Home AGENDA Seni Berseni Catatan Bebas Sembari Minum Kopi

Seni Berseni Catatan Bebas Sembari Minum Kopi

0
Oleh: Taufan S. Chandranegara, praktisi seni, penulis
Sampailah pada risalah pandangan alternatif, keluar dari garis, art epidemicberkesenian atau berseni-seni, atau pandangan kecenderungan seni ataupun atas nama seni-seni atas nama, silakan, pilihan kembali pada penyukanya, seni akademis ataupun non-akademis.
Agar tak repot silakan juga, menuju pada sejarah seni formal dunia, secara mandiri sesuai selera pilihan, kalau mau, kalau tidak, oke juga, seabrek-abrek di media daring, atau website seni, tentang apa itu sejarah seni.
Seni, dari abad pertenghan aja deh, bermunculan mazhab seni dari trimatra ke dwimatra atau sebaliknya, lalu muncullah sebut saja seni, Dadaism, Surrealism, Impressionism, Expressionism, Realism, Bauhaus, Abad Renaissance, Abstract, Cubism-terkini dalam bentuk, saling mempengaruhi atau sebaliknya dari, seni tari, musik, film, teater, hingga seni pertunjukan pascamodern.
Ketika elemen-seni berderet-deret dalam satu rangkaian berkesinambungan, bisa disebut instalasi seni atau seni instalasi, menjadi seni kontemporer-kekinian, lalu multi-grafis, fotografis, ter-aplikasi di telepon seluler. Sedap. Mudah, instan tak perlu berpikir filosofis, sebab teknologi terkini, telah memberi pengajaran tentang warna, simbol, nirmana-gradasi warna, seterusnya sesuai kebutuhan.
Sistem komputerisasi, masa depan akan lebih kompleks, rumit pembuatannya, namun, memudahkan anda menjadi super one finger touch screen, bahkan dengan mengedipkan mata, bimsalabim, abakadabra, layar akan berubah, praktis, foto menjadi lukisan atau sebaliknya.
Pewarnaan tak perlu lagi berkonsep rumit, cukup klick! Secara ajaib, warna telah memberi makna seperti keinginan, berkembanglah videography, setelah graphic design menjadi produk masa lalu, meski belum ditinggalkan, sebab masih dibutuhkan oleh animasi-telah memasuki pula era Computer-Generated Imagery (CGI) sejak era 80an berkembang pesat pada era 90an, telah meng-industrialisasi inteligensi manusia, hingga pencapaian manusia robotic.
Era tekno kultural edukatif, mau tidak mau, harus mau, sebab para algoritme, piring data itu tidak bertambah kecil, tapi bertambah besar menguntit zaman, kemanapun pergi-telah memberi berbagai informasi, serupa tepat prima, seakan-akan serba tau, meski di balik itu semua, ada otak makhluk hidup penciptanya-manusia, sebagai makhluk sosial-kini telah menjadi makhluk tekno sosial.
Itu terjadi akibat pilihan inteligensi manusia-publikkebudayaan telah mengembangkan diri menjadi seperti itu, atas kehendak norma logika frekuensi sosialnya, bukan atas kehendak sistem-akan tetapi kehendak pandangan dari pilihan, inteligensi makhluk hidup-manusia, oleh sebab siklus zaman, lantas, disebut ‘system’ di kemudian hari-hingga kini menuju masa depannya dalam lingkar lini tekno alfanumerik, bersifat matematis-teknis berupa filosofi bikinan tekno.
Mengapa putaran akhir, nantinya, bertemu kembali dengan metode filosofi berteknologi, mengapa, kembali pada keinginan, perasaan-pertumbuhan inteligensi, sebab hal itulah sumber daya dari pertumbuhan teknologi sebenarnya, di sana ada science about life, with love, tentunya. Ketika perasaan dihilangkan, pilihan tak mampu muncul, sebab inteligensi tak mau bekerja, demikian pula sebaliknya. Barangkali loh.
Pada masanya, nanti, mungkin saja manusia akan kembali pada kepurbaan modern, tinggal di pohon-pohon besar, lingkungan asri serba hijau, ketika algoritme alami, piringan data alam raya tak terhingga menghendaki makhluk, kembali hidup dalam atmosfer sains, di lingkungan puncak frekuensi sublimasi prima, bagai kisah sebuah scientific novel-new age, James Redfield-The Celestine Prophecy.
Tak perlu khawatir, atau ngeri tak sedap, atau ketakutan berlebihan. Karena seni-sebagaimana habitatnya, bersifat, saling memberi cinta-perasaan, tetap dalam ranah folosofis moral keadaban kasih sayang, tak sekadar memanusiakan manusia.
Seni, tak akan tumpang tindih, oleh sebab-akibat istilah atau mazhab, atau istilah aliran eksentrikisme sekalipun, seni adalah cinta saling melengkapi. Itu sebabnya pula jangan pernah mencurigai seni. Apakah itu seni susastra, seni jurnalisme, hingga seni dwimatra-trimatra.
***
Jakarta Indonesia, Maret 04, 2023.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here