Home AGENDA Fiksi Sains: Mitologi (Part 1)

Fiksi Sains: Mitologi (Part 1)

503
0

Oleh Taufan S. Chandranegara

Episode (1)
Server Divergen Mitologi

Syair Perdaban (01)

“Solilokui di angkasa, bersyair kakawin kekacauan alfabetis, angka-angka jungkir balik rumusan sains, konon menjadi kuasa teknologi, bagai Tuhan bagi makhluk siluman raksasa oligarki, absurd, bayang-bayang saling berkejaran memamah-biak. Membayang, ngelantur kian kemari amuk api-neraka di angkasa, merebut ketenteraman planet negeri semesta.”

“Peradaban compang-camping. Dalang pewayangan memainkan gunungan, wayang Raja Dewa, bertemu, wayang Begawan Ismaya, terjadilah dialog kontekstual agar tetap waspada, menitipkan, untuk mengawasi planet negeri semesta, lebih makmur dari planet bumi, lebih aman sentausa. Namun kemalangan tak dapat ditolak, takdir melengos tak mau kompromi, keserakahan menyibak amarah, karma tertulis, seucap kata menjadi sangsi-sangsi.”

“Siapa benar, siapa bersalah, siapa mengintip, siapa mencuri kesempatan. Panorama merubah cuaca, menjadi iklim gegap gempita, seolah-olah parodi asmarandana, padahal abrakadabra, bimsalabim, patgulipat-siluman oligarki merapat, bertopeng hantu-hantu cuaca adaptif.”

“Jrang! Jreng! Jrong! Gending pesona cinta untuk sesama membahana, senantiasa bahagia, sentir terang benderang, layar dalang pewayangan memainkan kisah-kisah kehidupan suka duka cinta, di antara kemurkaan, keserakahan, keagungan kebahagiaan.”

“Begawan Ismaya, membaca tanda-tanda di angkasa kahyangan. Walah! Mawadah, luntur dicuci siluman raksasa oligarki, wadau! Bahaya, kewajiban, bersegara melahirkan pasukan satria bijaksana pembasmi gejala-gejala kemungkaran, mohon pamit adinda Raja Dewa, hamba bersegera menjalankan kewajiban mengayomi makhluk hidup, dari genderang perang siluman raksasa oligarki, mencegah, sebelum mereka melucu hal tidak lucu” Begawan Ismaya, berubah rupa menjadi, Kiai Semar, abdi kebijaksanaan.

*

Di benak kepalanya “Perpaduan warna semesta pertanda, tidak mudah menyelesaikan polemik telah memecah menjadi kekacauan.”

Langit tak menerima frekuensi warna pelangi dengan sebenarnya, metabolisme analogi siluman raksasa oligarki, manipulatif, berhasil membentuk genre server adidaya, namun batas limit itu ada pada masa kritis suhu ledak “Disitu kelemahanmu”, dia, menghitung langkah berikut, golongan anonim, terus menekan segala gerak-gerik para satria pasukannya.

“Peanuts bye bye! Kacang goreng, da-dah ya!” Melanjutkan memasuki momentum proteksi sandi lawan “Analisis frekuensi pengejaran”, dia, terus membaca tanda-tanda frekuensi lawan, di layar matanya, seraya mengawasi Ibu Kota negeri semesta dari puncak gedung menjunjung langit.

*

Bajingan itu tak pernah jera, masih juga menguntitku, baiklah kawan, kita bermain petak umpet”, dia, menyalakan inti-sistem di tubuhnya, basis data kendali program di otaknya menyala.

“Baiklah, kita bermain lagi dari awal, konspirasi, seperti lendir bekicot mudah menjejaki kemana frekuensimu mengalir di bawah sistem kontra intelijen non-formal, merasuk ke-sektor peringkat sandi bersistem bertingkat-tingkat, hingga menembus media komunikasi publik.”

“Mari kita uji Bung! Anda masuk dari pintu belakang, meskipun aku sempat terkecoh, tapi kali ini, sasaran tembak, tepat di pusaran busur lawan.” Data alfanumerik dipusat otaknya menampilkan bentuk visual “Nih, telan sepuasnya!”

“Glar!” Frekuensi bergetar cepat, server akan meledak sewaktu-waktu.

“Biarin, jangan sombong raksasa oligarki pandir”, di benak kepalanya, membina frekuensi acak menarik frekuensi lawan, ‘hole to hole’, alias bolong ke bolong atau lubang ke lubang, semacam sistem jebakan frekuensi, ini salah satu tekno-taktik ‘komando server divergen mitologi’, kekuatan baru bermukim di negeri atas langit “Si pandir masuk jebakan. Wow, hendak kemanakah, ini, cobain sandi bahasa tradisi, hihihi, die bego, enggak ngerti ya. Nih, sekali lagi.”

“Glar!” Layar bergetar lebih cepat analogi algoritme-kuno, di sistem lawan ketinggalan kunci “Hehehe mereka masih memakai algoritme, tekno matematis kuno itu. Tuh! Jadi linglungkan, sini, masuk ke-urutan bolong berikutnya, ini!”

“Glar!” Layar bergetar hebat.

“Itu, bakso kuda hehehe”, dengan cepat ia merubah sandi si pandir dari sistem algoritme kuno itu, di buat ngawang, sekaligus terjebak di sistem bolong ke lubang lainnya.

“Hihihi”, terlihat ia menghubungi pusat ‘komando server divergen mitologi’, komando itu dipimpin langsung oleh ‘Panglima Komando Divergen’, di negeri atas langit-sebuah kapal induk angkasa gigantik, terlihat keduanya mengisyaratkan dialektika info singkat langkah selanjutnya “Komando siap!” Melanjutkan membuat kekacauan di frekuensi lawan “Biarin. Ayo! Adu panco, monggo”, gumam di benak kepalanya, dia dicegat, tabrak saja sekaligus pada core-sys alias inti sistemnya, di titik didihnya.

“Ayo syantik! Walahkadalah! Ha ha ha, mana wajahmu ini wajahku, hehehe, wajahmu muram, ini aku tambah dengan daya kekuatan inti-sistem, lagi, biar kamu kelepek-kelepek. Siapa kamu sih”, terkirim data ke pusat pengendali “Ya, ini, di.ver.gen, menggeltik server lawan. Hajar!” Jaringan terputus, sistem recover alias pemulihan olak-alik perangkat, berebut waktu.

Tak lama, kembali seru, sistem frekuensi menyala “Ini, kenali, bahasa dari dusun terpencil. Ha ha ha kau tak paham, hajar, ini lagi, dengan sistem kampung halaman, langsung menghajar inti-server bodohmu si algoritme kuno. Biar rame sekalian!” Seru banget di benaknya, sistem lantas sekilat stagnan “Bagus! Aku gantung kalian di kawasan tak bernama, ini jazirah bolong ke-bolong di dalam lubang hitam”, dia tak ada waktu lagi untuk meladeni “Biarkan saja bajingan pandir itu terus mengejar di ruang kosong tak bernama, hihihi.”

*

Terdengar suara-suara derap gerombolan makhluk, kegaduhan di luar, dia telah bersiap-siap, di tengah deru suara beberapa helikopter. Segera ia mengepak perlengkapan dengan cepat, melesat menuju pintu-pintu. Gerombolan pasukan makhluk iblis siluman raksasa oligarki, menggempur dengan serangkaian tembakan senjata berat, perangkat perang hipermodern “Dasar pandir, tembak saja dirimu sendiri”, dia sudah memelesat ke-luar area ruangan bawah tanah itu.

Ia menyergap salah satu pasukan makhluk iblis siluman raksasa oligarki berseragam, dengan cepat, lantas ia berubah rupa menjadi seperti mereka, berkelebat cepat, memacu dirinya, menghilang dalam warna biru malam.

*

Tak ada kata lain, ia terus menuju pusat pengendalian laboratorium, menyelamatkan atau menghancurkan, jika situasi mendesak tak terkendali, tak mudah memusnahkan lab itu, berisiko pada lingkungan-udara.

Harus dengan hidrogen pada suhu didih beku, demi keselamatan publik secara menyeluruh, terutama ia berkewajiban menyelamatkan, Sang Negeri, dari rongrongan siluman si pandir, itu perintah tugas, beban terberat, tapi ia harus bisa, melaksanakan perintah, Panglima Komando Divergen, sekaligus komitmen kesatriaan pasukan, tunduk pada sumpah prajurit-untuk negeri semesta.

“Semoga belum terlambat.” Benak frekuensi batinnya, ia terus berkelebat di kecepatan sangat tinggi.

*

Mozaik data alfanumerik, instrumen di otaknya menyala, info situasi sangat gawat, ia segera ke tujuan, berhasil membekukan sistem di laboratorium itu, inti-sistem mati suri, seluruh eksperimen sel-sel berbahaya semoga tertangguhkan.

Mudah-mudahan melemah, non-aktif, tapi, ia tak yakin benar, sampai kapan kebekuan itu bertahan, matahari tak dapat dicegah, kecuali awan tebal sepanjang waktu, tapi tak mungkin matahari mati, gerombolan pasukan iblis siluman raksasa oligarki, terus memburunya.

*

Ketegangan menunggu siang seakan-akan membuatnya gila, ia tak dapat membayangkan, apa, akan terjadi, jika matahari terbit. Apakah benar lab itu konon akan meledak-membakar sistem diri secara otomatis, ketika inti-sistem mati suri, seperti itu.

Lantas, bagaimana dengan sel-sel berbahaya, akankah menguap ke udara, konon pada titik kritis tertentu-hal itu sungguh tak mampu ia bayangkan akibatnya, semua serba tak pasti, akibat kekacauan pola-sistemik mengguncang di bawah permukaan oleh kaum siluman pandir itu, pada negeri semesta ini “Hachh”, menggema suara itu di benak batinnya, memecah sunyi.

Kesabaran, ia segara sadar, ya, sabar, hanya kesabaran mampu mengendalikan taktis kecerdasannya, untuk menghancur leburkan makhluk siluman pandir itu.

Berteriak kesal di angkasa batinnya “Dasar bekicot!”

*

Meskipun, kini, publik tak tahu hal ihwal sesungguhnya, keadaan negeri semesta, bagaikan bara, mencekam, kaum golongan anonim telah menjual ekosistem secara menyeluruh pada kaum siluman oligarki si pandir itu.

Sementara itu pula, di tengah kekacauan akibat perbuatan siluman pandir itu, trah kaum borjuis menguasai pola politik konspirasi, terduga, berusaha menguasai jalur multilateral demi satu keuntungan, kepentingan kapital sistem bertingkat, bahkan konon telah menyusup ke kantong-kantong kaum tertentu “Bekicot, siapa sih mereka ini.”

*

Namun, niskala digital data memberi sandi di frekuensi komando pusat negeri atas langit, dengan angka perbandingan jaringan kuantum, berhasil diketahui asal-usul siluman itu, kini, komando server divergen mitologi, telah membangun rancang baru sistem keamanan serat optis per-sel, per-unit.

Babak baru dimulai sejak kebocoran data saling-silang dari kantong intelijen non-formal, akibat menyepelekan, konflik kepentinga dalam kabut kubu-kubu, akhirnya terkuak jua, siapa sesungguhnya harus dibela, itu sebabnya, Sang Negeri, wajib segera diselamatkan dari rongrongan kaum siluman pandir itu.

*

Benak kepalanya bergulat dengan berbagai data info “Kaum oposan terpecah belah, wajah mereka melebur di aksioma-aksioma, aklamasi menjadi suara euforia, sekadar mengembangkan situasi politik di kubu muslihat telah tersusupi kaum siluman pandir itu.”

Pemerintahan, terlihat seakan-akan demokrasi, berjalan baik-baik saja di mata global bimasakti, negeri semesta, terlihat bermuram durja, pertahanan formal sebagai pengayom publik di persimpangan, bergetar bagai gempa bumi, beberapa komando wilayah pelindung negeri semesta terlibat politik praktis, terjebak dalam lingkaran sistem konspirasi-kode etik, konon mereka kehilangan titian tujuan.

Itu sebabnya, komando server divergen mitologi, dari negeri atas langit, segera turut andil menyelamatkan negeri semesta, di antara ketidak pastian tautan antar komando formal wilayah negeri itu, demi melindungi publik, sekaligus misi penyelamatan sunyi-senyap untuk, Sang Negeri, dari hempasan konflik bau haram.

Ia hanya satria prajurit setia kepada negeri semesta, hatinya bergolak pedih, nurani melihat situasi tak menentu, di tengah kesibukan publik seolah-olah ranah negeri baik-baik saja, bagai bom waktu terus berdetik, ini, disebut perang sunyi dalam senyap, terjadi pergerakan politik di kubu-kubu kamuflase penyusupan, kaum makhluk siluman oligarki si pandir itu.

*

Dari ketinggian tepi Ibu Kota negeri semesta ia memantau situasi, terlihat sekilas stabil, terus bergerak, mengirim sinyal pergerakkannya terus menerus kepada komando pusat divergen, meski tetap menyisakan pertanyaan di benaknya.

Siapa di antara mereka masih setia pada, Sang Negeri, secara tulus-konsekuen, masih adakah ketulusan itu, di tengah pusaran badai tarik menarik kepentingan, umumnya, telah menyeberang pada kepentingan-kepentingan golongan anonim, telah tersusupi kaum makhluk siluman oligarki, si pandir itu.

Kota pemerintahan tampak megalopolis sebagaimana wajahnya, seakan baik-baik saja, sungguh biadab kekacauan ini, sebagai satria prajurit, setia pada sumpahnya, ia, tidak rela, negeri semesta ini, akan terpecah “Tidak, tidak boleh terjadi”, ia mengaum ke angkasa batinnya sekeras-kerasnya, gemanya, menandakan kehadiran pasukannya, di ruang-ruang sunyi nan senyap.

Benak batinnya gundah gulana “Sang Negeri, terus diguncang rongrongan konspirasi, kaum siluman pandir itu, carut-marut, terus menggoyang bawah permukaan, jaringan internasional tampaknya telah mencium situasi politik negeri semesta itu.”

Ia terus bergerak, terus membuka pintu-pintu pada sistem, hole to hole alias lubang ke-lubang membolongi frekuensi demi frekuensi, menuju-back door alias pintu belakang, masih sulit ditembus, untuk membuka, sandi kode-etik, pada pusat kendali.

Waktu terus memacu detik, laboratorium itu ancaman, imaji, akan merubah realitas, gerombolan pasukan iblis siluman oligarki padir itu, terus melacak jejak keberadaannya.

Ia membuka lensa-lensa di matanya, titik-titik merah masih mengejarnya, ia terlacak terus. Jika sistem mozaik dimatikan panas tubuhnya masih terlacak, code of conduct alias sandi kode-etik, harus segera terpecahkan, ia, akan bebas dari ion panas di tubuhnya, untuk masuk pada system free fall alias terjun bebas hambatan, menuju lubang-lubang, membuka back door, alias pintu belakang.

*

“Bajingan itu. Sial, masih menguntit”, ia geram nian tak terhingga, kembali mengaktifkan sistem pola-adaptif data kendali program. “Siapa di balik sistem supramolekuler-tekno itu.”

Sikuel layar lensa di otaknya bergerak cepat pertanda jawaban, menampak wajah cantik Mahashinta, tersenyum, cantik itu membuat pesona, terkesima “Blink!”

“Goblok! Jangan bengong! Pasukanmu telah siaga di frekuensi sunyi, siaga di rantai komando, setia melindungi, Sang Negeri, sandi kode-etik, menunggumu”, suara syahdu Mahashinta, seakan-akan menggaibkan dirinya, bagai mendadak melayang, kesyahduan cantikmu, Mahashinta, nurani campur aduk, ia mengeluarkan suara terperangah.

“Setan kecil, aku kira kau sudah wafat”, ia amat girang.

“Anjingku? Wafat! Cepat! Lepaskan semua tekno mini-molekuler dari tengkukmu, sandi kode-etik akan menyala, ikuti saja perintahnya. Cepat! Tak ada waktu lagi untuk berdebat.” Mahashinta cemas.

“Darimana kau tahu. Kau siapa sesungguhnya, Mahashinta?” Ia ragu, tak mudah membuka sandi kode-etik, ia bertanya lagi. “Apa benar semudah itu.”

Mahashinta, matanya berubah warna pertanda, akan marah, meski ada sesuatu di sana, di benak batinnya, cinta itu, bersemayam, kangen di sukma. Mahashinta, menghardik kesal “Goblok! Cepat! Cerewet!”

Ia masih penasaran, nadanya gusar “Apa semudah itu?”

“Terserah, situasi semakin pelik”, lensa layar sikuel mendadak mati, Mahashinta, tak tampak lagi.

“Baiklah”, benak batinnya mencoba percaya pada situasi rawan ini, ia menekan dengan ke dua jari kelingkingnya “Klik! Blink!” Terjadi seperti kata, Mahashinta “Aku memang sialan, bodoh, tolol, sekaligus dungu, ha ha ha ternyata aku si pandir pula ha ha ha” Ia segera mengirim berita pada semua sektor server keamanan, rantai komando server divergen mitologi, informasi melaju dalam kecepatan hiper-tautan frekuensi.

*

Sang Negeri, bersegera dalam perjalanan penyelamatan, terlindung sistem proteksi data kendali program antimitos, milik, komando server divergen mitologi.

Di dalam plasma pelindung, ion-molekuler positif menyebar, ke seluruh pelosok pengendali hidup keamanan negeri semesta, lab menyalakan auto inti-sistem, sandi kode-etik, bekerja dengan cepat, memburu frekuensi gerombolan pasukan iblis siluman oligarki “The new wave man. Ayo! Adu panco! Hajar!”

Laboratorium untuk sementara waktu, aman, sel-sel berbahaya masuk kembali kedalam perlindungan sistem keberadaannya, terlindung oleh plasma ion-molekuler positif, hiperdata secara akumulatif dalam hitungan skala kuantum, masuk, ke-labirin semula, tampaknya agak aman meski belum pulih sepenuhnya.

*

Ia tersambung dengan sistem keamanan, Sang Negeri, “Go! Lending!” Pesawat khusus, Sang Negeri, dikawal ketat oleh empat puluh lima, pesawat superdrone, sejak awal mula perjalanan hingga masuk perbatasan wilayah negeri atas langit-kapal induk udara gigantik komando server divergen mitologi.

Landasan pendaratan automatis, telah siap menerima kedatangan, Sang Negeri, di kapal induk udara gigantik, langsung disambut dengan kehormatan militer formal, di pimpin langsung oleh, Panglima Komando Divergen, setelah segalanya nyaris, penyelesaian konflik sedang berlansung tuntas, evakuasi kantong-kantong sains serentak kebudayaan selesai, publik dalam perlindungan sistem pengamanan ketat.

“Publik, menyaksikan di layar kaca, kaum siluman raksasa oligarki, sementara berhasil dibasmi rata tanah dalam waktu singkat, oleh komando server divergen mitologi”, demikian reporter media layar kaca melaporkan, setelah pidato kenegaraan secara singkat oleh, Sang Negeri, dari kapal induk udara gigantik komando server divergen.

Publik bertepuk tangan di tempat mereka bermukim masing-masing, menyambut kemenangan serta keselamatan ‘Sang Negeri’

Syair Peradaban (2)

“Hidup terus bergulir bagai bola-api. Tak boleh adigang adigung, tak berguna, karena membuat umur pendek, kaya penyakit memanggil sampar untuk diri sendiri.”

“Persoalan hidup bukan cuma soal membasmi makhluk siluman raksasa oligarki, tapi bagaimana semarak akal budi membuahkan Doa-kemaslahatan bagi semua umat, agar iblis siluman raksasa oligarki segera hengkang dari negeri semesta, selamanya, tak lagi kembali.”

“Semua ada jawabannya, semua ada rumusnya, kembali pada fitrah kebijaksanaan di dalam sukma para kawula Gusti Pangeran. Tetap waspada, sebab hidup senantiasa diawasi ancaman, mencuri kesempatan dalam kesempitan.”

“Dalang kembali mengangkat tokoh wayang para satria bijaksana pelindung negeri semesta, pertanda kisah belum selesai. Siapakah akan-hadir dalam cerita selanjutnya, ataupun siapa menjadi-apa, tokoh bijaksana senantiasa ada dalam serat kakawin negeri semesta, menjadi rahasia kisah-kisah bobot bibit-unggul” Gending pesona cinta untuk sesama membahana, senantiasa bahagia.

*

Tapi, ia kehilangan kontak dengan Mahashinta, kelompok sistem komando anonim, pelindung kesetiaan untuk publik dari negeri semesta, pembuka jalan pencerahan, penyelesaian tugas-tugas komando divergen, membasmi-makhluk siluman oligarki, si pandir itu.

Data itu masuk di mozaik sistem, di otaknya, Mahashinta, tak juga memunculkan keberadaannya, ia berfirasat, tersambung dengan sistem-neuro tekno ekliptika, melesat menuju satelit luar angkasa “Report! Done!”

Tampaknya durasi antar sistem akan segera kembali normal, semua visual titik rawan terlihat bergerak berurutan kondusif-kendali terkontrol.

Mahashinta, bagai lenyap di telan sang kala, tak ada tanda-tanda secercah pun, secara menyeluruh di visual dari sistem satelit itu, perasaannya menuju matanya, lalu ia mengaum lirih, di bawah estetika purnama raya.

Jakarta Indonesia, May 4, 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here