
![]()
SISYPHUS DI ZAMAN YANG TERKURASI: CATATAN KEBUDAYAAN TENTANG KELELAHAN, ILUSI MAKNA, DAN PERLAWANAN
Dalam esainya yang terkenal, Albert Camus melalui Le Mythe de Sisyphe menulis bahwa persoalan filsafat yang paling serius adalah bunuh diri: apakah hidup layak dijalani atau tidak. Pertanyaan itu lahir dari pengalaman absurd—ketegangan antara hasrat manusia akan makna dan kebisuan semesta. Camus tidak menawarkan pelarian religius atau nihilisme total. Ia memilih pemberontakan sadar: hidup terus, dengan mata terbuka, tanpa ilusi. “Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia,” tulisnya, sebab di dalam kesadaran dan keteguhan mendorong batu itulah martabat manusia dipertahankan.
Namun jika Sisyphus hidup hari ini, batunya bukan lagi sekadar batu. Ia menjelma menjadi notifikasi, target performa, algoritma, citra diri, dan kurva produktivitas. Ia menjadi Key Performance Indikator (KPI), engagement rate, rating bintang lima, dan grafik pertumbuhan yang tak boleh menurun. Batu itu kini digital, licin, dan terhubung ke seluruh dunia. Kita mendorongnya bukan di satu bukit, melainkan di ribuan layar. Dan ketika ia jatuh, bukan hanya kita yang melihatnya—seluruh jejaring ikut menyaksikan kegagalan itu.
Zaman ini melahirkan jutaan Sisyphus yang tak lagi sadar bahwa mereka sedang mendorong batu. Mereka menyebutnya “kesempatan”, “passion”, “self-improvement”, atau “personal branding”. Bahasa kebudayaan kita telah berubah. Kerja tak lagi sekadar kerja; ia adalah identitas. Produktivitas tak lagi alat; ia menjadi ukuran moral. Seseorang yang tidak sibuk dianggap tidak bernilai. Waktu luang terasa bersalah. Diam dianggap kemunduran. Kita hidup dalam peradaban yang mengkultuskan gerak tanpa henti.
Di permukaan, kita terlihat bebas. Kita bisa bekerja dari mana saja, membangun usaha sendiri, menjadi kreator, influencer, freelancer. Namun kebebasan ini sering kali hanya memindahkan bentuk penjara. Dulu, kita tunduk pada atasan di kantor; kini kita tunduk pada algoritma yang tak terlihat. Dulu, jam kerja ditentukan institusi; kini kita mengawasi diri sendiri agar tetap relevan. Mekanisme kontrol menjadi lebih halus, lebih internal. Kita mengeksploitasi diri sendiri atas nama ambisi.
Kebudayaan digital memproduksi ilusi makna yang instan. Setiap unggahan diberi kemungkinan viral; setiap opini berpeluang menjadi tren. Kita diajak percaya bahwa visibilitas sama dengan keberadaan. Jika tidak terlihat, seolah-olah kita tidak ada. Maka lahirlah kegelisahan kolektif: ketakutan untuk tertinggal, untuk tidak cukup, untuk tidak diakui. Batu Sisyphus kini adalah citra diri yang harus terus diperbarui. Profil harus rapi. Narasi hidup harus menarik. Bahkan luka pun perlu dikemas agar bisa diterima.
Ironisnya, di tengah limpahan komunikasi, kesepian justru membesar. Kita terhubung dengan ribuan orang, tetapi jarang benar-benar hadir satu sama lain. Percakapan menjadi konten; empati menjadi performa. Solidaritas sering berhenti pada tanda pagar. Amarah kolektif mudah dinyalakan, tetapi juga cepat padam, digantikan isu berikutnya. Dalam arus yang serba cepat, kedalaman menjadi barang langka. Kita menjadi generasi yang mahir bereaksi, tetapi miskin refleksi.
Dalam kondisi ini, absurditas yang dibicarakan Camus menemukan bentuk baru. Dulu, absurditas muncul dari jarak antara manusia dan alam semesta. Kini, ia muncul dari jarak antara manusia dan dirinya sendiri. Kita bekerja keras mengejar standar yang bahkan tidak kita pilih. Kita marah pada sistem, tetapi juga memeliharanya melalui partisipasi tanpa henti. Kita ingin autentik, tetapi takut kehilangan penerimaan sosial. Kontradiksi ini melelahkan, dan kelelahan itu menjadi normal.
Budaya produktivitas ekstrem memperparah keadaan. Buku-buku pengembangan diri laris, seminar motivasi penuh, kursus daring menjamur. Semua menjanjikan versi diri yang lebih efisien, lebih sukses, lebih optimal. Seolah-olah masalah kita hanyalah manajemen waktu yang buruk, bukan struktur ekonomi yang timpang. Seolah-olah kecemasan adalah kegagalan personal, bukan gejala sosial. Tanggung jawab kolektif disulap menjadi beban individual. Jika gagal, salahmu sendiri. Jika lelah, kamu kurang bersyukur.
Di sinilah kritik kebudayaan perlu ditegakkan. Kita hidup dalam sistem yang mengubah segala sesuatu menjadi komoditas—termasuk perhatian, emosi, bahkan penderitaan. Kisah sedih bisa dimonetisasi. Aktivisme bisa dijadikan strategi pemasaran. Spiritualitas bisa menjadi industri. Ketika semua hal memiliki harga, nilai menjadi kabur. Apa yang benar dan baik sering dikalahkan oleh apa yang laku dan viral. Batu Sisyphus kini dilapisi iklan.
Pendidikan pun tidak luput. Ia semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, bukan membentuk manusia utuh. Jurusan dipilih berdasarkan prospek gaji, bukan panggilan batin. Kreativitas diukur dari potensi profit. Anak-anak diajarkan bersaing sejak dini, seolah hidup adalah lomba tanpa garis akhir. Kita jarang bertanya: untuk apa semua ini? Pertanyaan eksistensial dianggap tidak praktis. Padahal justru di situlah akar kesehatan jiwa sebuah peradaban.
Politik menambah lapisan absurditas. Wacana publik dipenuhi polarisasi, simplifikasi, dan propaganda emosional. Kompleksitas diringkas menjadi slogan. Kebenaran dinegosiasikan melalui algoritma yang memprioritaskan keterlibatan, bukan akurasi. Masyarakat terbelah dalam gelembung informasi yang saling mencurigai. Dalam situasi ini, warga mudah merasa tak berdaya. Mereka terus mengikuti berita, marah, berdiskusi, lalu mengulang siklus yang sama. Batu itu kembali jatuh.
Namun berbeda dari Sisyphus mitologis, kita sering tidak sadar bahwa kita sedang mengulang. Kita mengira setiap siklus adalah kemajuan. Setiap pembaruan aplikasi, setiap tren baru, setiap jargon baru memberi sensasi perubahan. Padahal struktur dasarnya tetap sama: produksi, konsumsi, distraksi. Kita sibuk memperbarui permukaan, tetapi jarang menggugat fondasi.
Apakah ini berarti kita harus menyerah pada pesimisme? Tidak. Justru di titik inilah gagasan Camus menjadi radikal kembali. Ia tidak mengajak melarikan diri dari dunia, melainkan menatapnya tanpa ilusi. Kesadaran adalah bentuk perlawanan pertama. Menyadari bahwa kita sedang didorong oleh narasi tertentu sudah merupakan langkah pembebasan. Ketika kita berhenti sejenak dan bertanya “mengapa”, batu itu tidak lagi sepenuhnya menguasai kita.
Perlawanan tidak selalu berbentuk revolusi besar. Ia bisa berupa keputusan sederhana: membatasi paparan layar, menolak budaya kerja yang tidak manusiawi, memilih percakapan mendalam daripada debat dangkal, menghargai waktu luang sebagai ruang pemulihan. Tindakan-tindakan kecil ini mungkin tampak remeh, tetapi dalam kebudayaan yang mengagungkan kecepatan, memperlambat diri adalah sikap subversif.
Kita juga perlu membangun kembali komunitas yang nyata. Bukan sekadar jaringan profesional, tetapi persekutuan yang memungkinkan kerentanan. Di sana, manusia tidak diukur dari produktivitasnya, melainkan dari kehadirannya. Solidaritas bukan performa, melainkan praktik sehari-hari. Dalam ruang seperti itu, batu Sisyphus menjadi lebih ringan karena didorong bersama.
Kritik kebudayaan hari ini harus berani menyasar akar ekonomi-politik yang menopang kelelahan kolektif. Ketimpangan akses, eksploitasi tenaga kerja, dan konsentrasi kekuasaan teknologi bukan sekadar isu teknis; ia menentukan kualitas makna hidup jutaan orang. Selama struktur ini tidak disentuh, wacana self-care hanya menjadi plester di atas luka yang terus terbuka.
Pada saat yang sama, kita perlu merehabilitasi gagasan tentang makna. Makna tidak selalu spektakuler. Ia tidak harus viral. Ia bisa hadir dalam kerja yang dilakukan dengan integritas, dalam relasi yang dipelihara dengan setia, dalam keberanian berkata tidak pada tuntutan yang tidak adil. Makna tumbuh dari konsistensi, bukan sensasi. Ia sering sunyi, tetapi justru karena itu ia tahan lama.
Sisyphus yang dibayangkan Camus bahagia bukan karena batunya ringan, melainkan karena ia sadar dan memilih tetap mendorongnya. Dalam konteks kita, kebahagiaan bukan berarti bebas dari sistem, tetapi mampu menjaga jarak kritis darinya. Kita mungkin tetap bekerja, tetap menggunakan teknologi, tetap berpartisipasi dalam masyarakat modern. Namun kita melakukannya dengan kesadaran bahwa nilai diri tidak identik dengan performa.
Zaman ini memang melahirkan banyak Sisyphus. Tetapi ia juga membuka kemungkinan baru: kesadaran kolektif yang lebih luas tentang absurditas yang kita hidupi bersama. Jika kesadaran itu tumbuh, ia dapat menjadi dasar etika baru—etika yang menempatkan martabat manusia di atas efisiensi, kedalaman di atas kecepatan, dan solidaritas di atas kompetisi tanpa henti.
Pada akhirnya, pertanyaan Camus tetap relevan: apakah hidup layak dijalani? Jawaban tidak datang dari statistik pertumbuhan ekonomi atau jumlah pengikut. Ia lahir dari keberanian individu dan komunitas untuk mengatakan: ya, hidup ini layak, bukan karena ia mudah atau jelas, tetapi karena kita memilih untuk menghidupinya secara sadar dan bermartabat.
Maka mungkin tugas kebudayaan kita hari ini bukan menghancurkan batu itu, melainkan mengubah cara kita memaknainya. Batu bisa tetap ada—pekerjaan, tanggung jawab, tantangan zaman. Namun jika kita berhenti menyembahnya sebagai ukuran nilai diri, ia kehilangan kuasa tiraniknya. Kita tidak lagi sekadar mendorong; kita memahami.
Dan dalam pemahaman itulah, seperti Sisyphus versi Camus, kita menemukan sejenis kebahagiaan yang tidak bergantung pada puncak gunung. Kebahagiaan yang lahir dari kesetiaan pada kesadaran, dari keberanian menghadapi absurditas tanpa melarikan diri, dan dari komitmen membangun kebudayaan yang lebih manusiawi di tengah zaman yang terkurasi.
Jika kritik ini terasa keras, itu karena zaman memang menuntut kejujuran yang keras. Kita tidak kekurangan motivasi; kita kekurangan refleksi. Kita tidak kekurangan koneksi; kita kekurangan kedalaman. Dan selama batu itu terus kita dorong tanpa pertanyaan, ia akan terus jatuh tanpa makna.
Tetapi ketika kita mulai bertanya, ketika kita berani mengurangi kecepatan dan menolak ilusi, saat itulah batu itu berubah. Ia tidak lagi sekadar beban, melainkan cermin—yang memantulkan siapa kita sebenarnya, dan kebudayaan seperti apa yang ingin kita bangun.
aendra medita kartadipura
rumah cokro menteng, jakpus
22 feb 2026






