Home BERITA Eksistensi Seniman: Marwah yang Ditempa oleh Proses

Eksistensi Seniman: Marwah yang Ditempa oleh Proses

0
AENDRA MEDITA/IST

Loading

Eksistensi Seniman: Marwah yang Ditempa oleh Proses

Di tengah dunia yang diburu oleh kecepatan, nampaknya seni menolak disederhanakan. Dalam kebudayaan yang serba instan, ketika segalanya berlomba untuk menjadi “terlihat”, seniman sejati justru memilih jalan sunyi: berproses.
Di situlah letak harga diri seniman — bukan pada panggung yang gemerlap, melainkan pada kesediaan untuk berkeringat dalam keheningan, menjerit dalam sepi, dan merawat api kecil yang menyala di dalam jiwa.
Karena eksistensi seniman tidak dibangun dalam semalam. Ia ditempa dalam bara waktu, luka-luka pencarian, dan kesetiaan terhadap nilai.
Eksistensi itu akan utuh dan bermarwah hanya jika sang seniman rela tenggelam dalam proses yang panjang dan jujur.
Marwah: Jiwa yang Tak Bisa Dibeli. Marwah adalah kemuliaan batin — bukan sekadar status sosial, tapi sikap keberanian untuk berkata “tidak” pada segala yang mengkhianati nilai. Marwah adalah kekuatan untuk tidak menjual karya demi selera pasar, kekuatan untuk memilih jalan susah ketika semua memilih mudah. Seorang seniman yang bermarwah adalah pejuang yang memikul beban zaman, tetapi tidak kehilangan hati nuraninya.
Affandi, sang maestro, pernah berkata: “Saya melukis bukan untuk mencari uang, tapi karena saya tidak bisa tidak melukis. Kalau tidak melukis, saya akan sakit.” Di sana terlihat bahwa seni bukan jalan karier, melainkan jalan takdir.
Dan takdir itu dijalani bukan dengan glamor, tetapi dengan perih, dengan kerja yang melampaui logika efisiensi, dan dengan jiwa yang tetap menyala bahkan saat dunia menjauh.
Proses: Jalan Liku yang Menyucikan Proses adalah luka yang dibisikkan menjadi warna, adalah sunyi yang dipahat menjadi bentuk, adalah perjalanan batin yang melahirkan keberanian berkarya meski tanpa panggung.
Seorang seniman sejati bukan hanya menghasilkan karya, tetapi menjelma menjadi karya itu sendiri. WS Rendra, sang Burung Merak, pernah menulis:
“Penyair adalah pemberontak yang sabar. Ia menghimpun penderitaan rakyatnya, menyimpannya dalam dada, dan menyalakannya dalam kata.”
Proses kreatif adalah bentuk ziarah jiwa. Di dalamnya ada tanya yang tak selalu dijawab, ada luka yang tak sembuh, ada cinta yang tak dibalas. Namun dari situlah karya yang agung dilahirkan — bukan dari kehampaan, tapi dari kelimpahan rasa yang dialami secara utuh.
Eksistensi: Antara Cahaya dan Bayang Eksistensi sejati seniman adalah seperti matahari sore: tidak menyilaukan, tapi menyisakan cahaya emas yang dalam.
Ia bukan tentang viralitas, bukan tentang angka dan statistik. Ia tentang sejauh mana karya menyentuh kesadaran manusia — menyapa yang paling sunyi dalam jiwa, menggugah, mengguncang, dan meninggalkan gema dalam ruang batin kolektif. Di tempat itu, ia menyulam sejarah. Dengan kuas, pena, gerak tubuh, nada, atau suara, ia memberi nyawa pada zaman.
Zaman Serba Cepat: Godaan Menyimpang dari Proses
Di era digital, proses terasa lambat. Kita hidup dalam budaya klik, dalam ekonomi perhatian yang menjadikan segalanya instan. Seniman pun tergoda untuk mengambil jalan pintas — mengorbankan kedalaman demi popularitas sesaat. Tetapi seperti bangunan tanpa fondasi, popularitas yang instan akan runtuh secepat ia dibangun.
Di sinilah pentingnya memilih: menjadi seniman yang memburu sorotan, atau menjadi seniman yang menyala dari dalam. Yang pertama cepat naik, cepat pula dilupakan. Yang kedua, meski pelan, akan abadi dalam kesadaran sejarah. Seperti Rumi menulis dalam puisinya: “Jangan puas hanya dengan cahaya dari lilin orang lain. Jadilah api bagi dirimu sendiri.” Proses adalah Upacara Pembersihan Diri Proses bukan sekadar teknis — ia adalah tahapan pemurnian jiwa. Seperti seorang rahib yang menyepi di gua, atau penyair yang membakar malam demi satu baris kata, proses adalah ritus sakral untuk menemukan jati diri.
Di sanalah seniman tidak hanya mencipta, tetapi diciptakan ulang. Ia berkali-kali hancur dan dibentuk kembali, sampai akhirnya ia menjadi satu dengan karyanya. Frida Kahlo, pelukis yang melukis dari tubuhnya yang remuk dan jiwanya yang gelap, pernah berujar:
“I never paint dreams or nightmares. I paint my own reality.” Proses menjadikan karya tidak lagi sekadar “produk” tapi pantulan roh. Ia tak sekadar bisa dibeli — ia harus dialami. Maka seorang seniman yang telah melewati proses, membawa aura yang tak bisa dipalsukan.
Penutup: Marwah Tak Muncul dari Gemuruh, Tapi dari Kedalaman Eksistensi seniman sejati bukanlah hasil dari strategi pencitraan, tetapi hasil dari kesetiaan kepada jalan sunyi.
Ia adalah kesanggupan untuk menanggung sunyi, menembus gelap, dan tetap menyalakan cahaya kecil dari dalam dada. Eksistensi seniman itu akan utuh dan bermarwah hanya jika ia bersedia berproses. Sebab hanya proses yang sanggup melahirkan karya yang bukan hanya indah — tapi bermakna. Karya yang bukan sekadar ditatap, tetapi menggetarkan. Karya yang tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi penanda zaman.
Dalam dunia yang terus berubah, hanya satu hal yang tetap: Yang jujur akan bertahan. Yang dangkal akan dilupakan. Ayo…..Dimana kita?

Aendra Medita, SENI.CO.ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here