Home Bahasa SURAT UNTUK BUNG SENI: PULANGLAH!

SURAT UNTUK BUNG SENI: PULANGLAH!

941
0
Acep Iwan Saidi

OLEH Acep Iwan Saidi

Kepada siapa surat ini ditujukan?

Barangkali kepada sunyi

Yang telah lama

Pergi

Selamat pagi, Bung, semoga kabar baik.

Mohon maaf, janji untuk bertemu itu belum pula aku jadwal ulang. Kesibukan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu selalu saja mengganggu. Dan waktu sepertinya menjadi semakin singkat saja. Seperti pernah ditulis seorang penyair, dunia sepertinya memang sedang berlari sekencang-kencangnya. Di beberapa tempat bahkan aku melihat jam tangan tergelatak begitu saja, dan kalender hanya bisa berjatuhan dari dinding.

Bung, sudah lama aku tidak mengajakmu berdiskusi tentang kesenian. Seperti Bung mafum, ini surat pertamaku yang kembali menulis kata “kesenian” di bagian awal. Tentu tidak menulis surat tentang sesuatu, bukan berarti tidak memperhatikan tentang sesuatu itu, bukan? Aku tetap melihat, mengamati, dan sesekali juga mencatatnya.

Tapi, apa sebenarnya yang aku catat, ya. Faktanya, dalam tahun-tahun terakhir ini aku tidak mencatat apa-apa tentang kesenian. Maksudku, aku tidak mencatat apapun tentang “yang berada di luar sana”.  Ini artinya aku juga tidak melihat apa-apa, tidak ada yang bisa teramati. Aku hanya melihat ke dalam pikiranku sendiri dan karena itu aku hanya  mencatat  riak-riak pemikiranku saja.

Kosong di luar sana. Hampa. Kesenian sepertinya telah mati. Ah, mungkin ia masih hidup. Tapi, ia hidup dengan dirinya sendiri. Para seniman (juga sastrawan)  tengah berada di dalam rumahnya masing-masing, sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri. Mereka menulis tentang dirinya sendiri. Seninya untuk seninya. Sastranya untuk sastranya. Musiknya untuk musiknya. Begitu seterusnya. (Nya) untuk (nya). (N) untuk (n). (Y) untuk (y). (A) untuk (a). Kosong, Bung!

Ya, sesekali ada juga satu dua orang yang keluar, sekedar melukis mural, mengirim sajak ke koran langka, memetik gitar di selasar, dan menari di tepi kali. Tapi, aku tidak menemukan greget seni yang sesungguhnya di situ. Dalam beberapa hal, alih-alih mencatat greget, aku malah justeru merasakan bau projek. Aku menangkap sinyal kesenian telah banyak bersekongkol dengan pihak-pihak yang dalam sejarah justeru selalu menjadi momok bagi dunia kesenian itu sendiri, bagi hidupnya kebebasan.

Apakah sekarang memang sudah tercipta kebebasan itu? Apakah sudah tidak ada lagi halangan bagi hidupnya jiwa-jiwa kritis? Aku melihat ketidakadilan di mana-mana. Aku melihat kekuasaan tetap saja pongah seperti sedia kala. Dengan caranya yang memang berbeda, kekuasaan telah menindas kelompok tertentu, menjadikannya tetap berada di dalam ketidakbebasan, di dalam penderitaan, di dalam batin yang terbelenggu.

Tapi, Bung, seperti yang kau saksikan (aku yakin Bung menyaksikannya), tidak ada satu pun seniman yang melihat hal itu, apalagi mencatatnya. Hubungan seniman dengan kekuasaan sepertinya telah selesai. Aku menangkap gejala bahwa mata para seniman telah terkena sihir, terbelalak, ya, dibuat terbelalak tapi tidak melihat.

Ah, bukankah Bung sendiri sedang berada dalam belalak sedemikian. Ya, ya, aku memang melihat Bung terus berkesenian, terus melukis, terus menulis. Bung masih tampak kritis. Tapi, daya kritis Bung tidak vertikal. Mata Bung tumpul ke atas. Bung lebih banyak mengkritisi kelompok-kelompok lain yang tidak sejalan dengan pikiran, dengan rasa kelompok Bung. Bung menjadi terlalu memikirkan diri sendiri, kelompok sendiri. Dan, rupanya, Bung dan kelompok Bung itu, tidak lain adalah kelompok di barisan penguasa. Ini sangat menyedihkan. Okelah, jika Bung merasa jika keberpihakan Bung kepada penguasa tersebab karena penguasa memberi keleluasaan kepada Bung untuk berkarya, bahwa penguasa berpihak pada pengembangan kesenian dan kebudayaan. Tapi, di situlah justeru letak soalnya. Bung jadi tidak bisa melihat celah untuk mengkritisi kekuasaan itu sendiri. Bung telah berada di dalamnya. Semua yang dilakukan penguasa menjadi benar dan yang menetangnya adalah salah. Mungkin hati seni Bung melihat juga. Tapi, Bung, diam.

Aku mengerti kalau dulu Bung punya keyakinan politik sehingga ikut berjuang, mendukung salah satu kelompok untuk menduduki kekuasaan. Itu no problemo, Bung, halal. Hanya, yang aku sesalkan, setelah perjuangan berhasil, Bung tidak pulang. Alih-alih pulang, Bung malah “ikut masuk” ke dalam istana. Bung tinggalkan rumah kontemplasi, Bung biarkan gubuk Sunyi itu ambruk. Bung lupa kepada janji kesenian yang harus teguh sendiri dalam kemerdekaannya. Barangkali Bung punya keyakinan bahwa ideologi harus dikawal terus, harus dijamin keberlangsungannya . Ah, itu omong kosong.  Ketimbang mengawal nilai-nilai kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan sejenisnya, kini aku lebih melihat status Bung tidak lebih dari seorang “centeng”. Dengan berbagai retorika Bung hanya menyusun argumen untuk sebuah pembenaran kuasa.

Apakah Bung tidak ingat sejarah.  Dulu di negeri tercinta ini keseniaan pernah dirawat oleh istana. Banyak seniman berada di dalamnya, di bawah kendali perawatan kuasa tersebut. Lalu, pada akhirnya, mereka dengan sangat pongah menyerang kelompok yang tidak sejalan dengannya. Betapa tajam taring mereka hingga kelompok manikebu (apa itu?) muncul sebagai pihak yang mengidentifikasi dirinya merdeka dari apapun. Prahara terjadi. Perang kerabat meledak. Kekuasaan lama hilang, kekuasaan baru muncul. Para seniman yang berada dalam naungan kuasa lama dilenyapkan. Para seniman manikebu bernafas lega. Tapi, siapa yang sesungguhnya menang? Siapa! Kekuasaan, Bung, kekuasaan saja yang menang.  Kita hanyalah korban. Bukankah, kemudian, para seniman manikebu juga dikooptasi oleh kekuasaan baru. Meleset, Bung, meleset!

Maka janganlah kita mengulangi sejarah buruk sedemikian. Untuk itu, segeralah pulang, Bung! Jangan berbahagia dalam perawatan. Tapi, jangan pula berpikir bahwa aku sedang menganjurkan Bung membabi buta membenci dan menyerang penguasa, apalagi menggulingkannya. Tidak, Bung. Ini bukan surat hasutan, bukan ujaran kebencian. Aku hanya mau mengatakan, ekuasaan adalah soal politik, soal mereka yang bertarung memperebutkannya. Itu sebabnya mereka terbagi ke dalam kelompok-kelompok, partai-partai, relawan-relawan, buzer-buzer, dan seterusnya. Maka janganlah kesenian berada di dalam kelompok-kelompok itu. Sekali-kali Bung berada di salah satu kelompok tersebut, di dalam kelompok yang menang atau yang kalah, yang berkuasa atau yang sedang mengintai untuk merebutnya, dengan sendirinya Bung sedang ikut memecah belah negeri ini. Sebab Bung berada di dalam salah satu pecahan.

Berpihaklah kepada sebetul-betulnya Rakyat, Bung, kepada mereka yang terus-menerus menjadi mangsa politik. Kini tidak ada politik yang berpihak kepada Rakyat, Bung, tidak ada! Rakyat hanyalah buruan politik. Jadi, Bung-lah yang harus berdiri di situ. Bagaimana caranya? Hanya ada satu jalan: pulang! Sekali lagi, jangan bersenang hati berada di dalam sangkar mewah peliharaan. Dirikan kembali gubuk Sunyi Bung di tengah-tengah sejatinya warga manusia. Seperti dulu sebelum Bung pergi, gubuk itu nanti akan kembali menjadi Menara, tempat di mana Bung bisa melihat secara jernih seluruh persoalan, tempat yang akan membuat Bung mampu berkarya, bertindak, dan berperilaku kritis. Demi Tuhan, Bung, sehina-hinanya kesenian adalah ia yang didedikasikan untuk kepentingan kelompok, terutama kelompok mereka yang berkuasa. Selemah-lemahnya burung adalah ia yang dirawat di dalam sangkar.

Apakah seniman tidak boleh berpolitik? Jika Bung bertanya demikian, maka jawabanku adalah sebuah pertanyaan balik, apakah aku harus menjawab pertanyaan itu? Sudah terlalu sering kita berdiskusi dan berdebat. Hasilnya adalah kesimpulan yang sama: bahwa kesenian itu sendiri di dalam dirinya sudah sangat politis. Karya seni adalah makhluk politik. Maka berpolitiklah. Tapi, itu tidak berarti terlena di dalam sangkar politik. Aku katakan, sekarang Bung sedang berada di dalam sangkar politik, disadari atau tidak. Sebab faktanya Bung tidak pernah berpikir kritis terhadap kelompok yang memelihara Bung di dalam sangkar itu.

Ah, mungkin Bung memang senang berada di dalam sangkar, Bung suka politik sangkar. Jika demikian, berarti Bung sedang berpolitik yang bertentangan dengan hakikat seni sebagai makhluk politik itu sendiri. Dalam situasi itu, bisa jadi Bung memang tidak melihat ketidakberesan di dalam sangkar. Aku mafum, dalam sangkar emas, Bung riskan terkena penyakit rabun dekat.

Maka, pulanglah, Bung.

Jika ingin sehat!***

Bandung-Pangandaran, 2019-2020

TULISAN INI SUDAH DIMUAT DI EDISI MAJALAH SENI 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here