Home BERITA Ayu Bulantrisna Djelantik Maestro Tari Legong Mangkat

Ayu Bulantrisna Djelantik Maestro Tari Legong Mangkat

572
0
Ayu Bulantrisna Djelantik/Sumber Foto Pesona.co.id

SENIINDONESIA – Maestro tari Legong Bali, Ayu Bulantrisna Djelantik telah mangkat pada usia 74 tahun, Rabu 24/2/2021. Dikabarkan sakit kanker pankreas. Seniman tari yang mumpuni dan sering melanglang ke penjuru dunia kini meninggalkan orang-orang yang disayangnya, kerabat, dan semua yang menganal untuk selama-lamanya.

Ia adalah dokter THT dan dosen di Fakultas Kedokteran di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung. Menggeluti dunia tari Bali sejak usia 7 tahun di Puri Sang KakekĀ  Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, merupakan raja terakhir dari Kerajaan Karangasem, Bali.

Padaa usia 10 tahun Bulantrisna kecil sudah dipanggil menari di Istana Negara untuk tampil di hadapan Presiden RI pertama, Soekarno. Sejak itu Bulan sering diajak menari di depan para pemimpin dunia seperti Pangeran Akihito dan Ratu Michiko, serta Raja Norodom Sihanouk, dan Ratu Sirikit.

Semasa SMA Bulantrisna ikut program Presiden Soekarno, mengajak para seniman untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia dengan tampil di beberapa negara di benua Eropa, Asia dan Amerika.

Ayu Bulantrisna Djelantik Maestro Tari Legong /Sumber Foto Festival Payung Indonesia.asia

Ayu Bulantrisna Djelantik sempat berhenti menguluti dunia tari ketika dirinya memutuskan melanjutakan pendikan kedoteran di Jerman dan bertahun-tahun meniti karir di luar negeri. Sepulang ke Indonesia dari perantauanya Bulantrena meneruskan bakat menari yang sudah digeluti sejak kecil itu.

Tahun 1992 mendirikan Bengkel Tari Ayu Bulan, menularkan bakat menarinya pada genesasi muda dan bekerjasama dengan seniman besar lainnya mengembangkan dunia kepenarian khususnya tari Legong.

Untuk itu bersama I Made Bandem, Wayan Dibya, Ketut Arini menyusun sejarah Tari Legong. Mereka kaji, mulai dari kajian lontar hingga panggung masa kini dan pergi ke Tropenmuseum di Amsterdam, dan World Museum di Wina, Austria, untuk mencari literatur dan foto Tari Legong kuno yang kemudian dituangkan ke dalam buku berjudul Tari Legong.

Bulantrisna juga membuat banyak inovasi dalam pengembangan tari Legong. Selain berkolaborasi dengan seniman tari asal pulau Dewata, Bulantrisna melakukan kolaborasi dengan maestro tari lainnya seperti Retno Maruti dan Didik Nini Thowok.

Konsep hidup dan kepenariannya membentuk karakter Bulantisna yang kharismatik, menjadi sosok yang istimewa bagi orang yang mengenalnya. Baginya penciptaan tari bukan untuk hiburan semata, namun menggambarkan kesadaran masyarakat itu sendiri. Luar dan dalam tari imenjadi satu. Menari sebagai upaya mendekatkan diri pada sang pencipta, bagian dari kehidupan, ekspresi diri dari kehidupan itu sendiri.

Menari menurunya tidak hanya soal bisa manggung di hadapan publik dan mendapat apresiasi yang baik dari mereka yang menimatinya.Tarian memiliki nilai-nilai suci seperti doa, maka sang penari dan tarian tidak asal gerak dan bergerak.***

Mang Her

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here