Home Bahasa Hantu Laptop

Hantu Laptop

553
0

Cerpen:
Oleh: Taufan S. Chandranegara

“Ini cerita fiksi dari negeri dongeng terserang masuk angin, setara hantu versus siluman antar benua, akibat hantu tekno gaib, plus sejumput menyan penyerta mantra mistik terkendali, mampu melihat info bersifat privat sekalipun, konon begitu, hal seperti itu terpandang tak konstruktif oleh makhluk siluman lain tak serupa manusia”, enteng pula suara si Barda, di posisi duduknya di belakang meja, dalam adegan di panggung itu.

“Akh ya ya, mungkin hanya kepentingan strategis suatu ‘konsep’ dimanapun, secara imajiner maupun non-imajiner, gaib ber-ke-menyan, abstraksi teknologi berbasis siluman menyan, muncul di frekuensi tertentu bak kisah dongeng sebelum tidur.” Dokar, memasukan kedua tangan ke dalam saku celana kiri-kanan, berakting tengah bingung, sebab kesulitan memberi kesadaran fungsi akting pada tangan, seraya memiringkan wajah seolah-olah tengah melirik, merubah posisi blocking sejajar meja kerja Barda,

“Lagi akting kau rupanya sobat hahaha”, suara di benak Barda.

“Konon suatu ketika, keberadaan hantu-hantu tekno kemenyan macam-macam jenis itu dibocorkan si kelinci biru-sengaja dilepas ke tengah publik dunia, membawa kisah seolah-olah rahasia sebuah negara jauh, dibocorkan secara seksama. Dia, si kelinci biru itu sementara waktu, akhir dari pelariannya, menetap disuaka bandara negeri bersalju, akibat dikejar-kejar lawannya, itupun rumor dari kontra dosis indikasi antar hantu kemenyan versus siluman gaib, news-di sistem digital frekuensi.”

“Siluman mencoba jadi makhluk serupa manusia memang sulit, dicintai ketika diinginkan, namun ketika sistem berjalan-mungkin saja berubah menjadi wacana sayonara my dear friends.” Barda mengalunkan suara bak penyair di antara akting tawa-tawarnya, bagai teh seduh tanpa gula, selintas tampak layar laptop miliknya bergetar lembut beberapa kali. Lighting-Dissolve into, meredup di bagian meja Barda. Light fill into-fokus pada Barda.

“Dunia siluman ber-ke-menyan mencoba menyerupai manusia, kata kisah itu, di sana berjalan sensor pengawasan konsep anti-teror di antara dunia aneh mereka, konon, menurut kisah itu selanjutnya, meskipun kasus korupsi, pencucian uang di planet bumi, tetap di langit pelanggaran pidananya, pantas tak pantas ada tiada. Takdir penghuni planet bumi, inheren teknologi strategis, kecuali ulat bulu atau laba-laba, katagori spesies makhluk dari kelompok serangga.” Barda, menggaris bawah menjadi lompatan interlud.

“Nah! Itu sebabnya, kau tak perlu dilematis berlebihan bahwa laptopmu berhantu gaib kemenyan.” Dokar, menarik nafas panjang sekali lantas dihembuskan perlahan-lahan, Kembali merubah jarak antara dengan posisi Barda.

“Koranku, semoga tak diberedel sejauh berita berbasis sahih beradab, tak boleh ada fitnah dalam jurnal berita apapun, apalagi menggurui publik dengan kesombongan diskursus. Membungkam media, itu sejarah zaman batu, terlampau. Di zaman jaringan piringan digital satelit. Informasi berjalan cepat-terbuka. Siapa bisa melihat apa-pun dengan teknologi berbasis revolusi keadaban moral sains atau tekno, tergantung dari pilihan kepentingan, kebijaksanaan, termasuk sakit cinta akibat masuk angin, sedikit berbeda dengan tekno gaib berbasis kemenyan itu.” Barda-Dokar, serentak bersin-bersin. Kali ini kedua tangan Dokar bertumpu di meja Barda, terlihat, Dokar, mulai mampu menemukan metode akting kontrol pengendalian tangan, seraya memperhatikan Barda.

“Tergantung pula tujuan dari konsep zamannya. Pada zaman orde lampau pun, hantu-hantu teknologi gaib berbau kemenyan muncul-lantas pergi, keluar masuk mondar-mandir di frekuensi tertentu. Kini lebih canggih lagi disektor sistem hantu-menghantui, automatis berjalan, wusshh! Seperti roket nuklir tercepat.” Ekspresi keaktoran Dokar, terlihat apik, sangat khawatir, Barda, tak mau menulis lagi.

“Kau tahu kan, kasus browser dunia, kena sangsi. Akibat hantu tekno-kemenyan mereka mengintip makhluk siluman menyerupai manusia pacaran di padang rumput negeri lain. Itu sebabnya pula kawan.” Terasa pada seni akting Barda, ada beragam tanya.

“Kau sipil seniman, melekat pada hal ihwal estetis visual empiris berbasis imajinasi. Tuntaskan saja artikelmu kirim ke laman koranku, seperti biasa. Jadi! Apa masalahmu. Mendadak mau berhenti menulis, sebab si hantu kemenyan itu?” Dokar, suaranya lebih bersemangat, menarik properti kursi di samping meja Barda, duduk berhadapan, suara Dokar memberat setengah berbisik. Lighting-Dissolve into.

“Lantas media telah populer olehmu, akan kau tutup pula lamanmu di situ. Kau mau menulis dimana. Gangguan hantu tekno gaib kemenyan hal lumrah. Takdirnya memang begitu, the term of moralism-tergantung pemilik benua itu. Siapa melindungi apa. Apa melindungi untuk siapa. Komplitkan.” Dokar, menghela nafas.

“Sampai ke ruang publik pun, takdir makhluk hidup harus menderita demi keamanan kolosal, kendaraan di buka kiri-kanan, depan-belakang atas bawah, tas, jaket diperiksa, and go to entrance gate. Seolah-olah akan terjadi teror setiap hari. Akibat kelakuan siluman lain, berjuta umat diawasi.” Barda menebalkan.

“Mungkin, demi keamanan publik-wajib waspada dari si teror, lantas apa lagi masalahmu bung.” Dokar, berdiri dari duduknya, bersandar di tiang stage property, panil pemisah antara meja, menyuarakan kegamangan pada sobat kental kopinya itu.

“Kalau mau bunuh diri dengan cara tidak mau menulis lagi, sila, media benua jauhpun wajib kau info, biar tuntas, bahwa kau berniat membunuh hidupmu-berhenti menulis. Akibat lamanmu di koranku, terduga, dihantui oleh jejaring piringan digital satelit hantu kemenyan, frekuensi main mata-every times. Puaskan, sebelum kau bunuh diri tak menulis lagi, kawan.” Sindiran pahit Dokar, menggugah Barda, ngakak, tapi ia mencoba mengendalikan diri, Barda cekikikan dalam hati, lumayan oke, akting kawan-ku ini.

“Kau penulis independen non-label, tak ada ke-ber-pihakan pada hal sensitif apapun, menulis, masalah sosial, politik, kultur edukatif, itu hal ihwal sangat umum. Biasa lah itu! Apa tetap kau akan bunuh diri, tak mau menulis lagi. Baiklah! Kabarkan sekarang kesemua kolega artikel-mu. Berani?” Dokar, move-mendekat ke-sisi Barda, agak diagonal. Akting Barda, terkesan menyimak Dokar, meski tawa ngakak menggelitik benak Barda.

“Tak ada rahasia laci meja. Tak ada rahasia lemari berjalan. Tak ada rahasia amplop tertutup. Bagaimana? Akan upload-tulisan itu di laman koranku atau tidak! Diam tak membuat tulisanmu hadir secermat mau-mu”, suara Dokar agak meninggi memberi semangat.

“Tak bisa mendadak tayang tanpa kau buka laptop itu, sekarang, di depanku. Bisu? Tak membawa berita itu sampai ke publik tujuan. Teks-mu penting! Upload-lah sekarang. Segera berintegrasi-update berita terkini, merebes ke media inter-lah. Ayolah kawan!” Dokar, memakai taktik lain, seperti arahan penyutradaraan pertunjukan itu.

“Demi leluhurmu. Apa perlu aku telepon ke emakmu, biar di damprat si hantu kemenyan pengintip itu. Kalau perlu aku hubungi opungmu, you and me, bertiga, tulis surat protes ke parlemen dengan santun, kalau tak cukup, aku telepon abangmu si pelaut tangguh itu. Biar aku bilang, artikelmu di laman koranku, ter-intip oleh hantu kemenyan.” Dokar, memberi semangat.

“Validitas mereka mengintip…” Suara Barda agak bergumam.

“Ayolah! Kawan. Setiap kali kau menulis di koranku, tak harus membuat panik dirimu. Hantu menyan itu mungkin saja tak jelas ujung pangkalnya, mungkin pula semacam hantu menyan amatiran, atau alien dari planet lain, bisa jadi kan, tapi, apa urusan mereka dengan artikelmu. Aneh, tak mungkin laaah.” Dokar, merubah posisi blocking di samping kursi, di depan Barda. Dokar setengah berbisik.

“Boleh saja meragukan, namun, teliti dulu pangkal pokoknya. Kau sipil seniman, tak terpaut grup hua-hi-hu apapun, tak kaya, tak punya bekingan, tak punya gundik pula, juga tak menyimpan senjata api moda lifestyle, bak koboi jalanan gertak kiri-kanan. Apa lagi bom. tak adalah itukan hahaha.” Barda pun, ikut ngakak dalam hati seraya menghela nafas selonggar lehernya.

“Kau beda kawan, tulisanmu essence bela negara, amal lewat tulisan. Apa perlu amalmu di-shoting media teve internasional, tidak kan!” Dokar melihat, akting dari senyum Barda mengembang di wajahnya, padahal Barda ngakak terus di hati sejak tadi.

“Ya sudah, mana kata sandi-mu, biar aku buka. Tayang lah artikel sosial budaya itu.” Dokar dengan cepat jarinya bergerak di papan laptop Barda. “Huahaha, cuma cerpen tentang politik cinta kepo huahaha”, kedunya serentak ngakak.

“Huahuazzhimm!” Keduanya bersin-bersin, tertawa terbahak-bahak jungkir balik, jumpalitan, bergulingan. Mereka ngakak tak henti, mereka ngakak semakin menggila. Lighting-Dissolve into, cahaya panggung bermain dalam skala warna putih-sepia, temaram-terang, silih berganti dalam iringan solo biola menggigit telinga.

“Hihihi, ini kan cuma cerita tentang kultur pucuk dicinta ulam tiba, hanya kisah tentang detektif romantika hihihi… Romantika zaman berlari-lari hulala tralala”, mereka berduet bak berpantun. Lighting-Dissolve into. Ngakak lagi sepuasnya, bersin-bersin.

“Hihihi realitas berfikir ambigu. Segala hal berlebihan, konon, bisa memicu hipertensi hihihi”, berduet cekikikan, keduanya bagai membaca alunan sajak-sajak berdendang.

“Ahai! Lihat! Layar laptop-mu bergetar hihihi, ada hantu dari wilayah lain, menyelinap ke dalam laci-laci ha-ha-ha…” Keduanya bagai menyanyikan pantun. Dibait berikutnya meninggi duet mereka

“Ho! Ho! Ho! Jeger! Disergap tim anti rasuah-ketangkap tangan, lantas, da-dah da-dah, kiss by pula, persis di mata lensa kamera, sudah jadi maling uang negara, tak tampak punya malu pula! Ahoi! Ahoi!” Keduanya seraya menari kian kemari.

“Puluhan abad lebih sejarah tulis menulis, major of the corruptions a billion dolar, hehehe, dari mesin ketik tak tik tok, sampai era satelit”, mereka terkekeh-kekeh makin seru segila mencapai puncak Mahameru. Keduanya berhadapan di atas meja.

“Maka tayang lah! Kisah kultur, pucuk dicinta ulam tiba, tak perlu lah bercuriga hua-ha-ha.” Mendadak layar laptop blank. Hitam. Ada suara aneh. Lantas muncul kalimat…

“I am the devil who will devour both of you…Haacrhh !” Panggung-Blackout.

Jakarta Indonesia, July 16, 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here