Home Bahasa Pop Puisi: Antologi Pink Karya Taufan S. Chandranegara

Pop Puisi: Antologi Pink Karya Taufan S. Chandranegara

215
0

Pop Puisi: Antologi Pink (Part 1)

Pink Senyum Merah

Kalau mau menulis terbalik
Sila, tulis saja namamu
Tulis saja nama tanaman
Jangan nama lain, senyumlah

Seraya mengawasi seikat merah
Di antara jambangan pink
Di kedua bola matamu
Biarkan menjadi catatan

Meski, kau suka es krim
Ini, janggung bakar. Ini tape
Pilih semau kau suka
Tak perlu merah pipimu

Sebab, baru saja lalat-lalat
Mengecup bibir merahmu
Meski, tak seindah warna asli
Tak perlu agitasi kue putu

Kau lempar aku dengan batu
Aku melemparmu ke angkasa
Lantas langit berseteru
Katanya, kau benalu!

Kau, bukan burung gereja
Kau, bukan elang pemangsa
Lantas dia siapa?
Di antara kedua telingamu

Jakarta Indonesia, September 15, 2020

*

Pink Senyum Kuning

Sini deh. Ini jambu merah
Ini, pepaya bukan mangga
Ini, mangga. Ini, pisang
Ini, roti bakar rasa nenas

Sudah? Ayo! Makanlah

Kalau kau ragu, simpan di kulkas
Kalau kau bingung, rebus air panas
Kalau kau curiga, bikin nasi goreng
Kalau kau suka, dimakan dong

Atau akan kau biarkan
Seperti bola api membakar hutan
Atau akan kau biarkan
Seperti petir melepas matamu

Di sini atau pun di sana
Langit di junjung bumi di pijak
Pink tak serupa merah
Merah bisa serupa hitam pekat

Jakarta Indonesia, Sepetember 15, 2020

*

Pink Senyum Hijau

Pink, bukan hijau ataupun kuning
Pink, bukan biru ataupun jingga
Pink, bukan ungu ataupun sepia
Pink, tak serupa merah

Kau tahu itu sejak di sekolah
Kau tahu pula, jika pink terbalik
Bisa menjadi warna apa saja
Meski, pink bukan bunglon

Nah, redakan dirimu
Agar kau cermat melihat
Horizon bukan garis lurus
Dia, kurva terbalik

Kumbang lebih tahu dari kepik
Kepik lebih kecil dari kumbang
Semut merah lebih kecil dari kepik
Kepik tak berumah di lubang semut

Kalau kepik kau bilang semut
Atau sebaliknya. Siapa tak waras?

Jakarta Indonesia, September 15, 2020

*

Pink Senyum Biru

Namamu N kalau aku tulis menjadi N terbalik
Kau membacanya menjadi EN menggeram, atau
EN sambil melotot, terserah, itu pilihanmu
Aku cuma mau menulis namamu dengan N terbalik

Hah! Katamu. Hih! Kataku, lalu…
Kecuplah jika itu maumu, jangan malu-malu
Toh, kau tak akan jadi ‘foot note’ atau ‘big foot’
Meski akhirnya kau memilih makan donat

Baik, baiklah. Aku setuju. Kau tak setuju
Hidup memang seperti pisang bakar es campur
Tapi, tidak harus berakhir seperti mie instan
Berpeluklah harapan, aku berlalu, kaupun berlalu

Jakarta Indonesia, September 15, 2020/2015.

*) Taufan S. Chandranegara, adalah praktisi seni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here