Memerah di antara senyap abstraksi tak bernilai nisbi sekalipun. Lantas aksara membuat pertanyaan; semakin sunlit di pahami meski tampaknya semua rumus duniawi nan congkak mencoba menerka; teori akhirnya menjadi sampah ketika esensial merumuskan nol sampai dengan tak terhingga, juga nilai terlihat di abstraksi tak ada di tiada lantas ada; kemudian seolah-olah menjadi pemenang setelah mengetahuinya.
Apakah alfabet sedang bermain petak umpet; kalau tampaknya seolah-olah begitu. Apakah itu sesuatu serupa kesenyapan lantas dengan sembarangan dianggap sunyi. Apabetul begitu.
Validasi seolah-olah invalid atau sebaliknya. Lantas formalitas birahi melihat kesunyian di antara kesenyapan. Apakah perlu mewaspadai kalau kesadaran sekadar permen gulali.
Pernyataan melewati janji-janji surga tertulis. Apakah akan sama sebangun sepenanggungan.; oh! Yeach Mr. Postment, belum tentu sama persis demikian kan. “Oh! Iyalah kan bergantung pada komitmen-komitmen sebagai perumpamaan bahasa bagus.”
“Hahaha.” Ngakak terpingkal-pingkal sembari jungkir balik. Sembari membaca statistika kemasgulan dari sumber keputusan sebab musababbya akibat keputusan tanpa asa dihening.
“Tafakur.”
“Tafakur!”
“Tafakur?
Katanya sudah menabur benih kesuburan tapi kok sunyi ya. Tak ada hama wereng. Tumben deh.; Sudah dilaksanakan sapu jagat agar sunyi lebih senyap agar realitas tak terus bernyanyi.
“Hahaha.” Ngakaknya lebih seru, semakin seru menyeru. Sebab sunyi ada di senyap atau sebaliknya atau di sebaliknya lagi. “Absurd dong.” Seolah-olah berteori sepercik air melibas muka sendiri.
Sulit ya menemukan formulasi sebagaimana tidak tertulis namun ada di nurani. Namun takut menuai kesalahan laiknya masa lalu.
“Tapi mau kan?”
“Iya. Tapi malu. Disangka duplikasi.”
“Tapi beda kan.”
“Image-nya? Terkesan mirip.”
Teoritis atau bukan terpenting tampil. Meski agak miring ke kanan atau pun ke kiri. Toh tetap terlihat sama atau setidaknya tetap mirip.