Home Bahasa Melukis Serat Kain Kebudayaan

Melukis Serat Kain Kebudayaan

995
0

OLEH TAUFAN S Chandranegara, PRAKTISI SENI 

Tercermin pada corak rancangan membatik, tergambarkan pola kesantunan, tentu inheren tata krama keramahan, kemuliaan multikultur. Betapa luasnya Nusantara ketika itu, betapa hebatnya hingga berubah wajah menjadi Indonesia.

Konon, Nusantara terbentuk oleh kebudayaan multikultur zamannya, ketika sejarah membangun imperium raja-raja membentuk teritorial antar kekuasaan imperial tapal batas dalam etos budaya keragaman-Nusantara.

Taufan S. Chandranegara/ant

Konon pula, telah ada tata krama kekuasaan di lingkar esensial keyakinan masing-masing, perilaku budaya cipta kreasi jagat kreatif, independensi pilihan bentuk-bentuk perupaan dwimatra hingga trimatra, sakral dalam upacara tradisi-tradisi lampau. Konon lagi, sejak manusia lampau, mengenal kehidupan berkelompok-kelompok, barangkali hal itu pula awal mula membentuk lakon budaya, senantiasa mencipta identitasnya, lewat beragam gambar, warna, juga bentuk-bentuk simbolis kisah-kisah langendrian dalam syair-syair langenswara spirit tinggi susastra tradisi.

Sakral ‘cipta ning jagat budaya’ di zamannya, dalam rangkaian ragam peradaban, dinasti-dinasti hingga upacara seni rakyat sederhana, tak henti, saling memberi inspirasi, secara filosofis, antropologis, sosiobudaya, sains, tekno lampau-modern, di ranah akal budi, dicatat sejarah.

Itu sebabnya pula paradigma pesona estetika senantiasa menerawang jauh, memesona pandangan kultural edukatif senantiasa terpana, pada ragam estetis warna-warni ‘ambhatik atau bathik, lantas kini dikenal menjadi-Batik’ telah di tetapkan oleh UNESCO sejak 2009, sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Membatik, suatu pola laku perupaan mewarnai di atas bentangan serat kain mori, cukup lebar, seluas umumnya kain itu akan indah untuk mode pakaian dunia anak, remaja, pria maupun wanita, cipta pesona kesantunan, kepribadian pembuatnya, penciptanya, pelukisnya maupun pemakainya, terasa Nusantara-Indonesia.

Indonesia, tidak semata-mata terjadi sedemikian rupa muncul dari kaki langit, akan tetapi di dalamnya tertulis iman ilahiah, membentang perjuangan anak-anak bangsa, kini telah melahirkan generasi unggul untuk terus mencipta kreasi tertib nurani cerdas mandiri. Dalam ranah tekno pascamodern membentuk citra kontemporer sepenuh jiwa menuju masa depan hipertekno maupun ilmu pengetahuan masa datang, untuk negeri bercita-cita unggul ini.

Karena itu, jangan memberi contoh watak koruptif kepada generasi kini. Itu sebabnya pula jika generasi jujur-adil-milenial kini, semisal, menegur para pemangku kepentingan, sesungguhnya, bagai seorang anak menyapa bapaknya, sebaiknya diterima, didengar, dilaksanakan, terutama perihal anti korupsi.

Ada kenangan masa kecil, melekat takkan terlupakan, membawa pesan moral sejak usia dini, saling menghormati sepanjang waktu, lagu ciptaan Ibu Soed, ‘Pergi Belajar’, lagu ini telah menjadi milik keindahan, kesantunan multi-generasi.

PERGI BELAJAR

(Lagu anak ciptaan Ibu Soed)

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi

Kupergi sekolah sampai kan nanti

Ibu dan ayah:

Selamat belajar nak penuh semangat

Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu sayangi teman

Itulah tandanya kau murid budiman

Ibu Soed, panggilan akrab dekat dengan dunia anak Indonesia, beliau bernama, Saridjah Niung (1908-1993) salah satu tokoh pergerakkan kemerdekaan Indonesia, ahli membatik (seniman batik), kain mori, canting bersama malam, adalah teman sepanjang hidupnya, dikenang sepanjang masa, sebagai Pahlawan Nasional-bidang pendidikan.

Jakarta Indonesia 2020

TULISAN INI DIMUAT DI MAJALAH SENI EDISI 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here