Home BERITA Ekspresi Kegelisahan dan Kekecewaan Dalam Pertunjukan “RAHIM” karya Cok Sawitri

Ekspresi Kegelisahan dan Kekecewaan Dalam Pertunjukan “RAHIM” karya Cok Sawitri

0

Loading

SENI.CO.ID — Sebagai pertunjukan teater, wilayah visual adalah wilayah yang tentu saja harus menjadi titik perhatian utama. Ini satu hal yang membedakannya dengan sandiwara radio misalnya. Dalam sebuah pertunjukan teater, Harus ada semacam dinamika. Baik dinamika emosional aktor lewat diksi dan intonasi, maupun dinamika pergerakan atau bloking sebagai penguat sikap emosional tokoh.
Dan tentu saja sebagai tekstur gambar gerak yang bisa dinikmati penonton. Banyak kalimat-kalimat yang luput diekspresikan secara maksimal oleh tokoh Nagari. Reni sebagai tokoh utama terlalu asik dengan dirinya sendiri, sehingga melupakan wilayah yang semestinya bisa dinikmati penonton, akhirnya hanya dinikmati oleh aktornya sendiri. Mungkin akan terjadi peningkatkan dinamika bila diberi penekanan emosi lewat kekuatan vokal atau gerakan-gerakan yang lebih banyak sebagai bentuk ekspresi kegelisahan dan kekecewaan. Itu di sisi keaktoran.
Di wilayah dekorasi atau setting panggung, pilihan menggunakan layar proyektor cukup keren. Atau paling tidak cukup menandai bahwa tengah terjadi semacam peristiwa interogasi yang selalu identik dengan model lampu demikian. Potongan-potongan berita yang ditayangkan di dalam slide itunpun cukup membantu dalam mempertajam persoalan yang dialami tokoh menyangkut soal operasi rahim.
Kehadiran sang interogator yang sengaja tidak dihadirkan sosoknya secara langsung, tapi hanya suaranya saja, membuat pertunjukan ini menjadi semacam upaya lain terhadap realitas yang membelenggu.
Menjadi eksplorasi artistik penggarap yang cantik dan mampu memperkuat situasi batin tokoh utama, Nagari. Dan Agus injuk sebagai pengisi suara dari tokoh interogator telah cukup berhasil membangun suasana psikologis ruang interogasi, dengan kemampuan aksentuasi dan diksi dalam setiap kalimat pertanyaan yang ia lontarkan kepada nagari. Vokalnya yang tebal semakin terasa sebagai interogator yang terlatih menguliti, menjebak, menekan setiap orang yang diinterogasi.
Yang terakhir, endingnya terasa kurang tergarap dengan tepat. Cukup mengagetkan penonton. Tiba-tiba sudah selesai. Padahal tidak ada tanda tanda yang mengarah kesana. Sesaat penonton bertanya tanya, apakah pertunjukan ini selesai atau belum. Itulah resiko ketika pengembangan struktur cerita awal, tengah dan akhir tidak terbangun. Penggarapan Ending cerita tampaknya harus lebih diperhatikan.
Yang terakhir yang ingin saya kemukakan adalah tafsir tentang tokoh Nagari. Apakah sosok tokoh utama yang bernama Nagari ini adalah tokoh yang sangat cerdas dan pintar?
Mencari nafkah dengan menulis, kadang menyanyi untuk tambahan penghasilan. Kalau pintar bukankah semestinya dia menjadi pemimpin redaksi pada sebuah surat kabar besar?
Tapi mengapa begitu hebatnya tokoh Nagari. Mampu mengatur emosi hingga nyaris tak ditemukan letupan-letupan emosional yang bagi sebagian lain mungkin akan meradang dan mungkin lebih dari itu. Teriak-teriak sambil menangis. Dan sebagai bagian pertunjukan tentu akan lebih memuaskan penontonnya.
Dalam pertunjukan ini, tokoh Nagari menurut saya adalah tokoh wanita yang sangat matang secara psikologis. Bagaimana ia menyikapi peristiwa yang memalukan dengan reaksi-reaksi yang terlalu normal dan datar. Atau sebuah sikap yang sudah beku? Sikap kesadaran total untuk mengalah.
Tapi satu hal yang patut diingat dan kadang kala menjadi bias, adalah dimana realitas panggung dan realitas sehari-hari sulit dipisahkan dan dibedakan. Semestinya realitas panggunglah yang mesti dihadirkan. Bukan realitas yang sesungguhnya dalam kehidupan keseharian. Semua peristiwa di atas panggung harus terasa dan bisa dinikmati penontonnya.
Seperti naik-turunnya emosi tokoh lewat gestur-gestur yang mendukung. Dengan ekspresi tubuh yang sedikit teatrikal, atau sedikit mengalami pembesaran, misalnya.
Pada akhirnya perhatian terhadap plot atau alur cerita ternyata sangat penting. Karena padu padan dengan alur emosi dari tokoh cerita. Dan sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa realitas keseharian terkadang menjadi korban atas realitas panggung, demikian juga sebaliknya. Sehingga harus juga disadari bahwa realitas panggung adalah wilayah yang harus dibedakan dengan realitas sehari-hari dalam kehidupan.
Secara keseluruhan tentu saja cukup menghibur. Perkara kekurangan hanyalah tangga saja dari perjalanan aktor yang masih panjang.
Terima kasih. Sukses buat Reni dan injuk. Viva teater!
Bambang Suyatno
Leuwigajah, 28 Nopember 2025.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here