Home AGENDA Edukasi Lingkungan dan Kearifan Lokal dalam Festival Ngubek Beber di Cikelet Garut

Edukasi Lingkungan dan Kearifan Lokal dalam Festival Ngubek Beber di Cikelet Garut

53
0

SENI.CO.ID — Gotong royong merupakan spirit dasar yang menjadi energiutama masyarakat desa. Saat ini, spirit gotong royong tersebutmulai terkikis oleh sikap pragmatisme yang semakin menguatakibat perubahan gaya hidup sebagai dampak kapitalisme global yang memasuki ruang-ruang kehidupan kita sehari-hari. Spirit gotong royong sejatinya adalah ruh bangsa Indonesia dalammembangun kehidupan sosial yang harmoni dan kokoh. Oleh karena itu, nilai-nilai kearifan lokal ini perlu terus digali dan dikuatkan kembali.

Dalam konteks kekinian, penggalian nilai-nilai kearifan lokal itudi antaranya dilakukan melalui penyelenggaraan festival senibudaya yang dapat menggugah kembali spirit tersebut, yakniFestival Ngubek Beber. Pada saat yang sama, festival ini juga menjadi bentuk upaya pemberdayaan dan peningkatankesejahteraan masyarakat melalui potensi kearifan lokal. Selainitu, penggalian spirit gotong royong ini diintegrasikan dalamkegiatan edukasi lingkungan.

Hal itu didasari atas keprihatinan terkait fenomena kerusakanlingkungan yang telah menjadi persoalan global dan menjadiperhatian banyak kalangan, termasuk di desa-desa. Kerusakanlingkungan itu di antaranya terjadi di wilayah Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut, yang salah satunya berdampak padamusibah banjir besar tahun 2009.

Sejak peristiwa tersebut, sejumlah upaya dilakukan untukmendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnyamenjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Salah satu upayatersebut adalah dengan menjadikan wilayah muara/bebersebagai tempat melakukan edukasi tentang pentingnyapelestarian lingkungan berbasis budaya yang disajikan dalam Festival Ngubek Beber (28/8/2022), yang digagas Iip Sarip Hidayana, dosenISBI Bandung sekaligus pegiat budaya di Cikelet.

Ngubek Beber adalah istilah dalam Bahasa Sunda yang artinyamenangkap ikan bersama-sama di muara sungai. Muara inimerupakan titik akhir sungai sebelum bertemu dengan laut. Padamasa lalu, kegiatan ini menggambarkan tradisi gotong royong masyarakat dalam mewujudkan kebersamaan dan harapan.Dalam tradisi lisan masyarakat Cikelet, tradisi ini sudah adasejak lama, dan biasanya dilaksanakan menjelang datangnyabulan suci ramadan. Pada saat itu, masyarakat secara sukarelamenebar benih ikan di muara sungai/beber dengan berbagaijenis ikan, dan akan ditangkap bersama-sama pada hari lebaran.Namun, tradisi ini telah hilang, dan karenanya dilakukanrevitalisasi secara kontekstual yang menarik masyarakat saat ini, yakni dikemas dalam sebuah festival.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan Festival Ngubek Bebermemiliki sejumlah rangkaian acara, yakni: 1) Pelatihan dan workshop pembuatan alat musik lodong (alat musik tradisionaldari bahan dasar bambu) yang dilakukan oleh para dosen danmahasiswa Prodi Musik Bambu ISBI Bandung melalui program PKP (Praktik Kerja Profesi) dan dibantu oleh mahasiswa lain melalui program IMUN (ISBI mengabdi untuk Negeri); 2) Pertunjukan massal musik lodong yang dilakukan oleh berbagaikomponen masyarakat, khususnya siswa sekolah; 3) Penanamanbenih ikan bersama-sama oleh warga; 3) Pelaksanaan ritual Ngubek Beber, yang diawali dengan (a) tradisi Kawin Cai, (b) penanaman pohon, (c) berbagai penampilan seni tradisi, (d) aneka lomba kaulinan urang lembur, (e) wisata kuliner khas daerah, dan (f) orasi budaya, dan terakhir Ngubek Beber.

Salah satu rangkaian penting dari acara ini adalah penanaman1000 bibit pohon di sepanjang muara Sungai Cipasarangansebagai bagian dari cara mengajak masyarakat untuk menjagakeberlangsungan ekosistem muara suangai.

Kegiatan ini dilaksanakan di Kawasan Wisata Gunung Geder, Desa Cijembe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, pada hariMinggu, 28 Agustus 2022, pukul 09.00 s.d selesai. Kegiatan initerlaksana atas kerjasama ISBI Bandung bekerja sama denganYayasan CKLT dan Pemerintah Desa Cijambe, dengandukungan Program Nasional Revolusi Mental (GNRM) Kemenko PMK dan Forum Rektor Indonesia.

Jumlah peserta yang terlibat dalam kegiatan ini, sekitar 500-1000 orang, yang melibatkan 60 Mahasiswa ISBI Bandung melalui program IMUN, PKP mahasiswa Prodi Musik Bambu, dan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Selain melibatkanmahasiswa dan dosen ISBI Bandung, terdapat sekitar 300 siswadari 4 (empat) SMA dan SMP di Garut, masyarakat umum, tokoh, seniman, pegiat budaya, pemerintah, dan TNI/POLRI.

Kegiatan ini bertujuan untuk: 1) Meningkatkan peran perguruantinggi bersama masyarakat dalam melakukan      gerakanrevolusi mental melalui pelestarian nilai-nilai budaya lokal; 2) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnyapelestarian lingkungan di muara sungai melalui pendekatanbudaya (festival); 3) Meningkatkan kesejahteraan masyarakatmelalui keterlibatan aktif dalam kegiatan perencanaan,pengelolaan dan pelaksanaan festival yang di dalamnya terdapatsejumlah aktivitas ekonomi seperti stand kuliner maupunlainnya; 4) melakukan revitalisasi tradisi yang sudah hilangsebagai kekayaan budaya yang sarat dengan kearifan lokal, yakni tradisiNgubek Beber”; dan 5) Melestarikan keseniantradisional Lodong.

Pada kegiatan ini warga dan pemerintah desa menunjukkanapresiasi dan partisipasi yang cukup besar. Mereka secaragotong royong membersihkan area kawasan wisata yang tampakterlantar, menyiapkan berbagai perlengkapan, sejak proses persiapan, yakni saat para mahasiswa PKP membuat alat musiklodong, proses latihan, hingga pelaksanaan festival.

Pada pelaksanaannya, acara ini dihadiri oleh Rektor ISBI Bandung, Bupati Garut, Ketua DPRD Garut, Anggota Dewan Provinsi Jawa Barat, Kadisbudpar Garut, Kadisdik, Kepala Pengadilan Tinggi Agama Indramayu, Forum KomunikasiPimpinan Kecamatan, para kepala desa, dan pejabat lainnya, para seniman dan budayawan, para siswa, kepala sekolah, para pegiat lingkungan, dan masyarakat umum.

Keterlibatan perguruan tinggi bersama masyarakat sangatpenting dalam      membangun Gerakan Nasional RevolusiMental, khususnya terkait penggalian nilai-nilai kearifan lokal yang diintegrasikan dengan edukasi pelestarian lingkunganmelalui pendekatan budaya. Melalui keterlibatan bersama antaraperguruan tinggi dan masyarakat diharapkan dapatmeningkatkan program Gerakan Nasional Revolusi Mental menuju Indonesia yang semakin kuat dan maju, khususnyabangkit pasca pandemi, dengan menghidupkan kembalikegiatan-kegiatan budaya dan ekonomi masyarakat.

Secara keseluruhan, kegiatan Festival Ngubek Beber diharapkandapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnyamenjaga lingkungan, pemahaman nilai-nilai budaya lokal, danmeningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keterlibatanaktif mereka dalam seluruh rangkaian acara festival.

Penulis: Neneng Yanti K. Lahpan (PIC Program GNRM ISBI Bandung)

Previous articleSpirit Gotong Royong Dari Lodong
Next articleMAJALAH SENI EDISI BARU SEPTEMBER TELAH TERBIT, RINDU YANG INDAH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here