Home LITERASI CERPEN Aku Sang Presiden atau Sang Raja

Aku Sang Presiden atau Sang Raja

863
0
Drama Monolog: Hermana HMT

Aku tidak tahu kenapa harus berada disini. Tempat ini asing sekali bagiku. Apakah ini dunia nyata atau dunia mimpi? Atau ini yang namanya alam kubur. Ah, Persetan! Yang jelas sampai detik ini aku tidak mengerti. Kenapa mereka begitu bodoh dan mudah dibohongi? Padahal sejarah telah membuktikan, bahwa hidup ini benyak tipu daya. Tapi orang-orang masih saja banyak terperdaya. Sungguh aneh. Barangkali aku tidak boleh mengerti? Atau terpaksa harus mengerti walau tidak mengerti samasekali. Luar biasa. Aneh bin ajaib. Aku bisa hidup senang dalam ketidak mengertian kehidupan ini dan kebodohan orang-orang itu. Ha, ha, ha, dasar Gusar.

Ya. Gusar, itulah nama panggilanku sehari-hari. Tentu berbeda sekali dengan sebutan Gus Dur mantan presiden RI ke 4. Butul presiden ke empat? Coba hitung lagi (menghitung). Bagiku Gus Dur presiden ke 4, tapi ada satu presiden yang aku atau kalian lupakan. Ingatkah? Kalau tidak, kita mesti belajar lagi sejarah. Tapi lupakan dulu, kita kembali lagi ke Gus Dur. Kalau Gus pada KH. Abudurahman Wahid mununjukan gelar keturunan kyai besar dari kalangan NU, sedangkan aku merupakan panggilan singkat dari namaku yang sebenarnya Gustiar Sarifudin. Bapak seorang buruh tani dan ibu seorang juru masak yang baik untuk anak dan suaminya. Jelas Beda, bukan? Tapi sampai sekarang aku masih tetap bingung dengan pikiran orang-orang di sekitarku. Padahal sudah beribu-ribu kali aku katakan pada mereka, bahwa aku terlahir dari masyarakat rendahan dan bukan keturunan kyai. Eh, malah tidak percaya. Mereka anggap aku orang yang suka merendah. Terlebih setelah orang-orang itu berkenjung ke makam ayak dan ibuku yang sengaja kubangan seperti makam raja-raja. Barang kali lebih menggah dari makam mereka. Apalagi setelah melihat di batu nisan ayahku bertuliskan KH. Sarifudin, orang-orang itu semakin percaya saja. Padahan KH dalam batu nisan itu nama panjang dari Karim Hidayat, bukan Kyai Haji. Dasar manusia, kebodohan masih saja dipelihara. Betul! Ini sungguhan, loh! Hampir 75% penduduk di kotaku beranggapan bahwa aku memang keterunan Kyai. Ya sudah, dari pada pusing-pusing memikirkan persolan itu, aku akui saja. Aku memang keturunan ke 10 dari Kiai yang hidup setelah generasi para wali.

MUSIK RITUS/MAGIS.GUSAR MENARI.

Gusar! Nama yang senantiasa membawa berbagai keberuntungan. Tuhan benar-benar berpihak pada nama itu. Tidak seperti pada nama Gustiar Sarifudin hasil racikan bubur merah bubur putih kedua orangtuaku. Sungguh, aku sangat menyadari perbedaannya, dan sangat beda. Nama Gustiar Sarifudin menenggelamkan aku dalam jurung kemiskinan, sementara Gusar memposisikanku menjadi orang yang kaya raya sejagat nusantara. Orang-orang pasti bertanya, betulkah sebuah nama membawa hoki? Bagiku, ya! Akulah contohnya.

Sedari lahir hingga menjelang umur 18 tahun aku dibesarkan dengan nama Gustiar Sarifudin. Kata orang, nama yang bagus, tapi pendaptku nama itu nama yang sangat jelek. Ya, kenapa tidak? Nama itu telah membawaku pada kehidupan yang serba kekurangan. Orang tuaku jarang sekali membelikan pakaian bagus. Memberi makan nasi tambah lauk pauk sekaliber telur misalnya dapat dihitung dengan jari tangan kiri saja. Paling beruntung aku makan bubur nasi campur jagung atau singkong dengan lauk pauk jantung pisang, sambal atau sekali-sekali dengan ikan teri.

Abaikan! Itu hanya sepercik masa lalu. Aku enggan membicarakan lebih panjang lagi. Masa lalu bagiku tidak berarti apa-apa, jadi tidak pinting untuk di bicarakan kembali. Semuanya sudah kukubur dalam-dalam pada lubang-lubang yang gelap dan tak berdasar. Sekarang aku lebih suka memikirkan hari ini, besok dan mendatang. Aku Gusar yang selalu siap menerima tantangan. Gusar yang selalu menjadi buah bibir di kalangan pengusaha skala nasional dan internasional. Gusar pemilik saham mayoritas di perusahaan-perusahaan di dalam negeri dan berbagai usaha di luar negeri. Gusar si pemilik ladang-ladang, si pemilik bukit-bukit, si pemilik perkebunan-perkebunan, si pemilik pesawahan, si pemilik hutan-hutan, pemilik pertambagan, pemilik ladang minyak dan gas. Gusar si pemilik pondok-pondok pesantren modern. Gusar yang selalu memberikan sedekah pada ribuan pakir miskin disetiap ahir pekan. Dan terakhir adalah….Gusar sang presiden, gusar sang raja.

MUSIK DAN LAGU (GUSSAR SANG RAJA).

Apa? Tunggu, tunggu! Aku presiden? Aku raja? Siapa bilang aku presiden atau raja? Aku sendiri atau… Oh, ya. Mereka memanggilku sang presiden, tuan raja, tapi bukan raja dangdut atau saja gukguk. Betul, akulah presiden dan raja bagi para bajingan. Jangan terkejut! Memang itulah jabatan terakhirku saat ini. Aku presiden dan raja bagi para penjahat. Perlu kujelaskan semuannya? … Kayanya harus. Awas, jangan bilang siapa-siapa! Aku sebagai preisden atau raja lebih penting dibicarakan daripada membicarakan presiden di negeri seribu bencana. Tentu bukan berarti aku tidak peduli pada mereka. Aku cukup punya perhatian besar, karena bagaimanapun aku sangat diuntungkan. Aku tutup dulu bahas raja-raja kecil yang sedang ramai-ramai mau dipilih, atau persoalan sang presiden yang senantiasa kelimpungan cari utangan kesana kemari yang hanya mengutungkan segelitir orang, dan melupakan janji-janji sejehterakan rakyatnya. Sekarang waktunya buka stratus diriku sebagai presiden sekaligus raja. Bagi yang masih ingin mendengarkar tetep diam di sini, yang ingin hengkang hati-hati buto ijo sudah menunggu dibalik pintu rumah anda. Ha, ha, ha, memangnya aku sedang melakukan ruwatan. Tidak, tidak apa-apa, terserah anda saja. Aku tidak pernah memaksa kecuali di ranjang, itupun bukan kemauanku tapi si emen selalu ngacung memulu kalau dia lihat lembah dengen sejemput rumput hitam dan dua bukit gundul tak berpohon itu. Pokoknya terserah kalian, yang tidak setuju silangkan angkat kaki dan kita berjumpa lagi pada kesempatan yang lain, dalam tema dan pembicaraan yang lain pula.

Nah! Kembali kepersoalanku sebagai presiden atau raja… Eh… kira-kira menginjak umur 12-18 tahun aku sudah ikut ayah menjadi buruh tani, dan nasibku tetap begitu-begitu saja, bahkan lebih buruk dari sebulumnya. Waktu itu jangankan keluarga kami, juragan-juragan sawah pun hampir senasib semuanya. Selain karena kemarau panjang, kondisi perekonomian negara sudah berada di puncak keterpurukan. Uang rupiah mengalami pemutongan nilai hingga 50%, ditambah oleh gerakan pengacau keamanan muncul di mana-mana. Amit-amit. Sebuah negeri yang menakutkan. Negeri hantu atau neraka jahanam? Sulit dijelaskan. Satusama lain saling curiga, satu sama lain saling hujat, satu sama lain saling bunuh. Tak ada pegangan, tak ada kepercayaan, semua tenggelam dalam multi krisis.

O, ow! Sebentar. Kayanya aku terjebak lagi untuk membicarakan masa lalu. Maaf, ini sedikit kekeliruan! Kenapa pikiranku selalu mengarah kesana? Tapi tidak apa-apa, bukan? Aduh, kacau juga. Bagaimana, ya? Oke! Aku harus akui. Kita terlahir begini adalah buah dari sejarah perjalanan hidup. Karena ada masa lampau. Jadi, sejarah itu memang penting. Ya, sangat penting. Dan sebelum berlanjut aku ralat dulu pernyataanku tadi. Mulai hari ini aku berjanji, siap tidak melupakan masa laluku. Walau sepahit empedu, masa lalu adalah peningalan yang sangat berharga, cermin bagi kehidupan yang sedang dan siap kita jelang.

MUSIK PENGIRING MANTRA.

Nyap lenyap, nyap lenyap, nyap lenyap

Hir yang tersihir

Sihirnya lenyap

Mangkat ke jagat ma’rifat

Bersemayam di ujung langit.

Mengerak di dasar bumi

Jangan ingin bertumu walau berupa bayang-bayang

Sekarang bukan kemarin

Pa lupa, pa lupa, pa lupa

Mantraku mantra sejati

Sekali berkata sekali jadi

Puah! Puah! Puah!

Itulah salasatu matraku yang paling mujarab. Untuk hari ini mudah-mudahan saja aku tidak membicarakan lagi masalaluku. Maksudku, setidaknya dapat mengurangi obrolan yang…apa gitu loh? Eh anu…obrolan yang lebih banyak omong kosongnya….. Oke? Kita Kembali pada soal aku sebagai presiden sekaligus raja.

Ya! Aku presiden juga raja untuk hari ini dan di tahun – tahun mendatang. Pepatah bilang, ilmu adalah jendela dunia. Itu benar sekali. Karena kekuatan ilmulah aku bisa menguasai seluruh Kota besar di negeri ini. Tapi ilmuku sungguh berbeda dengan ilmu yang dimiliki para ekonom, politikus, teknokrat, kyai, pandeta, biksu atau yang lainnya. Ilmuku adalah ilmu kebal. Pertama kebel dari rasa malu, kedua kebal tidak beriman, dan ketiga kebal hukum. Tentu saja banyak cara bagaimana kita bisa dapat ilmu kebal, diantaranya kita harus pandai berbohong, pandai kibuli orang, pandai menjilat, pandai berpura-pura menjadi orang baik, pandai menerima penghinaan dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan. Nah, kekebalan itulah yang mengantarkan aku meraih gelar sang presiden atau raja. Paham? Pasti belum.

Memeng tidak perlu paham, yang jelas orang-orang bilang aku adalah manusia sakti. Preman-preman bertekuk lutut, polisi berkualisi, pengusaha tak kuasa berkata tidak jika aku meminta dan pejabat erat bersahabat. Itulah Gustiar Sarifudin, yang berjaya sejak usia sembilan belas tahun, yang dipanggil namanya menjadi Gusar oleh maha guru, para genderewo penghuni gunung Bohong Gerowong, yang sejak itu sudah mulai bergabung dengan mapia-mapia sekaliber Alcapon, koruptor kelas kakap. Lewat tangan betuah ini aku kendalikan roda politik dan ekonomi sesuka hati. Siapa yang menentang? Dor! Dor! Dor! Mati. Atau anjing-anjingku dengan mudah menerkam mereka. Lihat pembawa panji-panji anti markus (makelar kasus), lihat pengibar bendera anti kurupsi belum apa-apa sudah lumpuh. Hanya sedikit ilmu yang gunakan untuk melumpuhkanya. Kusumpal saja saku baju dan celana mereka dengan dolar. Kusalap kendaraan mereka yang asalnya bekjul (motor bebek) menjadi mersi. Kupindahkan rumah mereka yang luasnya 60 meter persegi di tempat kumuh itu ke pemukiman elit dengan tepe rumah menyerupai istana yang luas tanah dan bangunannya lebih besar 100 kali lipat dari sebelumnya.

Ha, ha, ha. Kebahagian yang paling puncak yaitu ketika aku bisa mengendalikan segalanya dengan satu telunjuk saja. Ketika aku sangat mudah menentukan siapa bupati atau wali kota atau gubernur yang akan datang. Pemilihan bagiku hanya sepenggal senda gurau. Pesta demokrasi itu tidak lain untuk meminabobokan kaum jelata dan memetakan siapa lawan, siapa kawan dan siapa penjilat.

Uang dan aku bersukutu, bersatu padu genggam dunia. Uang dan aku menjadi raja diatas diatas raja-raja. Aku tahu pasti anda bertanya, darimana aku peroleh uang yang tidak berseri itu? Maaf itu rahasia dapur. Anda tidak perlu tahu. Jika ingin tahu bersekutulah denganku dan semuanya akan keceritakan pada anda. Maukah anda bersekutu denganku? … Apa? Mau? … Baiklahlah akan kuceritakan. Tunggu sebentar, tolong tutup rapat pintu dan jendela itu, aku tidak ingin ada cicak yang nguping.

Peroleh sekopor uang bagiku sangat mudah, karena aku piawai membangun persekutuan dengan bangsa yang disebut asing. Aku ajak mereka mau berinvestasi. Ya, mereka sangat tertarik karena tanah tempat aku pijak ini adalah tanah yang sangat menjajikan, surganya dunia. Tidak perlu waktu lama, jutaan dolar uang mereka gelontorkan dengan berbagai ikatan perjanjinnya. Aku tidak peduli perjanjian itu merugikan, yang penting aku dapat bagian dan bisa menentukan segalanya karena uang mereka. Aku juga tak peduli omongan hampa para demonstran yang menentang pola kerjaku, aku tak peduli pemilik syah tanah air ini menjerit dan mengais rejekinya hanya di kubangan pembuangan sisa tambang.

MUSIK BERGEMURUH.

Tapi setelah aku menemukan titik kejenuhan dan segala urusan yang menyangkut usaha dan kepemimpinan, aku serahkan pada anak dan bawahanku, segalanya menjadi berobah drastis. Gelar kepresidenan dan raja yang melekat dalam diriku tidak populer lagi. Kolega-kolegaku tidak lagi bersahabat. Mereka menyerangku dengan mengorek-orek titik kelemahanku. Aku banyak memeliki istri simpanan. Aku bukan keturunan kyai, Aku tidak punya ayah yang jelas, Aku selalu menghajar sampai habis orang-orang yang tidak sejalan dengan pikiranku. Aku banyak menggunakan uang negara tanpa mengembalikan pada kas negara baik keuntungan atau mudal yang diambil. Begitulah mereka memberitakanku diberbagai media masa. Lebih heran lagi anak buahku ikut ikutan, sehingga aku terpojok dan kehilangan kepercayaan.

Sapi! Oh aku diseluduk sapi. Aku terjungkal karena sapi. Aku tidak lagi jadi presiden dan raja karena sapi. Gara-gara sapi mereka yang pernah aku beri makan, aku bangunkan mesjid, aku bangunkan sekolahan tidak lagi mengidolakanku. Semua mencapakanku pada jurang kehinaan. Aku dipandang kotor, lebih kotor dari anjung kudisan, lebih hina daripada pelacur yang hidup di gorong-gorong jembatan. Namun bukan itu saja, hartaku juga mereka jarah. Bangsat! Aku diam bukan berarti aku tidak berdaya.

Aduh! Lagi-lagi kepalaku pusing. Aku mual. Aku panas dingin. Mataku berkunang-kunang. Air. Air. Aku mau air. Oh, Dadaku. Wow! Sesak? Aku sesak lagi. Siapa yang menyantetku? Siapa orangnya yang tidak jantan itu? Tidak! Tidak mungkin mereka menyantetku. Aku orang sakti. Aku raja kebel. Tidak ada seorang pun di negri ini mampu menandingi kesaktianku. Semua dukun santet sudah punya ikatan denganku. Mereka sudah berjanji sumpah setia kepadaku. Ah! Ini ulah dokter. Dokter itu bilang aku punya….. Laknat para dokter yang telah mengatakan jantungku tidak baik… Apa? Aku punya penyakit jantung. Benarkah itu? Oh, lambat laun sang presiden, sang raja terkena…. Struk itu setan apa sih? Berani-beraninya mengerogoti jantungku. Guru. Guru! Guru! Tolonglah aku. Tolong. Tolong! Siapa guruku? Setan! Malah ketawa. Selamatkan aku setan! Cepat! Jangan sampai ketahuan oleh mereka. Jangan sampai mereka tidak mempercayaiku lagi sebagai presiden dan rajanya. Aku tidak ingin kehilangan tahta itu. Aku khawatir semua yang telah kumiliki lenyap atau diambil lagi sama mereka. Tidak! Jangan sampai lenyap. Siapa lagi yang membangun jembatan layang? Siapa lagi yang membangun jalan tol? Siapa lagi yang masjid, gereja, dan pura? Siapa lagi yang melindungi orang-orang miskin itu? Siapa lagi yang berkunjung ke makam orang tuaku.

MUSIK BERGEMURUH.

Hei! Jangan berisik. Siapa yang memanggil-manggil nama kecilku? Aku tidak suka nama itu. Singkirkan jauh-jauh. Aku bukan Gustiar Sarifudin. Nama itu sudah tidak ada. Sudah terkubur jauh ke dasar bumi bersama kepedihannya. Percayalah. Aku Gussar. Aku bukan Gustiar Sarifudin. Aku Gussar. Aku Gus …Gus..Gus.. Gusti Allah maafkan aku. Wo! Wo! Wo! (MAU MUNTAH) Kenapa aku mersti kena serangan jantung?

(LUNGLAI) Oh, sekarang aku tidak lagi Gussar. Aku kembali menjadi Gustiar Sarifudin, anak buruh tani itu. Topeng-topengku satu persatu sudah melepuh jadi arang, terbakar waktu yang semakin mendekati senja. Aku tidak punya kekuatan lagi. Bermula dari titik nol dan berakhir di titik nol. (BERTERIAK) Tolong putar kembali roda itu pada 45 tahun yang lalu wahai yang memiliki kegaiban, jangan berikan aku bunga rampai hari ini. Aku belum sanggup berselimutkan kain putih belapis itu. Belerilah aku kesempatan satu repelita (rencana pembangunan lima tahun) lagi. Aku masih ingin bertugur sapa dengan matahari. Aku masih sanggup menyusun kembali pilar-pilar yang sudah roboh. Lagi pula mimpiku belum selesai, masih ribuan episode tertunda. Wahai pembuka dan penutup hari, aku tahu Engkau terkasih dari yang suka menabur kasih, maka kasihanilah aku. Sekeli lagi aku mohon. Berilah kesempata satu repelita saja. Cuma satu repelita.

MELANTUNKAN JAMPI PELET.

Gila! Tidak ada yang kepelet oleh aku. Mantraku sudah tidak mempan lagi.
Nak, tolonglah ayah. Jangan rayakan penderitaanku dengan kado pernikahan dan perceraian. Bantu ayah mencari kekebalan baru yang tidak aus ditelan waktu. Jika ada yang memilikinya cepat pinta. Kalau perlu dibeli, beli saja atau tukar dengan seluruh harta kekayaan kita. Cepat jangan beridiam diri di balik telari besi, waktunya sudah meped. Jangan katakan tidak bisa dan tidak ada, aku benci kata-kata itu. Juga jangan takut kehilang harta. Kalau ayah sudah pulih seperti sedia kala dan kekebalan baru itu menjadi milikku, harta yang mereka rebut atau kau berikan sebagai penukar pasti segera didapatkan kembali. Yakinlah walau kita mesti mulai lagi menghitung dari angka nol. Itu tidak lama. Hanya satu repelita. Hanya satu repelita. Re…pe… li….ta… aaa…. Aaa … ah! Aastaganaga. (BLACK OUT DAN KEMBALI NYALA)

Mimpi yang aneh. Sama anehnya dengan…. kenapa aku dijeboloskan ke tempat seperti ini. Tidak terbayangkan sebelumnya. Aku menjadi pesakitan, tahanan tindak pidana korupsi. Lucu, orang lain yang makan uangnya aku yang ditahan. Dunia ini memang aneh. Yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Demi tahta orang rela merendahkan satusama lainnya. Edan! Edan! Jaman edan! (MEMANGGIL) Heiiiii! Keluarkan aku dari ruang pengap ini! Bebaskan aku! Aku tidak bersalah. Merekalah yang harus bertanggung jawab. Tolong, aku kedinginan, aku kesepian. Aku rendu, aku rindu, aku rindu istriku, aku rindu anak-anak. Aku rindu kebebasan.

SEKIAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here