Home Bahasa Sekar Kembang Mayang

Sekar Kembang Mayang

520
0
SEKAR KEMBANG MAYANG (ilustrasi)

CERPEN Taufan S. Chandranegara

Gerombolan makar pengkhianat negara membantai lawan-lawan politiknya. Kekacauan, membabi buta, darah menjadi air mata luka.

Purnama memerah kelam. Revolusi peradaban, mencoba makar pada negara. Beradu mata saling curiga. Malamnya hilang. Misteri, menyayat waktu entah oleh sebab apa. Nyawa, melenyap tak ada rimbanya. Mencekam publik.

Tentara, tank-tank baja, senjata berat, dari desa ke kota atau sebaliknya, dari hutan ke hutan. Membasmi kaki tangan, gembong gerombolan makar itu.

Tentara bela negara, bergerak cepat sangat cermat, bagai badai gurun Gobi, menelan pasir melenyapkan makar. Demi keutuhan negara dan bangsa, melindungi rakyat secara seksama, taat pada sumpahnya sebagai prajurit negara.

*

Gerombolan makar itu, telah membantai lenyap keluarga Parta, ketika revolusi berdarah pecah bagai api dalam sekam. Sekalipun ayah Parta, hanya buruh harian lepas di lahan pertanian juragan Musko. Namun, ayah Parta, termasuk salah satu sosok, terlanjur di cap antek dari juragan Musko, oleh warga desa kini, hingga ke desa-desa nun jauh di balik pegunungan berbukit-bukit itu.

Ayah Parta, buruh tani, mengolah tanah menanam benih, bersama-sama warga dari berbagai desa, termasuk juga warga dari desanya, di lahan usaha pertanian juragan Musko, pemilik lahan luas, pesawahan, kebun-kebun buah, hingga kebun karet termasuk berhektare-hektare lahan pohon jati hingga melewati batas wilayah desa itu.

Tanpa di ketahui oleh ayah Parta, juga warga desa, tak satupun tahu. Siapa, sebenarnya sosok juragan Musko. Namun setelah juragan Musko, berikut kaki tangannya, mati di basmi dalam satu penyerbuan besar-besaran oleh tentara bela negara. Terbukalah kedok juragan Musko, bahwa dia salah satu gembong, ketua ranting, dari sejumlah ranting organisasi gerombolan makar itu.

Nasib, kadang menulis takdir berbeda, di luar sangkanya, Parta, tetap di cap sebagai anak kaki tangan gerombolan, ia kehilangan martabat untuk masa depannya. Nasib, memilih Parta, sungguh-sungguh untuk tidak beruntung, setelah perubahan zaman waktu berganti.

Tak ada kata lain. Parta harus berani merubah situasi dirinya menjadi oase kebahagiaan bagi kehidupannya kelak. Hanya itu cita-citanya, tak banyak keinginannya.

Parta, hanya ingin hidup baik di dalam kebenaran, sehat walafiat, tenang menuju masa depannya, tanpa gangguan gosip, isu-isu ataupun tudingan lingkungannya, selalu bernada sumbang. Tak bisa dihapus. Tak bisa dihilangkan.

Bahkan identitasnya pada era ia menjadi remaja dewasa, di pantau tegas bahwa dia anak kaki tangan gerombolan makar itu, meskipun rumah-rumah ibadah mengumandangkan suara-suara kebijaksanaan.

*

Parta, meninggalkan desanya, tengah malam, sepi dari suara-suara desa, namun ia khawatir di gapura desa, akan bertemu warga tengah siskamling. Apa boleh buat, hanya ada satu jalan keluar dari desa, harus melewati pos siskamling di gapura desa.

Parta, bertekad akan tetap senyum. Namun jika terdesak, tertekan intimidasi atau mereka mencoba menghakimi dengan perilaku penghinaan. Parta telah siap menghadapi apa pun akan terjadi, demi waktu, menuju masa depannya, untuk perubahan nasib menuju cita-citanya. Bagaikan semut di injak gajah tetap menggeliat, mengigit sebagai upaya akhir membela hidupnya.

Kitab kebijaksanaan, peninggalan leluhur di bawa Parta, termasuk beberapa keperluan perjalanan. Parta, tak tahu. Tak mau tahu. Kemana kaki melangkah, nasib membawa tujuannya, sesuka langkah di hatinya. Terpenting bagi Parta, ia harus meninggalkan desa tercinta dengan segala kenangan, air mata, tangis darah, masa lalu keluarganya.

Genap 21 tahun di usainya kini. Parta memohon maaf dalam hatinya, tak kuasa untuk pamit pada keluarga pengasuhnya, seorang guru. Juga pada guru-guru di sekolahnya, pada semua sanak famili jauh maupun dekat, dari garis keluarga ayah ataupun ibunya. Baginya ini jalan terbaik. Menghilangkan dirinya, secara seksama. Meski hatinya menahan gejolak di haru-biru, berat awal langkah itu.

Namun, apa boleh buat. Parta tak sempat pamit pada Marwa. anak perempuan keluarga pengasuhnya, sudah seperti adik kandungnya. Parta tak ingin ada kesedihan dari keluarga guru itu, terekam di benaknya. Surat di letakan di atas meja kayu tua. Tempat keluarga guru pengasuhnya sejak kecil, bercengkerama jika waktu makan bersama keluarga tiba.

*

Nasib Parta, di telan zaman. Waktu berputar dalam pusaran abstraksi peradaban. Telah melewati ketegangan hidupnya, ketika setiap waktu, Parta, di dera penghinaan dalam stigma mantan anak kaki tangan gerombolan makar.

Kereta antar dalam kota itu kini lancar, bersih, indah. Bus angkutan kota menuju cita-cita para pekerja, musiman, lokal, urbanisasi terus meningkat dalam angka-angka sensus penduduk. Kota menjadi tujuan nasib semua harapan perubahan. Semua menggengam info teknologi pergulatan sains.

“Paman sekeluarga di rumah. Sungkem dari ananda. Saya baik-baik saja.” Selalu, pada genap akhir bulan, isi surat itu datang dengan berita singkat dari Parta.

Sejak, tanpa sejumlah kiriman, hingga menjadi sejumlah paket, lewat pos darat hingga melalui pos udara, tetap, tanpa alamat pengirim untuk keluarga guru mulia, pengasuh si kecil Parta, dulu, hingga kini masih tetap bertugas sebagai guru, di sekolah inpres desanya. Sekolah sederhana, tanpa perubahan, utuh seperti ketika masa itu.

*

“Papah! Papah! Cantik, cium pipi papa. Mama juga dong.” Putri bungsu dari anak lelaki ke tiga, telah menjadi cucu perempuan ke lima.

“Eyang putri kok tidak di cium”, cucunya mencium pipi eyang putri (nenek perempuan), lalu mencium tangan eyang kakung (kakek lelaki).

“Terima kasih sayang”, suara eyang kakung dan eyang putri bersamaan. Suara-suara dalam perjuangan hidup sepanjang waktu, khas, suara keduanya.

“Dorman, jangan ngebut ya.” Suara eyang kakung mengingatkan Dorman, sopir keluarga khusus, mengantar cucu ke limanya ke-TK bermain. Eyang putri, senyum bahagia, memeluk cucu ke-limanya itu.

Waktu berlari super cepat. Rumah bagai istana cahaya, sesungguhnya rumah setara jiwa keramahan kasih sayang sepenuh cinta. Sepi lagi setiap di hari pagi. Semua anaknya sibuk mengejar cita-cita. Eyang kakung dan eyang putri, bahagia dengan lima anak, sembilan cucu.

Hari berjalan di cita-rasa bahagia. Stigma itu, dulu, milik siapa. Parta ditelan nasibnya, dulu. Kini, zaman bergulir super cepat di yel-yel teknologi pergulatan sains, perubahan menuju ke perubahan, visi masa depan. Tercatat dikurun waktu, di niskala takdir-takdir alam raya. Nasib mampu merubah takdir waktu, karma bisa berubah menjadi cahaya semesta, ketika ketulusan budi, welas asih, memberi terang pada sesama.

*

Hari itu setelah eyang kakung dan eyang putri, menjemput cucu dari ananda putri bungsunya, sorenya eyang putri tak bisa menemani eyang kakung menghadiri undangan pertemuan paguyuban koperasi antar desa tertinggal. Paguyuban itu gagasan eyang putri. Eyang kakung membiayai kelangsungan hidup paguyuban koperasi itu. Perhelatan tersebut kali ini di selenggarakan di kota, tempat tinggal eyang.

Sebagaimana biasanya eyang selalu pamit kepada keluarga di rumah terutama pada cucu-cucunya. Apa lagi cucu dari ananda putri bungsunya, selalu minta di gendong sejenak sebelum eyang naik ke-mobil pribadinya. Namun, sejak eyang kakung pamit untuk menghadiri perhelatan itu. Eyang kakung, tak pernah kembali, juga tak pernah sampai ketujuannya, bersama sopir pribadinya, Pak Surbun, sejak muda telah berkerja ikut eyang sebagaimana tugasnya, sopir juga merangkap admin pribadi eyang, urusan serabutan.

Berbagai daya upaya pencarian telah dilakukan. Namun keduanya bagai hilang di telan waktu. Keluarga besar eyang membuatkan dua pusara berdampingan atas permintaan terakhir eyang putri, meski pun tanpa jasad eyang kakung di samping pusara eyang putri. Sebagai tanda rasa hormat eyang putri, kepada ketulusan cinta kasih kedua sejoli itu.

Cinta tak dapat pupus oleh waktu atau oleh peristiwa apapun. Sepasang makam itu, diberi nama oleh cucu-cucunya, Sekar Kembang Mayang.

Jakarta Indonesia, September 26, 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here