Home AGENDA Pesan “Tersembunyi” dalam Sastra Anak Zaman Kolonial

Pesan “Tersembunyi” dalam Sastra Anak Zaman Kolonial

4218
0

SENI.CO.ID Keragaman buku bacaan anak di Indonesia muncul pertama kali di masa penjajahan Belanda yang didasari oleh kebijakan politik etis pemerintah kolonial. Buku-buku dongeng dan pelajaran yang biasa dibacakan orang tua kepada anaknya ini tidak hanya memiliki fungsi utama sebagai sarana hiburan, edukasi, dan informasi bagi sang anak, tetapi juga memuat pesan-pesan tersembunyi yang sangat terikat pada periode kapan buku itu diterbitkan. Hal ini disampaikan oleh dosen dan ahli Sastra Belanda Universitas Indonesia, Amali Putri Astari dalam acara diskusi Cak Tarno Institute bertajuk “Anak-anak kompeni: Analisis pos-kolonial buku ajar Sekolah Dasar di Hindia Belanda” yang digelar di FIB UI, Depok, hari minggu kemarin (26/03).

Cerita-cerita anak yang dibacakan pada masa kecil menurut Amalia jelas membentuk cara berpikir, dan bahkan cara berperilaku. Pengalaman dongeng masa lalu itu sekaligus menguatkan pernyataan mengenai betapa berpengaruhnya karya sastra dalam pembentukan pemahaman seseorang akan kehidupan sekalipun ketika sastra tersebut hadir lewat cerita yang sederhana layaknya cerita anak.

“Setiap orang tumbuh dan dibesarkan oleh cerita-cerita yang ia baca dan dengar semenjak masih kanak-kanak. Saya sendiri yang notabene dibesarkan dari keluarga berbudaya Arab sedari kecil biasa dicekoki kisah 25 nabi dan rasul oleh orang tua. Alih mengharapkan pangeran berkuda putih, saya justru mengagumi sosok nabi Yusuf: seseorang yang ketampanannya membuat banyak perempuan terlena bahkan hingga mereka tertimpa celaka. Lalu ada juga kisah si tamak Qarun, sepupu nabi Musa yang kaya raya mengajarkan agar saya tidak menjadi pribadi sombong dan serakah,” pungkas Amalia.

Serupa dengan genre sastra lainnya, sastra anak hadir dengan bentuk yang beragam antara lain lewat dongeng, cerpen, komik, cerita rakyat, pantun, puisi serta drama. Amalia memfokuskan penelitiannya pada buku-buku ajar yang paling banyak digunakan di Sekolah Dasar Hindia Belanda, di antaranya buku-buku yang dikarang oleh Jan Lighthart dan H. Scheepstra seperti: Van vier kinderen, Pien en Mie, Ot en Sien, Ver van Huis en De Wereld. Dari buku-buku tersebut Ot en Sien tanpa diragukan merupakan buku yang paling populer dan paling sering digunakan baik di sekolah dasar berbasis pengajaran Indis maupun Indo-Belanda.

Dalam cerita Ot en Sien, “Ot”, anak laki-laki berusia lima tahun dikisahkan selalu bermain dengan tetangganya, seorang anak perempuan bernama Sien yang satu tahu lebih muda darinya, di sebuah desa terpencil di Belanda, Drenthe, bersama dengan anggota keluarga lainnya: bapak, ibu, nenek, kakek, dan binatang peliharaan bernama Poes. Sekilas buku ini menggambarkan sebuah dunia anak-anak yang ideal dan harmonis. Buku ini pun di negara asalnya dijadikan buku ajar membaca di sekolah dasar. Kesuksesannya seri pertama Ot En Sien kemudian diikuti dengan sekuel-sekuel berikutnya yang jika dihitung sudah mencapai tiga seri.

“Di Belanda terbit untuk pertama kalinya di tahun 1902 buku anak Ot en Sien. Lewat buku ini penulis Jan Lighthart dan H. Scheepstra mencoba untuk menghadirkan dunia sederhana khas anak-anak agar mudah dikenali oleh para pembaca muda. Lalu di Hindia Belanda (nusantara kala itu), buku ini diadaptasi pada tahun 1911 dengan memasukkan elemen-elemen Hindia Belanda di dalamnya. Anak-anak Belanda Ot en Sien seolah “dilemparkan” ke dalam lingkungan masyarakat Indis dan berkonfrontasi dengan kehidupan di Hindia Belanda,” papar Amalia.

Elemen-elemen Indis hadir tidak hanya di lingkungan tempat Ot dan Sien tinggal melainkan hadirnya peran-peran pribumi baik dalam cerita maupun  ilustrasi buku Ot en Sien in Indie. Sama seperti Belanda, buku ini kemudian juga dijadikan buku ajar membaca di sekolah-sekolah dasar Hindia Belanda terutama sekolah dasar berbahasa Belanda eperti Hollands Inlandse School (HIS) dan Europese Lagere School (ELS).

“Kajian menyangkut buku ajar Ot en Sien in Indie, sendiri baru pernah dilakukan sekali oleh ahli sastra Belanda bernama Gerrard Brantas, karena minimnya perhatian peneliti terhadap sastra anak Hindia Belanda. Dalam penelitiannya di tahun 1986, melalui pendekatan kolonial. Brantas menganalisis apakah figur anak Ot dan Sien yang muncul di versi Belanda mengalami perubahan karakter setelah diadaptasi ke dalam setting Hindia Belanda. Tidak mengherankan ketika Brantas beranggapan bahwa buku Ot en Sien buka merupakan buku dengan diskursus kolonial. Menurutnya buku ini adalah buku anak yang berisi elemen-elemen nostalgia akan the good old days (masa kejayaan di masa lalu) penjajahan Belanda di nusantara,” jelas Amalia.

Pengkajian ulang Amalia terhadap karya sastra tersebut, justru bisa membantah apa yang dikatakan Brantas. Dengan menggunakan pisau analisis Post-Kolonial, Amalia menemukan pesan-pesan dan stereotyping “tersembunyi” yang disampaikan cerita tersebut.

“Dalam penelitian ini saya menggunakan pendekatan pos-kolonial untuk menganalisis visi kolonial yang muncul dalam buku Ot en Sien in Indie. Pada dasarnya post-kolonial mengacu pada praktik-praktik yang berkaitan akan gugatan atas struktur kekuasaan, hierarki sosial, dan wacana kolonialisme lainnya, dalam teks sastra sendiri, wacana kolonial hadir melalui narasi yang merupakan representasi dunia Barat terhadap Timur. Pada diskusi ini saya akan menggunakan dua strategi post-kolonial yaitu drama kolonial dan peliyanan (othering). Drama kolonial merupakan strategi penggambaran dunia Timur dengan meminimalisir peran pribumi dalam cerita. Di dalam drama kolonial pemeran utama yang selalu muncul sebagai pahlawan adalah orang Barat, pribumi hanya muncul sebagai latar belakang dalam cerita atau bahkan sama sekali tidak dimunculkan dalam cerita.

Dunia Barat dan Timur digambarkan sebagai dua dunia yang tidak berkaitan satu sama lain meskipun terjadi konfrontasi antara orang dari bangsa Barat dengan orang dari bangsa Timur. Strategi kedua, peliyanan, muncul dari narasi mengenai oposisi biner antara Barat dan Timur.

Umumnya bangsa Timur sebagai yang ‘liyan’ diposisikan sebagai pihak yang lebih rendah, tidak beradab, primitif, sedang Barat sebagai ‘aku’ merupakan pihak yang memiliki kekuasaan lebih tinggi, beradab dan bersikap sopan santun,” lanjutnya.

Diskusi ini ditutup dengan contoh-contoh yang dipaparkan Amalia berdasarkan analisanya yang sudah ia paparkan di atas. Salah satunya adalah penggambaran orang pribumi sebagai lelaki atau perempuan tua renta dan miskin yang berprofesi sebagai pelayan, asisten rumah tangga, babu, dan tukang kebun yang dibatasi pada ruang-ruang domestik, dan tidak adanya dialog dua arah antara tokoh-tokoh Belanda dengan pribumi.

Dalam ilustrasi bukunya pun digambarkan postur orang-orang pribumi yang membungkuk, memunggungi layar, dan menatap ke bawah. Hal ini sangat kontras dengan ilustrasi orang-orang Belanda (termasuk anak Ot dan Sien) yang digambarkan berdiri di posisi yang lebih tinggi dari sosok pribumi, tegak, dominan di tengah gambar, dan berwajah ceria. Kontras penggambaran tokoh pribumi dengan tokoh Belanda, dikatakan Amalia sebagai bukti hadirnya oposisi biner dalam cerita kanak-kanak Hindia Belanda. | Fathurrrahman A untuk SENI.CO.ID

Previous article“Real Reality” Kolaborasi IKJ – Nibroll Jepang
Next articleWow…Numo Art & Coffee Hadir di Kawasan Bisnis Bintaro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here