Home AGENDA Performance Art di Pameran Bambang Asrini “Motherland” di Jakarta Mengejutkan

Performance Art di Pameran Bambang Asrini “Motherland” di Jakarta Mengejutkan

0

Loading

Performance Art di Pameran Bambang Asrini “Motherland” di Jakarta Mengejutkan

SENI.CO.ID — Pembukaan pameran Drawing Motherland atau Ibu Pertiwi tidak dimulai dengan pidato, gunting pita, atau sambutan formal yang rapi. Ia dibuka dengan tubuh, puisi gerak dan sajian performance art dari kelompok JBK (Jala Bhumi Kultura).  Dengan napas kuat dan gerakan yang kuat. Mereka bergerak dan menari diatas lumpur. Dengan suara yang tidak selalu berbunyi, dan gerak yang tidak selalu indah. Performance art puisi, tari, dan gerak ini hadir sebagai ritual pembuka—sebuah panggilan bangsa dan bicara  tanah yang sedang dilanda banjir, kepada luka, dan kepada ingatan kolektif yang sudah hampil sebukan terjadi, Sumatra khususnya Aceh.

JBK respon dengan “Tamiang” dengan puisi sebagai berikut dibacakan bersautan;

Tamiang yang di Diamkan atawa Kisah Kayu Mengelondong liar 

Hutan liar lebih indah
Dan akan bikin nyaman
Alam dan kesejukan terbaca jelas
Tapi di Tamiang Aceh disana, kini ada duka
Saat ada sungai mengalir penuh dan pelan tapi deras sejumlah gelondongan
nomor berseri di kayu itu

26 November itu, Tamiang Aceh menyimpan nama-nama
yang tak sempat pulang
ada duka di bawah pohon sawit tapi apa itu duka yang dalam
ada yang hilang ada yang terkubur,
larut bersama senja dan doa.

Kami terbiasa berdiri sendiri
meski pundak retak oleh beban
tangan ini menolak uluran, karena kesombongan
bukan karena tak butuh– lebih gengsi yang absurd
Lalu apa karena malu malu pada tanah yang membesarkan

Ada yang dinanti tiap subuh
bukan bantuan, bukan juga janji
hanya kabar yang tak kunjung tiba
sejak hampir sebulan lalu
atau langkah yang dulu pergi tanpa pamit.
kisah berlapis alibi

Luka kami tidak berisik
kami duduk diam di 
menatap jalan yang tak berakses berat
berharap—namun tak meminta kenyataan berat
duka itu kejam tak dihiraukan….

Jika kau datang membawa belas kasihan
biarlah ia singgah sebentar
kami lebih percaya pada waktu
dan pada diri kami yang belajar bertahan.

Di Tamiang,
kehilangan bukan untuk diratap keras-keras
ia disimpan rapi
di dada orang-orang yang memilih kuat
meski kini kami sendirian.
Dan rubuan duka org telah pergi 
Maaf kehilangan orang tercinta, dipastikan 

Innalillahi wa inna lilaihi rojiun

15 Desember 2025

Dihalaman Galeri Cafe Darmin Duren Tuga Jakarta Selatan disetting bak…lumpur seperti banjir itu. Yang basah dan licin, penuh lumbur dan ranting-ranting berserakan. Seorang pemaiin membaca puisi berdiri sebagai poros narasi. Tubuhnya tidak disterilkan dari kerentanan; ia justru membiarkan dirinya terbuka, setengah telanjang, seolah menjadi metafora tanah yang telah lama dieksploitasi namun terus dipaksa memberi. Puisinya tidak dibacakan dengan suara lantang yang menggurui, melainkan dengan irama terjaga—kadang patah, kadang mengalir—seperti aliran sungai yang tersendat oleh bendungan dan tambang. Kata-kata menjadi mantra, menjadi ratapan, menjadi gugatan.

Di sekelilingnya, tubuh-tubuh lain bergerak. Asa yang berpantomime dan penari ritmik tidak berfungsi sebagai ilustrasi puisi, melainkan sebagai gema. Mereka merespons, menyangkal, bahkan kadang melawan suara puisi itu sendiri. Gerak mereka lahir dari ketegangan: tangan yang menepis, kaki yang terpeleset, bahu yang memikul beban tak terlihat. Wajah dilumuri putih—seperti tanah kapur, seperti abu, seperti sisa-sisa luka banjir yang melanda —menegaskan bahwa yang hadir di sini bukan individu, melainkan simbol.

Air dan lumpur di lantai bukan sekadar properti. Ia adalah medium sekaligus pesan. Setiap langkah menghasilkan suara cipratan, setiap jatuh meninggalkan jejak. Tubuh tidak bisa bergerak bebas tanpa konsekuensi. Inilah sajian performance art JBK dalam pembukaan Motherland atau Ibu Pertiwi: tanah yang tidak lagi netral, tanah yang telah tercemar, namun tetap menuntut kita untuk berdiri di atasnya. Ketika penari terpeleset atau terhuyung, penonton tidak disuguhi kecanggihan teknik, melainkan kejujuran situasi—bahwa hidup di atas tanah yang terluka memang tidak stabil.

Kolaborasi ini menunjukkan pemahaman yang matang tentang performance art sebagai praktik lintas disiplin. Puisi tidak mendominasi, tari tidak memperindah, mime tidak menghibur. Semuanya berada dalam posisi setara, saling mengganggu dan saling menopang. Ritme dibangun bukan dari musik yang terstruktur, melainkan dari napas, gesekan kaki dengan lumpur, dan jeda-jeda sunyi yang justru paling nyaring. Keheningan menjadi bagian dari komposisi.

Yang menarik, performance ini berlangsung di hadapan publik yang tidak sepenuhnya “siap seni”. Penonton berdiri dekat, mengelilingi, sebagian merekam, sebagian terdiam, sebagian kebingungan. Namun justru di situlah kekuatannya. Pembukaan “Motherland” karya Bambang tidak meminta jarak aman. Ia mengundang keterlibatan emosional, bahkan ketidaknyamanan. Seni tidak ditempatkan di panggung tinggi, melainkan di halam parkir dengan setting tanah yang sama dengan penonton—tanah yang sama-sama kita pijak dan kita rusak.

Tema Motherland atau Ibu Pertiwi  dihadirkan tanpa romantisasi. Tidak ada ibu yang sepenuhnya lembut dan pengasih. Yang ada adalah sosok yang lelah, marah, terluka, namun belum mati. Tubuh-tubuh performer menjadi tubuh tanah itu sendiri: dipaksa bekerja, dituntut memberi, namun jarang didengar keluhannya. Puisi yang dibacakan sesekali terdengar seperti doa, sesekali seperti dakwaan. Kepada siapa? Kepada manusia, kepada bangsa, kepada sistem, atau kepada diri kita sendiri.

Dalam konteks pameran, performance art ini berfungsi sebagai gerbang emosional. Ia tidak menjelaskan karya-karya yang akan dipamerkan, tetapi menyiapkan batin penonton untuk melihat dengan cara yang berbeda. Setelah menyaksikan tubuh tergelincir di lumpur, sulit rasanya memandang karya tentang tanah, identitas, dan kebangsaan dengan mata yang netral. Performance ini menanamkan rasa—bahwa Motherland bukan konsep abstrak, melainkan pengalaman fisik yang nyata dan rapuh.

Secara keseluruhan, performance art puisi–tari–gerak pada pembukaan Motherland / Ibu Pertiwi adalah sebuah peristiwa artistik yang sublim dalam kesederhanaannya. Ia tidak menawarkan solusi, tidak memberi kesimpulan. Ia hanya membuka luka, memperlihatkannya, lalu membiarkan kita berdiri di hadapannya. Basah. Licin. Tidak nyaman. Namun jujur.

Dan mungkin, di situlah fungsi seni paling purba: bukan untuk menenangkan, tetapi untuk mengingatkan bahwa kita masih punya tubuh, masih berpijak pada tanah, dan masih bertanggung jawab pada Ibu yang selama ini kita panggil Pertiwi. selamat untuk Bambang Asrini dalam pemeran drwaing Motherland atau Ibu Pertiwi. Bravo. (zaksyam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here