Home BERITA Puisi Sunyi Sang Demonstran

Puisi Sunyi Sang Demonstran

838
0

SENI.CO.ID – Dengan diam-diam atau terang-terangan, saya selalu belajar pada para
penyair muda Jawa Barat daam segala hal. Pada Arom Hidayat misalnya, saya
belajar sopan santun, pada Willy Fahmi saya belajar rendah hati, pada Faisal
Syahreja saya belajar menata diri, pada Yopi Setia Umbara saya belajar telaten,
pada Heri Maja Kelana saya belajar memahami arti hidup, pada Deri Hudaya saya
belajar handap asor, pada Rendi Jean Satria saya belajar menikam diri, pada
Ahmad Faisal Imran saya belajar teks, pada Romyan Fauzan saya belajar memilih,
pada Ratna Ayu saya belajar lincah, pada Rana Rochiman saya belajar baik hati,
pada Bode Riswandi saya belajar ulet, pada Rifki dan Lutfi saya belajar rapih, pada
Zulfa Nasruloh saya belajar tegas, pada Pungkit Wijaya saya belajar bisnis, pada
Toni Lesmana saya belajar bersahaja.

Pada siapun penayir muda saya selalu belajar. Tak terkecuali pada Mohamad Chandra Ju, saya belajar keliaran yang sunyi. Mereka mempunyai kelebihan masing-masing yang tak difahami oleh penyair angkatan seniornya, mereka menjadikan puisi tidak untuk sekedar membuat status di medsos dan tidak menngnginkan hebat untuk diri sendiri supaya disebut orang sebagai jagoan. Mereka benar-benar memilih puisi sebagai jalan sunyi untuk mengembalikan diri mereka sebagai manusia.

Chandra misalnya, dalam kumpulan antologi puisi “Mana Putih dan Mana
Ajal” terbitan Langgam Pustaka bulan Juni 2020, mencoba memiriskan waktu
perjuangannya sebagai domonstran, dalam seiap aksinya boleh jadi Chandra
berteriak seperti Rendra atau Wiji Thukul, mengkritisi pemerintahan, tapi ketika
menulis puisi, ia kembali pada hakikat perenungan. Sunyi.

Mungkin, seperti Soe Hok-Gie, kritikan yang ia bangun bersama rekan
rekannya malah melanirkan kebimbangan yang sangat dalam menyusuri hatinya.
Ya, seperti Soe Hok Gie yang berkata di tahun 1969.

“Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Pada pertemuan “Musik dan Puisi” Mukti-Mutki beberapa bulan lalu di Jatiwangi, saya sebaga narasumber mengatakan bahwa ketika pentolan mahasiswa
ITB Sapei Rusin, seorang demonstran yang selalu berapi-api dan membakar
masaa pada saat akasi, namun ketika ia jenuh dengan suasana pekik, ia akan
mendendangkan lagu Isabela, utuk menepis hatinya yang galau, bukan lagu Maju
Tak gentar.

Kesepian yang dibangun dalam musik atau puisi, banyak ditemouh
kamu demonstran sebagai jalan terbaik daripada bunuh diri. Chandra, ia seorang Demonstran meski saat 1998 ketika mahasiswa aksi seluruh Indonesia saat itu baru berusia 5 tahun, tapi ia kerap kali ia membela rakyat kecil di Tamansari, Dago Elos atau Stasiun. Lulusan pesantren di Tasik ini tentu saja menjadikan puisi alat perjuangannya meskipun sunyi, tapi nampak ia masih bisa bersendar gurau dengan teks. Puisi memang tak sepopuler beras.

Dari 27 puisi dalam buku ini, Chandra memulai dengan “Granat”, sebuah puisi
yang ngeri

dingin granat di mungil wajahmu
menjelma amis darah, mengantarkanmu

ke lengang fitrah

Tetapi meski ia demonstran, hanya satu puisi saja yang berbiacara itu, ialah
pada judul puisi “Demonstrasi Menolak Goyah’ selebihnya adalah kepedihan dan
luka manusia pada umumnya, puisinya terasa liris dan lirih yang meyakitkan pembaca, juga sebagai gambaran sakit yang dalam rakyat pada umumnya.

Saya ingin menengok sedikit masa lalu, dimana para raja dan atau pemimpin
negara manapun tak jauh dari kehidupan sastra (puisi khususnya), sebut saja
penguasa China Mao Ze Dong. Seorang teoretikus politik dan pemimpin komunis.
Dibalik wajah seram dan dingin Mao, ia adalah “penyair”, menulis puisi adalah
hobinya. Mao itu temperamen tapi romantis, ia sangat revolusioner dan liris. Puisi
juga ditulis raja-raja atau Sultan di Pulau Jawa, dalam bentuk syair sesuai
wilayahnya masing masing. Ada yang berbetuk pantun, macapat dll. Waktu itu, raja
raja menang memiliki intelektual tinggi dan sayang pada rakyatnya (kecuali raja
dzalim).

Peradaban manusia terus bergulir, dan puisi terus berjalan bersama
perkembangan peradaban manusia, puisi terus mempengaruhi hidup manusia, juga
mempengaruhi dunia politik di dunia termasuk di negeri Indonenesia. Lewat puisi
para pemimpin negara terus berupaya membanguan bangsanya.

Hal yang menarik dari puisi ialah selalu diperbincangkan dalam riuh maupun
sunyi, puisi memang selalu seksi untuk diperbincangkan, sampai akhirnya ada
pertanyaan apakah sastra masih kontekstual dengan persoalan masa kini. Untuk
menjawab pertanyaan itu, kita harus memulainya bahwa sastra selalu diperebutkan
oleh kekuasaan orde baru, orde lama dan orde reformasi hingga sekarang.

Ini harus disadari oleh Chandra, bahwa puisi bukan merupakan teori yang
bisa dipraktekkan seketika, ia gerak dan digerakan, hidup dan dihidupkan oleh
sesuatu yang tidak disadari namun terjadi, jadi sastra disempurnakan oleh fenomana
kejadian alam (bisa ambil contoh puisi Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni).

Dan yang paling harus kita fahami bahwa sastra bukan lahir begitu saja tanpa
pemikiran intelektual, ia lahir dari cermin kehidupan.

Pada puisi puisi Cahndra, lebih menarik diri semua persoalan hidup ke dalam
dirinya sendiri. Puisinya selain mampu menyuguhkan rangkaian kata dan bahasa yang estetis dan segar, tetapi juga memuat makna yang mendalam, baik yang
tersirat maaupun tersurat. Ia mampu memberikan suatu pengalaman batin yang
baru juga menyadarkan pembaca pada nilai-nilai esensial kehidupan. Karena puisi
bukan melulu jadi hiburan dari rasa sunyi penyair tapi cermin kehidupan sosial yang
dapat mencerahkan masyarakat pembacanya.

Saya teringat almarhum WS. Rendra. Beliaulah yang kemudian disebut
sebagai pelopor sastra mimbar (puisi Pamflet), sebagai bentuk kesadaran penyair
untuk memberontak terhadap perilaku semena-mena pemerintahan. Dengan
menggunakan bahasa yang jernih, lugas dan terukur, juga mampu merefleksikan
kenyataan yang tengah terjadi, syair Rendra seakan menjadi penyambung lidah
masyarakat yang ingin melakukan perlawanan.

Tetapi haanya sebagian kecil saja Chandra mengekspresikan persoalan
politik dan segalanya lewat puisi. Namun saya merasakan bentuk kejujuran peristiwa
yang terjadi.

Mungkin bagi Chandra, puisi menjadi semacam dokumen peristiwa jauh sebelum lahir facebook, twitter dan youtube. Puisinya menjadi bahan rujukan yang dapat menjadi refleksi kenyataan sosial di masyarakat, puisi menjelma menjadi media penyadaran.

Dengar puisinya ini
Maka aku ingin menjadi jantung puisi
Tak meiliki sebentuk takut, tebaslah leherku!
beitulah bau seorang penyair,jika ia takut
maka ia sendiri, di jantung api

Matdon, Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here