Home AGENDA Tafsir “Rupa Kata Kaleidoskop” dari Worldwide Graphic Designer yang Mengigit

Tafsir “Rupa Kata Kaleidoskop” dari Worldwide Graphic Designer yang Mengigit

210
0
SUASANA RUANG PAMERAN /IST

SENIINDONESIA –  Pameran “Rupa Kata Kaleidoskop” merupakan kegiatan akhir tahun 2021 dari Forum Studi Kebudayaan FSRD-ITB. Pameran ini diselenggarakan bekerja sama dengan Summarecon Mall Serpong dan Worldwide Graphic Designer (WGD), sebuah lembaga swadaya yang terdiri atas sekelompok desainer grafis internasional yang mengorganisir proyek desain poster dengan konten sosial.

Para peserta kegiatan yang diundang WGD adalah desainer mapan dari seluruh dunia, mereka diundang untuk membuat poster kolaborasi, yang bertujuan untuk penyadaran, kepekaan dan refleksi sosial. WGD Indonesia diketuai oleh Irwan Harnoko.

Rupa Kata adalah pameran dalam dua ranah, yakni rupa dan kata. Dalam projek ini, karya rupa yang dipamerkan merupakan hasil interpretasi terhadap puisi dalam antologi Kaleidoskop, 100 Sajak Pilihan karya Acep Iwan Saidi (AIS) (2021).

AIS adalah seorang penyair Indonesia dan juga dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, serta Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB. Dalam karya kolaborasi ini, tidak ada batasan tema apapun. Para perupa dapat berkarya hingga batas terjauh imajinasi. Dengan ini diharapkan lahir karya orisinal dari para perupa.

Namun demikian, sebagai gagasan dasar pameran ini dapat dirumuskan bahwa KATA adalah RUPA. KATA memiliki karakter yang kasat mata. Di samping itu, sebagai rupa, kata sesungguhnya bukan hanya bentuk, melainkan juga menjelmakan sesuatu. Kata membuat kita bisa membayangkan dunia. Ke dalam kata, makna dititipkan.

“Dalam pameran ini, para seniman dan desainer memvisualisasi makna yang ditangkapnya dari kata tadi ke dalam wujud rupa poster. Secara teknis terjadilah alih wahana: dari puisi ke poster,”jelas Acep kepada Redaksi, 16 Desember 2021

Ditarik ke dalam lingkup akademik yang lebih luas, ini adalah pameran transdisiplin, yakni antara disiplin sastra, seni, dan desain. Terjadi integrasi proses berkarya antara sastrawan, seniman, dan desainer (beberapa di antara peserta juga berprofesi sebagai arsitek dan fotografer). Transdisiplin adalah satu trend dalam wacana pengetahuan kontemporer yang menjadi perbincangan di berbagai forum internasional dalam dasawarsa terakhir ini. “Dalam pameran ini, prosesnya menjadi bertambah kompleks sebab 30 dari 60 pesertanya berasal dari negara yang berbeda-beda (18 negara),”tambah Acep.

Dengan demikian, dalam pameran ini juga terjadi proses resepsi produktif lintas budaya. Dalam pengantar artistiknya AIS mengatakan bahwa pameran kolaboratif semacam ini penting di tengah-tengah krisis persahabatan, baik di tingkat lokal maupun global; di tengah-tengah negara yang satu hanya menganggap negara lain sebagai pasar, di tengah musibah wabah pandemik covid-19 yang minus refleksi. Dalam situasi demikian, tutur AIS, seni menjadi semacam vaksin bagi kemanusiaan yang ditemukan di dasar hati, menjadi imun bagi peradaban.

Dalam sejarah sastra, seni, dan desain di Indonesia pameran internasional sejenis ini baru pertama kali dilakukan. Beberapa pameran sempat dilakukan, tetapi dalam skala lokal dan nasional. Itu pun umumnya merupakan alihwahana dari prosa (cerpen, novel) ke karya rupa, bukan dari puisi.

Jiwa Rupa-Kata, Kebebasan, dan Keadilan

Pengamat politik dan pendiri lembaga survey dan konsultan politik, PolMark Indonesia-Political Consulting Eep Saefulloh Fatah, menjadi salah satu peserta pula dalam pameran ini. Eep memvisualisasi sajak AIS yang berjudul “Kalender”. Dalam testimoninya kurang lebih Eep mengatakan, “Setiap orang, dalam hal ini, perupa dan pencipta kata (penyair), adalah sohibul hikayat bagi dirinya masing-masing. Perupa bercerita dengan rupa, pencipta kata bercerita dengan kata. Pameran ini telah memberi kesempatan kepada para perupa untuk bercerita melalui rupa tentang apa yang dikatakan pencipta kata. Ini memberi ruang bagi siapa saja untuk menyuarakan kebebasan,” ungkapnya.

Sementara itu, Effendi Gadzali, yang juga memberikan testimoni untuk pameran ini mengatakan, “karya-karya AIS meliuk-liuk, menggeliat ke sana dan ke sini dengan indahnya, menyuarakan keadilan, menyuarakan keterbukaan, menyuarakan sesuatu yang mungkin kita lupakan. Saya belum menemukan rupanya, saya baru menemukan jiwanya. Para perupa-lah yang telah menemukan rupanya tersebut. Pameran ini menjadi penting sebab sekarang ini bukan hanya banyak orang yang “buruk rupa cermin dibelah, tapi juga banyak yang “melempar batu sembunyi rupa”. Pameran ini seolah sedang membongkar kebobrokan tersebut, mengajak kita berpikir waras. Pameran ini memberi saran kepada kita untuk “me- rupakan kebebasan dan keadilan!,” jelasnya.

Pendidikan Kita diukur dalam Angka-Angka

Sementara itu, Yasraf Amir Piliang, dalam pidato kebudayaan akhir tahun 2021 yang juga dikaitkan dengan pameran ini memberikan catatan yang menarik, khususnya terkait dunia pendidikan yang kering imajinasi dan hanya dinilai melalui angka-angka. Berikut kutipannya: “Imajinasi adalah kemampuan manusia yang sangat sentral dalam keberlanjutan hidup membangun kebudayaan dan peradaban manusia. Bila tidak ada imajinasi, tidak ada kebudayaan dan peradaban.
Ada dua macam imajinasi: 1) imajinasi pasif atau reproduktif, yaitu kemampuan dalam membayangkan yang sudah ada, dan 2) imajinasi aktif atau produktif, yaitu kemampuan untuk membayangkan yang belum ada. Imajinasi aktif atau produktif merupakan modal dasar dalam kreativitas di setiap bidang: sastra, seni rupa, desain, filem, arsitektur, dsb
Kebudayaan sendiri berkembang melalui tiga tahapan: 1) budaya lisan; 2) budaya tulisan dan 3) budaya visual, yang di dalamnya peran imaji sangat sentral, dalam konteks masing-masing. Kebudayaan abad informasi sangat didominasi cara berpikir digital, yaitu cara berpikir sepotong-sepotong yang tak mampu dilihat dari keseluruhan, berbeda dengan cara pikir analog (holistik).

Kebudayaan masa kini juga dikuasai oleh kuasa angka, semua diangkakan, termasuk pendidikan dan kebudayaan. Pendidikan dinilai melalui angka: indeks, ranking, kelas, peringkat, income.

Pameran Poster Rupa-Kata adalah pameran dari dua manifestasi imajinasi aktif: imajinasi aktif dari sajak-sajak Acep Iwan Saidi dan imajinasi aktif dari para seniman dan desainer poster. Pameran poster RupaKata dapat menjadi acuan bagaimana bangsa ini dapat mengembangkan imajinasi-imajinasi aktif dan produktif, yang dimanifestasikan melalui berbagai wujud kreativitas”.

Para Peserta Pameran
Pameran ini menarik karena diikuti oleh 60 seniman dan desainer yang berasal dari 18 negara sebagai berikut: 1) Hungaria, 2) Meksiko, 3) Indonesia, 4) Swiss, 5) Amerika, 6) Jepang, 7)Jordan, 8) Korea Selatan, 9) Iran, 10) Iraq, 11) Ekuador, 12) Cina, 13) Siprus, 14) Malaysia, 15) Turki, 16) Itali, 17) Israel, dan 18) Mesir.

Sementara karya para seniman Tisna Sanjaya (Indonesia) – Judul Karyanya: Menunggu, Asmudjo Jono Irianto (Indonesia) Judul Karya: Perang (2), Eep Saefulloh Fatah (Indonesia) – Judul Karya Kalender, Iman Sudjudi (Indonesia) Judul Karya: Infinity dan Irwan Harnoko (Indonesia) – Judul Karya: Parno dan dari dunia adalah Rob Carter (USA) Judul Karya: Calendar, Byoung Il Sun (South Korea) Judul Karya: Time, bye!, Gyula Molnar (Hungary) – Judul Karya: Time (4), Hitoshi Miura (Japan) Judul Karya: Time
Mina Nasliyani (Iran) Judul Karya: The Quarantine of Language.

Dari rangkaian karya yang tampil terlihat bahwa respon kuat atas Tafsir itu sangat mengigit. Dan inilah sebuah kolaborasi yang luar biasa. (RED/ATA)***

 

Previous articleDiskusi Akhir Tahun, Pendidikan dan Kebudayaan: Bahasa Hanya Dipakai Sebagai Sarana Komunikasi Tetapi Tidak Digunakan untuk Berpikir
Next articleSekarang Kita Ada di Mana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here