Home AGENDA Estetika Teater Masa Kini dan Pola Bandoengmooi Longser Tradisi

Estetika Teater Masa Kini dan Pola Bandoengmooi Longser Tradisi

0
Salah satu adegan Drama Pakaian dan Kepalsuan karya Bandoengmooi /Hermana HMT

Loading

Estetika Teater Masa Kini dan Pola Bandoengmooi Longser Tradisi

–29 Tahun Bandoengmooi
Oleh: Aendra Medita*)
TEATER Masa Kini dan Pergeseran Estetika
DALAM dua dekade terakhir, teater di Indonesia, bahkan dunia, mengalami pergeseran estetika yang signifikan. Teater tidak lagi dipahami sekadar sebagai pementasan naskah di atas panggung prosenium dengan aktor yang mengucapkan dialog.
Kini, teater mencair menjadi ruang lintas disiplin. Tubuh aktor, cahaya, bunyi, ruang pertunjukan, bahkan teknologi digital menjadi bagian dari teks yang “dibaca” penonton.
Estetika masa kini mengedepankan dekonstruksi: naskah bukan lagi pusat, melainkan performativitas aktor dan interaksi dengan penonton.
Teater bisa hadir di ruang publik, jalan raya, galeri, bahkan dalam bentuk digital yang ditayangkan di media sosial. Teater bukan lagi sekadar representasi, melainkan presentasi; bukan sekadar bercerita, melainkan menghadirkan pengalaman.
Namun, dalam arus eksperimental dan globalisasi ini, muncul pertanyaan yang kerap mengemuka: bagaimana menjaga agar teater kita tidak sekadar meniru estetika Barat atau tren dunia yang terus berganti?
Apa jangkar identitas yang membuat teater Indonesia berbicara dengan otentisitasnya? Jawabannya seringkali terletak pada tradisi. Longser:
Tradisi Rakyat yang Modern Sejak Awal Longser adalah salah satu bentuk teater rakyat Sunda yang sejak awal mengandung kompleksitas estetika. Ia tidak berdiri di atas teks formal, melainkan improvisasi, humor, dan interaksi langsung dengan penonton.

Kelompok Bandoengmooi Sajikan "Kupas Kelapa dengan Gigi" Agar Tak Ada Pahlawan Kesiangan - Seni.co.id

HERMANA SAAT PENTAS DI CINGISED FESTIVAL

Dalam longser, musik, tari, lawakan, dan teater hadir secara bersamaan. Penonton bisa menertawakan, sekaligus merenung lewat kritik sosial yang disampaikan dalam bahasa jenaka. Dengan kata lain, longser sudah “avant-garde” sebelum istilah itu populer. Ia meruntuhkan batas antara aktor dan penonton, menjadikan panggung sebagai ruang dialog.
Longser adalah seni rakyat sekaligus seni kritik. Ironisnya, meski kaya potensi, longser sering dipandang sebelah mata sebagai hiburan kampung. Padahal, jika ditilik dari perspektif estetika teater kontemporer, longser menyimpan energi kreatif yang bisa menjadi fondasi kuat untuk menghadirkan teater modern yang berakar pada tanahnya sendiri.
Hermana
Pola Bandoengmooi: Merawat Tradisi, Meramu Modernitas
Di Bandung, muncul gagasan kreatif yang dikenal dengan Bandoengmooi. Ia bukan sekadar kelompok seni, melainkan pola estetika yang mencoba merawat dan memperbarui tradisi, terutama longser, agar relevan di masa kini. Bandoengmooi melihat bahwa tradisi tidak cukup dipamerkan sebagai nostalgia atau sekadar dipertahankan dalam bentuk asli. Tradisi perlu dihidupkan kembali dalam bahasa baru, agar tetap bisa berbicara pada generasi kini dan mendatang.
Dalam pertunjukan Bandoengmooi, kita bisa melihat:
Tata cahaya yang tidak sekadar menerangi, tetapi menciptakan suasana dramatik yang mendukung narasi.
Kostum yang memadukan unsur tradisi Sunda dengan estetika kontemporer, sehingga menghadirkan visual segar.
Dialog dan humor yang tetap dekat dengan rakyat, tetapi disertai kritik sosial-politik yang lebih tajam.
Eksperimen ruang: pementasan tidak harus di panggung formal, bisa berpindah ke ruang publik, galeri, bahkan festival lintas disiplin. Di sinilah tradisi longser menemukan kehidupan barunya: bukan sekadar masa lalu yang dihidupkan kembali, melainkan energi lokal yang diperbarui untuk menjawab masa kini.
Hermana HMT, pemimpin seniman Bandung sekaligus pimpinan Bandoengmooi, pernah menegaskan arah perjuangan kelompoknya: “Kami tidak menghidupkan kembali longser untuk nostalgia. Kami meraciknya menjadi bahasa baru agar rakyat tetap bercermin, dan dunia melihat Bandung melalui tradisi yang diperbarui. Longser bagi kami bukan warisan yang dipajang, tetapi napas yang harus terus berdenyut.” katanya.
 Hermana menunjukkan bahwa Bandoengmooi bukan sekadar proyek seni, melainkan misi kebudayaan: menjadikan tradisi sebagai sumber daya kreatif.
Resonansi dengan Estetika Teater Kontemporer
Jika kita bandingkan, prinsip yang ada dalam longser sebenarnya sejalan dengan estetika teater masa kini: • Interdisipliner: Longser menggabungkan musik, tari, teater, dan humor—seperti tren teater kontemporer yang meramu berbagai disiplin. • Eksperimen ruang: Longser fleksibel, bisa dimainkan di alun-alun, lapangan, atau panggung sederhana. Ini mirip dengan teater modern yang meninggalkan panggung konvensional. • Tubuh sebagai medium: Dalam longser, gesture dan ekspresi fisik aktor sering lebih penting daripada teks panjang.
Hal ini selaras dengan estetika tubuh dalam teater kontemporer. • Kritik sosial: Longser tidak pernah lepas dari kritik pada ketidakadilan, kemunafikan pejabat, atau realitas sehari-hari.
Teater kontemporer pun menjadikan kritik sosial sebagai nadi utama. Dengan kata lain, longser—dan pola Bandoengmooi—sudah memiliki DNA teater modern. Bedanya, ia berakar kuat pada konteks lokal dan kedekatan dengan rakyat. Tradisi sebagai Energi Kreatif Banyak seniman kerap terjebak pada dua ekstrem: mempertahankan tradisi secara kaku seolah tanpa boleh berubah, atau meninggalkan tradisi sepenuhnya demi mengejar modernitas. Bandoengmooi mencoba mencari jalan tengah: tradisi diperbarui, modernitas dipijakkan pada akar lokal. Inilah yang membuat pola Bandoengmooi relevan.
Pertunjukan Longser Bandoengmooi, Judul Benclang-Benclung di Gedung YPK Bandung (4/11/2023)
Salah satu pertunjukan longser dari Bandoengmooi/dok seni
Jugun Ianfu atawa Tembang Panineungan karya/Sutradara Hermana HMT. Foto Doc. Bandoengmooi
Ia menolak romantisme kosong, tetapi juga menolak imitasi buta pada estetika global. Dalam Bandoengmooi, tradisi menjadi energi kreatif, bukan beban masa lalu. Menolak Terputus dari Akar Dalam konteks globalisasi, banyak teater kontemporer di Indonesia yang justru kehilangan identitas karena terlalu sibuk meniru gaya Eropa atau Amerika.
Teater semacam itu bisa tampak canggih, tetapi sering hampa karena tidak berbicara pada masyarakatnya sendiri. Bandoengmooi justru menawarkan arah sebaliknya: berangkat dari rakyat, dari humor, dari bahasa sehari-hari, lalu diracik dengan teknik modern. Hasilnya adalah teater yang bisa dipahami rakyat, sekaligus diapresiasi kalangan akademik dan global.
Bandung sebagai Pusat Kreatif
Bandung sejak lama dikenal sebagai kota seni yang progresif. Dari seni rupa, musik, hingga teater, Bandung sering melahirkan gerakan-gerakan baru. Pola Bandoengmooi adalah kelanjutan dari tradisi itu: sebuah eksperimen estetik yang berangkat dari lokalitas, tetapi terbuka pada dialog global. Dengan demikian, Bandung bukan hanya menjadi kota kenangan atau “mooi” dalam arti indah, tetapi juga kota yang melahirkan estetika baru—estetika yang menjembatani masa lalu dan masa depan.
AKHIRNYA  bahwa Estetika teater masa kini membutuhkan jangkar agar tidak terombang-ambing dalam tren global. Longser, melalui pola Bandoengmooi, memberi jangkar itu. Ia membuktikan bahwa modernitas sejati bukanlah penolakan terhadap tradisi, melainkan keberanian memperbarui tradisi agar tetap hidup. Seperti yang dikatakan Hermana HMT, longser bukan sekadar warisan, tetapi napas yang harus terus berdenyut. Dari Bandung, pola ini bisa menjadi teladan: bagaimana seni pertunjukan tumbuh dari akar lokal, sekaligus berbicara pada dunia.Tabik.***

*)adalah penulis dan aktif di dunia seni budaya dan anggota Jala Bhumi Kultura (JBK) indonesia.

**) TULISAN INI KADO BUAT 29 TAHUN Bandoengmooi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here