tetapi juga sebagai ruang sosial, emosional, dan spiritual.
Tulisan Kurator pameran Bambang Asrini menyatakan para seniman itu merayakan beragam ekspresi yakni saling membeda dalam pola, bentuk, serta topik-topik serta karakter lukisan. Namun memiliki kiblat selalu mengedepankan cinta seperti ditauladankan Smara yang kemudian mengayomi seperti Bhumi juga dalam makna kata Adimanggala, memimpin dengan cara mempersatukan dengan kasih.
“Maka Smara Bhumi Adimanggala adalah untaian puitika frasa tentang bertemunya keberbedaan, kekuatan ekspresi yang sangat personal untuk kemudian rebah dalam kebersamaan komunitas. Menggapai apa yang dimaknai sebagai memimpin diri sekaligus membersamai dalam kelompok seni,”ujar Bambang.
Ada 31 seniman seniman yang tergabung di Agus Budianto (Aquarelle Studio (ABAS) dalam pameran Smara Bhumi itu dengan mengulik awal pernyataan pendiri sekaligus mentor utamanya, Agus Budiyanto dengan “Aku melukis bukan merekam apa yang aku lihat tapi menuangkan yang aku rasakan. Aku menangkap bunyi tidak dengan telinga tapi lebih kepada rasa”, ujarnya sebagai konsep berkarya.
Tentang Sejarah & Asal-Usul Cat Air
Mesir Kuno dan Cina: Penggunaan media pigmen cair yang menyerupai cat air sudah sejak zaman Mesir Kuno (kira-kira 3000 SM) untuk lukisan pada papirus dan di dinding makam. Di Cina, teknik cat air sudah digunakan pada masa Dinasti Tang (618–907 M) dan terus berkembang di Jepang, di mana cat air menjadi dasar dari seni lukis tradisional Asia Timur.
Pada perkembangan lanjutan Pigmen Alami: Bangsa Yunani dan Romawi memakai pigmen alami yang dicampur dengan air untuk melukis fresko, tetapi teknik ini berbeda dari seni lukis cat air karena fresko diterapkan pada plaster basah. Fresko berasal dari frasa Italia buon fresco yang berarti “selagi basah”. Pigmen yang ditimpakan di atas plaster basah akan melekat sangat kuat sehingga hasil karya bisa dinikmati berpuluh tahun.
Teknik melukis Fresko adalah cara melukis pada dinding dengan menimpakan pigmen pada plaster dinding yang baru dilapisi. Kemudian definisi ini sedikit berubah karena Leonardo da Vinci memperkenalkan teknik baru dengan menimpakan pigmen warna kepada lapisan yang telah kering dengan sedikit modifikasi.
Masuk ke Zaman Pertengahan dan Renaisans dimana pada Abad Pertengahan, seniman Eropa menggunakan pigmen berbasis air dalam naskah miniatur dan iluminasi pada kitab-kitab suci. Teknik ini memerlukan presisi dan detail tinggi, dan sebagian besar diterapkan pada kertas atau vellum.
Renaisans, masa ini teknik cat air mulai berkembang di Eropa, berkat seniman seperti Albrecht Dürer dari Jerman (1471–1528) yang mengembangkan cat air sebagai medium independen. Dürer menggunakan cat air untuk menggambarkan lanskap, flora, dan fauna, menjadikannya salah satu seniman Eropa pertama yang mengeksplorasi potensi penuh medium ini.
Pada Abad Ke-18 dan Ke-19: Masa Keemasan Cat Air di Inggris menjadi sangat populer di Inggris pada abad ke-18 dan 19, di mana ia digunakan secara luas oleh seniman lanskap dan ilmuwan. Pada masa ini, Joseph Mallord William Turner membawa seni cat air ke tingkat yang baru dengan karya-karyanya yang dramatis dan penuh emosi. Selain tumbuh perkembangan alat-alat yang pada masa ini, cat air dijual dalam bentuk padat atau tabung, yang membuatnya lebih mudah diakses dan praktis untuk seniman, terutama dalam membuat sketsa alam terbuka (plein air).
Sebuah sekolah bernama British School of Watercolor bnetukan Turner ada seniman seperti Thomas Girtin dan John Constable memperkenalkan teknik baru dalam cat air, seperti teknik basah-basah (wet-on-wet) untuk menciptakan efek yang halus dan atmosferik.
Masuk Abad Ke-19 dan Awal Abad Ke-20 perkembangan Global dan pada pada abad ke-19, ini seni lukis cat air menyebar ke Amerika Serikat. Di sana, seniman seperti Winslow Homer menggunakan cat air untuk menangkap pemandangan laut dan kehidupan pedesaan Amerika dengan cara yang kuat dan nyata.
Masuknya seni lukis mempengaruhi di Jepang, Pada waktu yang hampir bersamaan, Jepang juga mengembangkan gaya lukisan ukiyo-e (gambar dunia yang mengambang), yang dipengaruhi oleh seni cat air dan cetakan kayu. Seniman seperti Hokusai dan Hiroshige menciptakan karya ikonik yang mempengaruhi seniman Barat.
Pada abad 20, Eksperimen dan Inovasi
Perkembangan ini seniman seperti John Singer Sargent dan Georgia O’Keeffe mulai bereksperimen dengan cat air, menjadikannya medium ekspresif untuk mengeksplorasi warna dan bentuk. Aliran Abstrak dalam Seni cat air juga diadopsi oleh seniman abstrak seperti Wassily Kandinsky dan Paul Klee, yang menjadikannya bagian dari gerakan modernisme dan abstraksi.
Di Asia, seniman Jepang dan Cina terus mempopulerkan cat air dengan tradisi yang kaya, sekaligus mengeksplorasi pendekatan modern. Di India, seni cat air berkembang pesat dalam gerakan Bengal School of Art.
Kontemporer
Saat ini, cat air tidak hanya dipandang sebagai media tradisional tetapi juga sebagai medium yang fleksibel untuk berbagai gaya. Cat air kini digunakan untuk seni figuratif, abstrak, ilustrasi, desain grafis, hingga seni instalasi. Masuk pada periode Digital, dimana era digital, seni cat air bahkan diadaptasi dalam bentuk digital, memungkinkan efek cat air diterapkan dalam perangkat lunak desain grafis. Jika kita Seni lukis cat air telah berkembang dari sekadar medium ilustratif dan dokumentatif menjadi salah satu bentuk seni rupa yang dihargai di seluruh dunia. Fleksibilitas dan kehalusan medium ini terus menginspirasi seniman untuk bereksperimen, menjadikannya medium yang abadi dan terus berkembang akan masuk dalam seiring waktu.
Agus Budianto: Seniman, Guru, dan Fasilitator Kreatif
Melalui konsep Smara Bhumi menghadirkan seni sebagai bentuk perayaan kehidupan—tentang bagaimana individu menemukan dirinya dalam relasi dengan lingkungan dan komunitas.
Dalam pameran ini, Agus Budianto dan 31 seniman menempati posisi yang unik. Ia hadir sebagai seniman dengan karakter visual yang kuat, sekaligus sebagai guru yang mendorong murid-muridnya untuk menemukan identitas artistik masing-masing. Pendekatan pedagogis yang ia terapkan tidak berorientasi pada peniruan gaya, melainkan pada pengembangan kepekaan rasa, keberanian bereksperimen, dan kejujuran dalam proses.
Karya Agus sendiri, termasuk lukisan Infinity, memperlihatkan kematangan eksplorasi medium cat air. Sapuan warna yang mengalir, pertemuan pigmen yang spontan, serta komposisi yang terbuka menciptakan pengalaman visual yang kontemplatif. Karya-karya tersebut tidak mendominasi ruang pamer, melainkan hadir sebagai titik dialog dengan karya murid-muridnya.

Murid-murid sebagai Subjek, Bukan Bayangan
Salah satu kekuatan utama Pameran Smara Bhumi adalah keberhasilan menempatkan murid-murid sebagai subjek artistik yang mandiri. Setiap pelukis pendatang baru tampil dengan identitas visual yang jelas dan berbeda satu sama lain. Tidak terlihat upaya menyeragamkan gaya atau pendekatan, justru keragaman inilah yang menjadi nilai utama pameran.
Perbedaan penggunaan warna, tekstur, dan gestur menunjukkan bahwa proses belajar yang terjadi bersifat dialogis. Agus Budianto berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang eksplorasi, bukan sebagai figur otoritatif yang menentukan arah tunggal. Hal ini tercermin dalam keberanian murid-muridnya untuk menghadirkan karya yang personal dan jujur.
Medium Cat Air sebagai Metafora Kehidupan
Cat air, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, menjadi medium yang tepat untuk merepresentasikan gagasan Smara Bhumi. Sifatnya yang cair dan sulit dikendalikan sepenuhnya menjadikan setiap karya sebagai hasil pertemuan antara niat dan kebetulan. Dalam konteks ini, cat air berfungsi sebagai metafora kehidupan—tentang bagaimana manusia belajar menerima ketidakpastian dan meresponsnya dengan kesadaran.
Baik Agus maupun murid-muridnya menunjukkan pemahaman mendalam terhadap karakter medium ini. Teknik basah yang dominan menghasilkan pertemuan warna yang organik dan ekspresif. Ketidaksempurnaan tidak disembunyikan, melainkan dirayakan sebagai bagian dari proses kreatif.
Kurasi sebagai Ruang Dialog
Kurasi pameran Smara Bhumi disusun dengan cermat untuk menegaskan dialog antar karya. Tidak ada pemisahan kaku antara karya guru dan murid, sehingga batas hierarki menjadi cair. Penataan ini memungkinkan pengunjung merasakan alur narasi visual yang saling terhubung, sekaligus menegaskan bahwa pameran ini adalah ruang belajar bersama.
Skala karya yang relatif besar untuk medium cat air memberikan pengalaman visual yang imersif. Pengunjung diajak untuk mendekat, mengamati detail pigmen dan tekstur, lalu mengambil jarak untuk merasakan keseluruhan komposisi. Pengalaman ini memperkuat kesadaran akan proses dan materialitas karya.
Apresiasi Lintas Disiplin yang menarik datang dari Komponis dan pianis Ananda Sukarlan yang menyatakan bahwa Kualitas pameran Smara Bhumi juga mendapatkan pengakuan dari komponis dan pianis dunia ini. Ananda Sukarlan. Ia menyebut pameran ini sebagai pengalaman yang sangat menginspirasi, khususnya karena kurasinya yang cermat dan mendetail. Menurutnya, pameran ini tidak hanya menonjolkan kualitas teknis, tetapi juga—yang terpenting—menegaskan identitas kuat masing-masing pelukis dari segi warna, tekstur, dan ekspresi.
Ananda secara khusus mengungkapkan ketertarikannya pada karya Infinity dari Agus Budianto, yang ia sebut sebagai karya sang maestro cat air. Selain itu, ia menyebut nama Regina Busono, Aviliani, dan Vera Eve Lim sebagai pelukis favoritnya dalam pameran ini. Menariknya, sebagai penyandang sindrom synesthesia, Ananda mengalami karya-karya tersebut sebagai “warna suara”—kombinasi akord musikal yang tidak lazim dan kaya nuansa. Pengalaman lintas indera ini mempertegas bahwa karya-karya dalam Smara Bhumi mampu melampaui batas medium dan disiplin seni.
Lebih jauh, Ananda menekankan bahwa keseluruhan pameran menghadirkan rasa keterhubungan antarpengunjung, membuktikan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu mempersatukan perbedaan. “Pernyataan ini memperkuat posisi Smara Bhumi sebagai pameran yang tidak hanya relevan secara visual, tetapi juga bermakna secara kultural,” ungkapnya.
Seni sebagai Ruang Keterhubungan
Salah satu capaian penting pameran ini adalah kemampuannya menciptakan rasa keterhubungan. Melalui karya-karya yang dipamerkan, pengunjung diajak untuk merasakan pengalaman emosional yang kolektif. Setiap lukisan menjadi pintu masuk menuju refleksi personal, namun tetap terikat dalam narasi kebersamaan.
Keterhubungan ini tidak hanya terjadi antara karya dan penonton, tetapi juga antara para pelukis itu sendiri. Pameran ini memperlihatkan bagaimana komunitas seni dapat menjadi ruang aman untuk berbagi, belajar, dan tumbuh bersama.
Sebagai pameran yang melibatkan guru dan murid, Smara Bhumi memiliki dimensi edukatif yang kuat. Ia menunjukkan bahwa pendidikan seni tidak berhenti pada transfer keterampilan teknis, tetapi mencakup pembentukan sikap, nilai, dan kesadaran artistik. Dengan menempatkan karya murid sejajar dengan karya guru, pameran ini memberikan pengakuan terhadap proses belajar sebagai bagian integral dari praktik seni.
Secara sosial, pameran ini menawarkan alternatif terhadap kecenderungan individualisme dalam dunia seni rupa. Smara Bhumi menegaskan bahwa kebersamaan dan solidaritas dapat menjadi sumber kekuatan kreatif.
Estetika, Etika, dan Kejujuran Proses
Karya-karya dalam pameran ini mencerminkan kesadaran estetika yang selaras dengan etika berkarya. Kejujuran dalam proses, keberanian berekspresi, dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi nilai-nilai yang terasa kuat. Nilai-nilai ini tidak hanya relevan dalam konteks seni, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
Agus Budianto, melalui perannya sebagai seniman dan pendidik, menghadirkan teladan tentang bagaimana praktik seni dapat dijalankan dengan integritas dan kepedulian terhadap sesama.
Pameran Smara Bhumi merupakan peristiwa seni yang kaya makna. Melalui kebersamaan Agus Budianto dan murid-muridnya, pameran ini menghadirkan seni sebagai ruang dialog, pembelajaran, dan pertumbuhan bersama. Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mengandung refleksi mendalam tentang cinta, kebebasan, dan keterhubungan manusia dengan bumi serta sesamanya.
Dengan kurasi yang cermat, eksplorasi medium yang jujur, serta dukungan apresiasi lintas disiplin, Smara Bhumi berhasil menegaskan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan. Pameran ini menjadi contoh penting bagaimana relasi guru dan murid dapat melahirkan praktik seni yang hidup, relevan, dan bermakna di tengah dinamika kehidupan kontemporer.
Aendra Medita, Pemimpin Redaksi SENI.CO.ID dan penikmat seni budaya







